Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpangan) Kabupaten Magelang Romza Ernawan menyebut, luas tanam tembakau yang sebelum 2021 masih berkisar hampir 6.000 hektare. Penyusutan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Melainkan dipengaruhi kombinasi faktor lingkungan dan ekonomi yang terus berulang setiap musim tanam.
"Ini membuat petani menghadapi risiko yang semakin tinggi," ujarnya saat press conference di Hotel Atria, Rabu (17/6/2026).
Baca Juga: Gaji Ke-13 PPPK Paruh Waktu di Kota Jogja Dicicil, PNS Diminta Tidak Pamer di Sosial Media
Menurut dia, selain faktor iklim, persoalan tata niaga dan harga juga menjadi pertimbangan utama petani. Harga tembakau dinilai tidak selalu stabil dan kerap kalah kompetitif dibandingkan komoditas lain seperti cabai dan tanaman hortikultura.
Kondisi tersebut, kata dia, mendorong petani untuk lebih rasional dalam menentukan pilihan tanam. Mereka mulai beralih ke komoditas yang memiliki potensi pasar lebih jelas dan pendapatan yang relatif stabil.
Romza mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir, distanpangan aktif mendorong diversifikasi tanaman dengan memperkenalkan alternatif seperti kopi, tanaman rempah, hingga ubi-ubian.
"Ini bukan sekadar pengalihan, tetapi memberi opsi yang bisa memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani," bebernya.
Baca Juga: Pemkot Magelang Kejar Solusi Jaga Stabilitas Daging Sapi Tanggapi soal Rencana Mogok Pedagang
Dia mencontohkan, di Kecamatan Windusari, lebih dari separuh petani telah beralih dari tembakau ke komoditas lain, terutama kopi dan hortikultura. Perubahan serupa juga mulai terlihat di Kabupaten Temanggung, meski sebagian petani masih menerapkan pola tanam campuran atau diversifikasi.
Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) melakukan kajian terhadap pola perubahan tersebut. Sebab persoalan petani tembakau tidak semata soal pilihan komoditas, tetapi juga berkaitan dengan struktur industri yang selama ini membentuk ketergantungan.
Ketua MTCC Unimma, Retno Rusdjijati menilai, petani tembakau selama ini berada pada posisi rentan. Mereka kerap dijadikan bagian dari narasi industri, namun tidak selalu memperoleh kesejahteraan yang sepadan.
"Petani tembakau sering dijadikan tameng industri, tetapi dalam praktiknya mereka tetap menghadapi ketidakpastian pendapatan," ujarnya.
Baca Juga: Kurs Dolar Fluktuatif dan Bergejolak, Pemprov DIY Mulai Petakan Proyek yang Berisiko Terdampak
Melalui kajian tersebut, MTCC menemukan sejumlah persoalan mendasar yang dihadapi petani. Mulai dari fluktuasi harga, meningkatnya biaya produksi, perubahan iklim, hingga keterbatasan akses pasar.
Ketergantungan pada satu komoditas juga dinilai memperbesar risiko ekonomi rumah tangga petani.
Hasil kajian ini kemudian dirumuskan dalam bentuk policy paper yang ditujukan sebagai bahan pertimbangan pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pertanian ke depan.
Selain itu, MTCC juga menyusun berbagai produk pengetahuan seperti infografis, video dokumenter, dan podcast untuk memperluas pemahaman publik. (aya/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita