Sambut HUT RI, Kain Merah Putih 180 Meter Hiasi Dusun Sorogenen, Muntilan

Naila Nihayah • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 08:09 WIB
Bentangan kain merah putih menghiasi jalan di RT 6, Dusun Sorogenen, Menayu, Muntilan, Jumat (7/8).
Bentangan kain merah putih menghiasi jalan di RT 6, Dusun Sorogenen, Menayu, Muntilan, Jumat (7/8).

 

 

 

 

MUNGKID - Deretan kain merah putih membentang rapi sepanjang kurang lebih 180 meter di Dusun Sorogenen, Menayu, Muntilan. Kain tersebut dipasang untuk menyambut HUT ke-81 RI. Suasana kampung pun menjadi semarak dihiasi warna kebangsaan, lampu, serta pernak-pernik lainnya.

Di wilayah RT 6, bentangan kain merah putih yang disusun memanjang di atas jalan kampung menciptakan suasana khas, seolah membentuk lorong kemerdekaan. Warga pun sukarela memasang ornamen kemerdekaan tersebut.

Kepala Dusun Sorogenen, Heru Ashadi menjelaskan, pemasangan dekorasi tersebut berawal dari gagasan warga setempat. Mereka ingin menghadirkan suasana peringatan kemerdekaan yang lebih meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga: Bukan Sekadar APBD, Anggota DPRD DIY Soroti Pengolahan Sampah Butuh Terobosan Regulasi

 "Ide ini muncul dari warga sendiri. Kebetulan di RT 6 ada penjahit, jadi langsung dieksekusi. Dari situ berkembang jadi hiasan khas di masing-masing RT," kata Heru saat ditemui, Jumat (7/8).

Dia menjelaskan, seluruh wilayah dusun yang terdiri dari tiga RT memiliki konsep dekorasi yang berbeda. RT 6 mengusung tema bendera merah putih, sementara RT 8 menonjolkan hiasan lampu di sepanjang jalan.

Adapun RT 7 mengombinasikan lampu dan pernak-pernik hasil karya warga. "Semua sudah dibahas dalam musyawarah dusun. Jadi tiap RT punya ciri khas masing-masing," ujarnya.

Baca Juga: Targetkan Seribu Peserta, Sleman Temple Run Kesebelas Tawarkan Pemandangan Lima Candi

Khusus di RT 6, bentangan bendera yang mencapai lebih dari 180 meter tersebut merupakan hasil pengembangan dari dekorasi tahun sebelumnya. Selain model bergelombang yang sudah ada, warga menambahkan model lurus untuk memperkuat visual.

Heru mengatakan, proses pengerjaan dekorasi tersebut berlangsung sejak pertengahan Juli. Warga mulai menyiapkan bahan hingga menjahit bendera satu per satu, sebelum akhirnya dipasang secara bertahap hingga akhir Juli.

"Prosesnya berhari-hari. Bendera dijahit satu-satu, kemudian dipasang di atas dengan tambang. Warga naik turun untuk memasang," terangnya.

Baca Juga: TPST Wukirsari Gunungkidul Tinggal Tunggu Nokes, Lelang Ditarget Oktober

Dia menyebut, sekitar 20 hingga 30 warga terlibat setiap hari dalam proses pengerjaan, mulai dari menjahit hingga pemasangan. Seluruh kegiatan dilakukan secara gotong royong tanpa tenaga profesional. Pendanaan dekorasi, lanjut Heru, juga sepenuhnya berasal dari swadaya masyarakat.

Sistem iuran dilakukan secara sukarela dengan skema subsidi silang, menyesuaikan kemampuan ekonomi masing-masing warga.

"Yang ekonominya menengah biasanya iuran sekitar Rp 100 ribu, yang lebih mampu bisa sampai Rp 500 ribu. Total untuk yang di RT 6 ini sekitar Rp 4 juta sampai Rp 5 juta," bebernya.

Baca Juga: Belasan Tahun Tak Tuntas, Tim GTRA Kulon Progo Turun Tangan Selesaikan Sengketa Perbatasan Jangkaran

Meski sederhana, hasilnya mampu jauh lebih hidup. Pada malam hari, kata dia, cahaya lampu dari RT lain menambah suasana hangat, sementara siang hari lorong merah putih menjadi daya tarik tersendiri.

Heru menilai, kegiatan ini tidak hanya sekadar menghias kampung, tetapi juga memperkuat kebersamaan warga. Proses panjang yang melibatkan banyak orang menjadi ruang interaksi sosial yang semakin mempererat hubungan antarwarga.

 "Yang paling penting sebenarnya kebersamaannya. Warga jadi sering kumpul, kerja bareng, saling bantu," ucapnya. (aya/pra)

Editor : Heru Pratomo
Sorogenen kain merah putih Magelang hut ri muntilan