Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mayoritas Perempuan, Sebanyak 8.116 Warga Kebumen Menggatungkan Hidup di Luar Negeri: Jadi Catatan Positif

Muhammad Hafied • Senin, 15 Juni 2026 | 20:15 WIB
Foto: Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kebumen Cokro Aminoto. (M Hafied/Radar Jogja)
Foto: Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kebumen Cokro Aminoto. (M Hafied/Radar Jogja)

KEBUMEN - Kabupaten Kebumen masuk dalam daftar 10 besar penyumbang Pekerja Migran Indonesia (PMI) terbanyak se Jawa Tengah. Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kebumen mencatat, selama tiga tahun terakhir jumlah penempatan PMI asal Kebumen di luar negeri mencapai 8.116 orang.

Kepala Disnaker Cokro Aminoto mengatakan, berdasar data terbaru Kebumen menempati peringkat ke delapan penyumbang pekerja migran terbanyak di Jawa Tengah.

Sedangakan secara nasional berada di urutan ke 30 terbanyak. Menurutnya dengan posisi tersebut, Kabupaten Kebumen memiliki potensi besar dalam mendukung perekonomian nasional lewat sektor pekerja migran.

"Mereka tersebar di berbagai negara. Kalau dihitung angkanya, 70 persen mayoritas perempuan," ucapnya kepada Radar Jogja, Senin (15/6/2026).

Baca Juga: Pemerintah Kalurahan Tepus Gunungkidul Bentuk Tim Khusus, Tangani Pungli Ramai-Ramai di Kawasan Pantai Watulawang

Cokro menyatakan, banyaknya pekerja migran asal Kebumen tentu menjadi catatan positif. Selain berdampak langsung terhadap peningkatan kesejateraan keluarga, pekerja migran juga otomatis menghasilkan devisa bagi negara.

Merujuk data Disnaker, penempatan pekerja migran asal Kebumen pada tahun 2025 mencapai 2.237 orang. Lalu, di tahun 2024 memberangkatkan 2.650 orang dan tahun 2023 sebanyak 3.229 orang. "Posisi Jateng, kami masuk delapan besar," sambungnya.

Meski terbilang banyak, Cokro mengungkapkan masih terdapat persoalan yang perlu menjadi perhatian. Salah satunya masih maraknya kasus kekerasan dan ekslpoitasi yang dialami pekerja migran saat bekerja di luar negeri.

Baca Juga: Serukan Kritik ke Pemerintah, Ratusan Mahasiswa UII Long March dari Malioboro ke Titik Nol: Tuntut Harga BBM Turun, Hentikan MBG

Terbaru, pada pekan ini Disnaker bersama lintas sektor berhasil memulangkan jenazah pekerja migran yang meninggal akibat kasus kekerasan.

Maraknya kasus, kata Cokro, menunjukkan perlindungan terhadap pekerja migran harus diperkuat. Dia memastikan Disnaker tidak lepas tangan atas munculnua kasus yang menyangkut pekerja migran.

"Satu sisi kami bangga, tapi ada yang menyayat hati karena masih terjadi kasus," bebernya.

Baca Juga: 13 Sekolah Dasar Nihil Pendaftar, Total 414 SD di Gunungkidul Kekurangan Murid

Ketua Migran Care Kebumen Saiful Anas menyatakan, mestinya dinas tidak berbangga hati melihat data banyaknya jumlah pekerja migran yang bekerja di luar negeri. Justru yang terpenting baginya, dinas atau pemerintah daerah perlu memastikan perlindungan pekerja migran.

Atas hal tersebut pihaknya juga sedang mendorong DPRD Kebumen segera mengesahkan peraturan daerah yang khusus mengatur perlindungan pekerja migran.

"Fokus dinas yang paling penting itu menjamin perlindungan mereka, bukan cuma fokus penempatan saja," ujarnya.

Baca Juga: Kasus Kebakaran di Kota Jogja Cenderung Turun, Namun Masyarakat Tetap Diminta Waspada

Dia menyebut, negara tujuan pekerja migran asal Kebumen paling banyak diminati seperti Tiongkok, Singapura dan Malaysia. Namun, beberapa tahun terakhir tidak sedikit pekerja migran memilih Korea Selatan, Korea Utara dan Jepang sebagai negara tujuan.

"Negara tujuan itu merata, tapi paling banyak diminati dataran Cina," ungkapnya. (fid)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#peringkat delapan #hidup di luar negeri #kebumen #perekonomian nasional #pekerja migran Indonesia (PMI)