Manfaatkan Endapan Erupsi Gunung Merapi, Bawang Merah Tailan-Nganjuk Dongkrak Produktivitas Petani Ngrajek

Naila Nihayah • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 09:10 WIB
Petani mulai memanen bawang merah varietas Tajuk.
Petani mulai memanen bawang merah varietas Tajuk.

 



MUNGKID - Petani di Dusun Ngemplak, Ngrajek, Mungkid memanfaatkan lahan bekas endapan erupsi Gunung Merapi melalui budi daya bawang merah varietas Tailan-Nganjuk (Tajuk). Pascaerupsi 2010 silam, para petani mencoba berbagai alternatif komoditas. Lantas bawang merah menjadi pilihan dan menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpangan) Kabupaten Magelang Puji Lestari mengutarakan, inisiatif petani tersebut menjadi contoh adaptasi terhadap perubahan kondisi lahan.

 "Lahan yang sebelumnya tertutup pasir erupsi Merapi kurang optimal untuk padi, lalu mencoba bawang merah dan ternyata bagus," ujarnya di sela panen raya, Senin (27/7).

Baca Juga: Ada Praktik Privatisasi Plang Jalan Malioboro dengan Foto Berbayar Rp 5 Ribu, Dipar DIY Akan Bina Fotografer

Dia menyebut, varietas Tajuk yang dibudidayakan memiliki sejumlah keunggulan. Selain produktivitas yang tinggi, ukuran umbi relatif besar, warna lebih cerah, serta daya simpan yang lebih baik. Karakteristik ini membuat hasil panen lebih mudah diserap pasar dengan nilai jual yang kompetitif.

Puji menuturkan, dinas masih melakukan analisis menyeluruh terkait kelayakan ekonomi dan keberlanjutan komoditas tersebut. "Kami evaluasi dulu, apakah benar-benar signifikan meningkatkan pendapatan petani. Kalau hasilnya positif, dukungan akan kita lakukan lebih luas," katanya.

Ketua Kelompok Tani Suka Makmur, Muhammad Makmun menyebut, biaya produksi saat ini masih cukup tinggi, terutama untuk pengadaan bibit. Harga bibit varietas Tajuk yang didatangkan dari Jawa Timur mencapai sekitar Rp 70 ribu per kilogram (kg).

Baca Juga: 72 Calon Paskibra Bantul 2026 Jalani Pemusatan Latihan, Tak Sekadar Kibarkan Merah Putih tapi Didorong Jadi Pemimpin

Untuk lahan 1.000 meter persegi saja, kata dia, kebutuhan bibit bisa mencapai 80-90 kg, belum termasuk biaya tenaga kerja dan perawatan. "Bibit masih mahal, itu yang cukup memberatkan petani," paparnya.

Selain itu, risiko budi daya juga masih terasa. Dari empat kali siklus tanam yang telah dilakukan, petani sempat mengalami satu kali gagal panen. Kondisi ini membuat pemerintah daerah belum sepenuhnya mendorong ekspansi secara besar-besaran.

Bupati Magelang Grengseng Pamuji melihat, pengembangan bawang merah di Ngrajek sebagai bagian dari strategi diversifikasi pertanian. Dia menilai, langkah petani yang berani beralih komoditas patut diapresiasi, meskipun masih dalam tahap uji coba.

Baca Juga: BPKAD Kota Jogja Kejar Layanan Jemput Bola untuk Penuhi Target PAD Rp 989 Miliar

"Ini produktivitas baru bagi warga. Kita tidak bisa gegabah, harus dihitung betul dari sisi ekonomi, lahan, dan iklimnya," sebutnya.

Menurut dia, pola tanam bawang merah juga memberikan manfaat tambahan, yakni membantu memutus siklus hama dan penyakit pada tanaman padi. Dengan begitu, rotasi tanaman menjadi lebih sehat dan berkelanjutan.

Baca Juga: ‎Usai Dilaporkan WALHI, Pemkab Gunungkidul Mulai Cermati Dugaan Pelanggaran 13 Industri Wisata

Secara umum, Grengseng menyebut, luas tanaman bawang merah di Kabupaten Magelang saat ini mencapai sekitar 225 hektare. Selama ini, sentra produksi lebih banyak berada di wilayah dataran tinggi seperti Kajoran, Kaliangkrik, Windusari, Pakis, dan Sawangan.

Selain dijual dalam bentuk segar, sebagian hasil panen juga mulai diolah menjadi produk makanan kering kemasan. Produk ini telah dipasarkan ke sejumlah daerah, membuka peluang nilai tambah bagi petani. (aya)

Editor : Heru Pratomo
magelang 2018 nganjuk Ngrajek erupsi Gunung Merapi tailan