MUNGKID - Penataan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Lapangan Drh Soepardi, Sawitan mulai dilakukan dengan pembangunan puluhan lapak semipermanen. Penataan ini ditujukan untuk merapikan aktivitas pedagang yang selama ini tersebar di area lapangan, sekaligus meningkatkan kenyamanan ruang publik.
Sebanyak 36 lapak disiapkan bagi pedagang yang tergabung dalam Paguyuban PKL Barokah. Lapak tersebut akan menjadi lokasi berjualan baru yang lebih tertata. Karena saat ini, pedagang masih menempati area secara tidak seragam.
Baca Juga: Angkat Potensi 21 Kecamatan lewat Kirab Gunungan, Ketep Summit Fest 2026 Dongkrak Kunjungan Wisata
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magelang Nanang Triagung Edi menuturkan, kegiatan ini merupakan bagian dari penataan menyeluruh kawasan Lapangan Drh Soepardi sebagai ruang terbuka hijau sekaligus wajah kota. Selain aspek estetika, penataan juga menyasar keteraturan aktivitas ekonomi di dalamnya.
Dia menyebut, pembangunan ditargetkan rampung sebelum peringatan 17 Agustus. Sehingga, kawasan lapangan diharapkan sudah dalam kondisi lebih tertib dan representatif saat momentum tersebut.
Selama ini, keberadaan PKL di kawasan tersebut menjadi bagian penting dari pergerakan ekonomi masyarakat, namun di sisi lain memunculkan persoalan penataan, kebersihan, dan keteraturan. "Lapangan harus tetap nyaman untuk olahraga, rekreasi, sekaligus memberi ruang bagi aktivitas ekonomi," ujarnya Minggu (19/7).
Baca Juga: Wisatawan Yang Berkunjung ke DIY Tembus 3 Juta Kunjungan, Ini Tempat Wisata Yang Banyak Diminati
Dia menambahkan, pembangunan lapak dibiayai melalui dana tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) dari sejumlah mitra. Skema ini menjadi alternatif pembiayaan di luar APBD, sekaligus menunjukkan keterlibatan sektor swasta dalam penataan kawasan publik.
Ketua Paguyuban PKL Barokah, Suhardi menyebut, para pedagang telah lama menunggu kepastian penataan tersebut. Dia menilai, keberadaan lapak permanen akan memberi kepastian usaha sekaligus meningkatkan kenyamanan bagi pembeli.
"Dengan lapak yang jelas, pedagang bisa lebih tertib dan pembeli juga lebih nyaman. Harapannya usaha kami bisa lebih berkembang," terangnya.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji menilai, penataan ini tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Dia menyebut, kolaborasi dengan mitra TJSL menjadi satu kunci percepatan penataan tanpa membebani anggaran daerah.
Selain itu, dia mengingatkan, keberhasilan penataan tidak berhenti pada pembangunan fisik. Disiplin pedagang dalam menjaga kebersihan dan ketertiban menjadi faktor penentu keberlanjutan program tersebut. "Kalau fasilitas sudah disiapkan, yang menentukan berhasil atau tidak adalah bagaimana kita bersama menjaganya," sebutnya. (aya/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita