KEBUMEN - Kalangan budayawan merespon positif penyematan nama Jaka Sangkrip pada nama Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon TP) di Kebumen. Penggunaan nama tersebut dinilai sebagai langkah tepat untuk menghormati jasa tokoh terdahulu sekaligus upaya memperkuat identitas daerah.
Ketua Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kebumen Basikun Mualim mengatakan, penamaan satuan militer dengan mengambil nama tokoh besar tentu akan memberikan makna historis dan edukatif.
Langkah ini juga menjadi bentuk penegasan bahwa aspek pembangunan pertahanan nasional dapat berjalan selaras dengan pelestarian warisan budaya daerah.
"Kami menyambut baik. TNI tetap memperhatikan khasanah kearifan lokal," ucapnya kepada Radar Jogja, Senin (20/7).
Seperti diketahui, markas Yon TP di Kebumen sedang proses pembangunan di wilayah perbatasan antara Kecamatan Buayan dan Kecamatan Rowokele. Batalyon tersebut kini telah memiliki nama, yakni Yon TP 440 Satria Jaka Sangkrip (SJS).
Satuan militer TNI AD yang memiliki fungsi pertahanan dan pembinaan teritorial ini merupakan satu dari 40 batalyon yang dibentuk di wilayah Kodam IV Diponegoro.
Dia menerangkan, tokoh Jaka Sangkrip sudah begitu dikenal masyarakat Kebumen. Sosok tersebut selama ini menjadi simbol keberanian dan pengabdian dalam menjaga tanah air.
DKD berharap penamaan tersebut seyogyanya tidak hanya berhenti pada aspek simbolik semata, namun tetap diikuti pada nilai keteladanan Jaka Sangkrip.
DKD juga mendorong TNI turut mengenalkan sejarah Jaka Sangkrip sebagai bagian dari identitas budaya Kebumen. Terutama memberikan edukasi kepada prajurit agar memahami makna di balik penamaan tersebut.
Dengan begitu, keberadaan Yon TP dengan nama Jaka Sangkrip menjadi media pelestarian sejarah sekaligus kebanggaan TNI. "Penamaan Yon TP ini sebagai penguat rasa bangga, sehingga warisan para leluhur terus hidup dan menginspirasi," katanya.
Budayawan Kebumen Arif Priyantoro mengatakan, penyematan nama Jaka Sangkrip sebagai nama batalyon TNI di Kebumen sudah sangat relevan. Nama tersebut menurutnya memiliki akar sejarah yang lekat dengan sejarah berdirinya Kabupaten Kebumen. "Joko Sangkrip itu sosok keprajuritan pada saat penumpasan pemberontakan di wilayah Banyumas," katanya.
Dia menerangkan, Joko Sangkrip sendiri merupakan nama kecil dari Arungbinang I. Di mana sosok tersebut kemudian melahirkan banyak tokoh besar dalam perjalanan sejarah Kebumen, salah satunya Arungbinang IV sebagai Bupati Kebumen yang memerintah di era kolonial Belanda.
Arif menyebutkan, dalam catatan sejarah Jaka Sangkrip memiliki beberapa gelar dan nama lain. Di antaranya ketika masih remaja bernama Surowijiyo. Kemudian mengabdikan dirinya di Kasunanan Surakarta dan mendapat gelar Honggowongso pada saat menjabat Mantri Gladak.
Singkat cerita, setelah dinilai mampu mengemban tugas dari kerajaan, Jaka Sangkrip kemudian diberi gelar Arungbinang I. "Secara historis sangat tepat, tidak meninggakan jejak sejarah dari Kebumen itu sendiri," ungkapnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo