Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

TPA Kaligending Kebumen Ditutup dengan Geomembran, Warga Berharap Bau Tiap Habis Maghrib Segera Berhenti

Muhammad Hafied • Selasa, 7 Juli 2026 | 07:08 WIB

 

Dua alat sedang berperasi untuk penataan zona aktif sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kaligending. (M Hafied/Radar Jogja)
Dua alat sedang berperasi untuk penataan zona aktif sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kaligending. (M Hafied/Radar Jogja)

 



 

 

KEBUMEN - Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kaligending, Karangsembung, Kebumen mulai ditata ulang. Titik area tumpukan sampah sedang dilakukan penutupan menggunakan membran khusus agar mengurangi dampak dari krisis ekologi.

Pantauan di sekitar TPA, dua alat berat tampak beroperasi menata ulang zona aktif tumpukan sampah. Ini sebelum gunungan sampah ditutup pakai geomembran. Tindakan ini dilakukan supaya potensi pencemaran lingkungan dapat ditekan akibat gunungan sampah terbuka.

 Dari zona aktif tersebut, pembuangan sampah baru akan dialihkan ke titik lain yang masih tersedia. "Sistemnya ditutup lapisan. Buat cegah bau, pas hujan airnya juga tidak langsung meresap ke sampah," kata salah satu petugas di lokasi TPA, Senin (6/7).

Baca Juga: Korban Laka Laut di Pantai Gua Cemara Ditemukan Meninggal Dunia di Pantai Bugel Sejauh 13 Kilometer dari Lokasi Awal

Warga setempat Joko Witoyo menyambut baik penataan ulang area sampah di TPA Kaligending. Dia berharap langkah tersebut mampu memperbaiki kualitas lingkungan di Desa Kaligending. Upaya tersebut juga diminta bukan hanya bersifat sementara, tetapi perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan memperhatikan aspek kenyamaan warga.

"Dari dulu, warga sini minta diperhatikan. Setiap hari harus mencium bau sampah," katanya.

Pria 44 tahun itu mengaku, sebagian besar warga di dekat TPA kerap terganggu dengan bau menyengat yang bersumber dari area pembuangan sampah. Atas kondisi ini warga hanya bisa pasrah sembari menunggu langkah konkret dari pemerintah.

Baca Juga: Sekolah Rakyat Sudah Terapkan Disiplin Semi Militer, Dinsos DIY Belum Sikapi Wacana Pelibatan Taruna

Warga juga mengaku sudah bertahun-tahun tidak merasakan kompensasi pemerintah atas dampak yang dirasakan. "Sampah dari mana-mana, kami yang nanggung baunya. Sekarang mimpinya bisa menghirup udara segar lagi," bebernya.

Warga lain Lili Sunarsih mengatakan, polusi yang ditimbulkan dari aktivitas TPA sejauh ini cukup mengganggu. Tak jarang warga juga merasakan mual akibat bau menyengat dari tumlukan sampah. Ia menaruh harapan penataan ulang area sampah dapat menjadi solusi agar warga hidup tanpa ancaman polusi sampah.

"Pas angin besar, langsung bau minta ampun. Biasanya habis Maghrib siap-siap merasakan bau," ungkap perempuan 37 tahun itu.

Baca Juga: Tujuh Bulan Hilang, Warga Minta Kades Sambeng Dipecat jika Tidak Ancam Geruduk Kantor Bupati Magelang

Ia juga meminta dilakukan optimalisasi pengolahan sampah dari hulu ke hilir. Dengan begitu, tumpukan sampah di TPA tidak lagi menjadi ancaman bagi warga setempat.

Selain itu menurutnya juga perlu adanya upaya terkait pemanfaatan gas metana yang dihasilkan dari sampah TPA Kaligending. "Rumah saya paling jarak ratusan meter dari TPA. Kadang baunya tidak tahan," tuturnya. (fid/pra)

 

Editor : Heru Pratomo
#habis magrib #TPA Kaligending #kebumen #Geomembran #Sampah