Warga Sambeng Geruduk Lokasi Tambang Pasir, Truk Pergi Penambangan Berhenti Sementara

Naila Nihayah • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 21:12 WIB
Sejumlah truk yang beroperasi mengangkut material pasir hasil tambang di tepi Sungai Progo berangsur pergi, Senin (3/8).
Sejumlah truk yang beroperasi mengangkut material pasir hasil tambang di tepi Sungai Progo berangsur pergi, Senin (3/8).

 



MUNGKID - Ratusan warga Sambeng, Borobudur menggeruduk lokasi penambangan pasir di tepi Sungai Progo, Senin (3/8). Mereka menuntut aktivitas penambangan dihentikan secara total karena dinilai telah menimbulkan dampak yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Warga dari berbagai kalangan usia itu berbondong-bondong mendatangi lokasi sekitar pukul 13.40. Sejumlah warga tampak menyuarakan keresahannya. Alhasil, perwakilan warga, pemerintah desa, pemerintah kecamatan, hingga polisi melakukan pertemuan singkat dengan pihak penambang.

Selang beberapa saat, pertemuan itu rampung dan disepakati bahwa aktivitas penambangan akan berhenti sampai waktu yang tidak ditentukan.

Baca Juga: Susunan Pemain Resmi Indonesia vs Vietnam ASEAN Championship 2026, Mitchell Baker Kembali Menjadi Pilihan Utama John Herdman

Warga pun bertahan di lokasi hingga truk pengangkut material terakhir keluar dari area tambang dan membubarkan diri sekitar pukul 16.00.

Koordinator Gema Pelita Sambeng, Umar mengutarakan, tuntutan utama warga adalah penghentian permanen aktivitas penambangan. Namun, dalam pertemuan dengan pihak penambang di lokasi, untuk sementara disepakati aktivitas dihentikan sambil menunggu tindak lanjut dari pihak perusahaan.

"Mulai hari ini (kemarin) penambang berhenti dulu. Tapi kemauan warga sebenarnya bukan hanya hari ini, melainkan untuk selamanya berhenti," ujarnya usai pertemuan.

Baca Juga: 11.099 Mahasiswa Baru UGM Ikuti Upacara Penerimaan, 1.101 di Antaranya Penerima KIP-K

Dalam pertemuan tersebut, kata dia, warga mempertanyakan proses sosialisasi dan perizinan yang diklaim telah dilakukan oleh pihak penambang. Menurut Umar, seluruh warga Desa Sambeng merasa tidak pernah dilibatkan atau menerima sosialisasi terkait aktivitas tersebut.

 "Kalau memang ada sosialisasi, silakan tunjukkan bukti-buktinya. Kalau ada nama warga Sambeng, nanti kita temukan dan klarifikasi bersama," katanya.

Saat disinggung soal klaim adanya izin dari pemerintah desa, Umar menyebut, belum dapat mengklarifikasi. Lantaran kondisi pemerintahan desa yang sebelumnya mengalami kekosongan kepemimpinan.

Baca Juga: ‎Bayi Laki-laki Ditemukan dalam Tas di Semak-semak Belakang Rumah Warga Semin Gunungkidul Hebohkan Warga

Selain itu, warga juga menyoroti tidak adanya kontribusi CSR kepada pemerintah desa. Bahkan, lanjut Umar, warga sudah menawarkan klarifikasi, tetapi tidak ada penjelasan dari pihak penambang. "Memang sejak awal warga menolak tambang, jadi tidak berharap ada CSR, yang diharapkan adalah tidak ada tambang," tegasnya.

Camat Borobudur, Subiyanto menuturkan, aktivitas penambangan untuk sementara dihentikan hingga ada pertemuan lanjutan yang melibatkan semua pihak. Setelah truk terakhir keluar, warga pun membubarkan diri. "Kepada manajemen kami sampaikan agar tidak beroperasi dulu sampai ada pembicaraan lebih lanjut," lontarnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Anaba, Baim menegaskan, kegiatan penambangan yang dilakukan merupakan aktivitas yang telah mengantongi izin resmi dan berada di kawasan yang sesuai dengan tata ruang pertambangan.

Baca Juga: Siswa Sekolah Rakyat Kulon Progo Jalani Cek Kesehatan dan Tes Kebugaran Saat MPLAS

Dia menilai, penolakan warga dipicu oleh kesalahpahaman terkait status sungai dan mekanisme penghentian tambang. "Tambang ini berizin dan berada di wilayah pertambangan. Sungai merupakan milik negara, bukan milik perorangan atau kelompok," terangnya.

Dia menambahkan, aksi yang dilakukan warga juga tidak melalui prosedur resmi dan berpotensi menimbulkan konflik di lapangan.

Karena itu, pihak perusahaan memilih menghentikan sementara aktivitas guna menghindari gesekan.
"Hari ini kami hentikan aktivitas agar tidak terjadi benturan antara warga dan pekerja," sambungnya. (aya/pra)

 

Editor : Heru Pratomo
Borobudur Tambang Pasir Magelang Penambangan Sambeng