KEBUMEN - Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kaligending, Karangsembung, Kebumen mulai ditata ulang. Titik area tumpukan sampah sedang dilakukan penutupan menggunakan membran khusus agar mengurangi dampak dari krisis ekologi.
Pantauan di sekitar TPA, dua alat berat tampak beroperasi menata ulang zona aktif tumpukan sampah. Ini sebelum gunungan sampah ditutup pakai geomembran. Tindakan ini dilakukan supaya potensi pencemaran lingkungan dapat ditekan akibat gunungan sampah terbuka.
Dari zona aktif tersebut, pembuangan sampah baru akan dialihkan ke titik lain yang masih tersedia. "Sistemnya ditutup lapisan. Buat cegah bau, pas hujan airnya juga tidak langsung meresap ke sampah," kata salah satu petugas di lokasi TPA, Senin (6/7).
Warga setempat Joko Witoyo menyambut baik penataan ulang area sampah di TPA Kaligending. Dia berharap langkah tersebut mampu memperbaiki kualitas lingkungan di Desa Kaligending. Upaya tersebut juga diminta bukan hanya bersifat sementara, tetapi perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan memperhatikan aspek kenyamaan warga.
"Dari dulu, warga sini minta diperhatikan. Setiap hari harus mencium bau sampah," katanya.
Pria 44 tahun itu mengaku, sebagian besar warga di dekat TPA kerap terganggu dengan bau menyengat yang bersumber dari area pembuangan sampah. Atas kondisi ini warga hanya bisa pasrah sembari menunggu langkah konkret dari pemerintah.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Sudah Terapkan Disiplin Semi Militer, Dinsos DIY Belum Sikapi Wacana Pelibatan Taruna
Warga juga mengaku sudah bertahun-tahun tidak merasakan kompensasi pemerintah atas dampak yang dirasakan. "Sampah dari mana-mana, kami yang nanggung baunya. Sekarang mimpinya bisa menghirup udara segar lagi," bebernya.
Warga lain Lili Sunarsih mengatakan, polusi yang ditimbulkan dari aktivitas TPA sejauh ini cukup mengganggu. Tak jarang warga juga merasakan mual akibat bau menyengat dari tumlukan sampah. Ia menaruh harapan penataan ulang area sampah dapat menjadi solusi agar warga hidup tanpa ancaman polusi sampah.
"Pas angin besar, langsung bau minta ampun. Biasanya habis Maghrib siap-siap merasakan bau," ungkap perempuan 37 tahun itu.
Ia juga meminta dilakukan optimalisasi pengolahan sampah dari hulu ke hilir. Dengan begitu, tumpukan sampah di TPA tidak lagi menjadi ancaman bagi warga setempat.
Selain itu menurutnya juga perlu adanya upaya terkait pemanfaatan gas metana yang dihasilkan dari sampah TPA Kaligending. "Rumah saya paling jarak ratusan meter dari TPA. Kadang baunya tidak tahan," tuturnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo