Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jalan Sunyi Dwi Waluyo, 11 Tahun Menangani ODGJ di Kebumen; Sering Dapat Bogem Mentah, Cita-Cita Dirikan Yayasan

Adib Lazwar Irkhami • Selasa, 9 Juni 2026 | 20:05 WIB
PANGGILAN HATI: Dwi Waluyo, 45, tak canggung saat proses evakuasi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). (Dok. Pribadi)
PANGGILAN HATI: Dwi Waluyo, 45, tak canggung saat proses evakuasi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). (Dok. Pribadi)

 

RADAR JOGJA - Satu dekade sudah Dwi Waluyo dekat dengan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Selama itu juga dia bekerja tanpa sorotan kamera. Semua dilakukan atas panggilan hati, tanpa haus tepuk tangan. Pun, selama ini tak ada panggung penghargaan bagi dirinya karena semua murni dicurahkan sebagai jalan pengabdian.

 

Di saat mayoritas orang memilih jauh dari ODGJ, langkah Dwi Waluyo justru mendekat. Dia memantapkan diri sebagai Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM). Tugasnya tak lain mengurusi ODGJ yang butuh perhatian. Dia begitu sabar menemani orang dengan disabilitas mental, mulai dari upaya evakuasi hingga menjalani perawatan medis.

Baca Juga: 50 Kg Sampah Plastik Disulap KSM Pilah Berkah Imogiri Jadi 45 Liter Petasol


Bagi Dwi, ODGJ bukan untuk dijauhi apalagi disakiti. Mereka sejatinya butuh teman agar kembali seperti sediakala. Peran inilah yang ditempuhnya selama bertahun-tahun lamanya. "Kalau dihitung materi, mungkin sudah lama saya mundur. Bukan itu tujuannya," ungkapnya saat ditemui Radar Jogja, Selasa (9/6/2026).


Di balik kesibukan sebagai koordinator Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kabupaten Kebumen, Dwi dengan sepenuh hati menjalani pengabdian tersebut. Tak ada rasa malu, apalagi canggung. Dia memilih jalan sunyi yang tidak banyak diminati orang.

Baca Juga: Mohon Musibah Bisa Segera Selesai, Pemilik Rumah Api Seyegan Sleman Akan Gelar Doa Bersama


Selama lebih dari 10 tahun, ia bercengkerama dengan ODGJ. Angka itu bukan sekadar statistik. Di balik setiap penanganan selalu ada kisah. Suka dan duka berjalan beriringan dalam setiap perjuangannya 'ngopeni' ODGJ. 


Jalan yang ditempuh bukan tanpa risiko, bahkan dia kerap mempertaruhkan waktu dan keselamatan dirinya. "Dari tahun 2015 mulai aktif. Jemput ODGJ untuk dibawa ke rumah sakit. Setelah itu pantau perkembangan kejiwaannya," ucapnya.


Tak sedikit proses evakuasi ODGJ berujung ketegangan. Pria asal Desa Banjarwinangun, Kecamatan Petanahan ini bahkan kerap mendapat konsekuensi berupa bogem mentah saat penanganan ODGJ. Meski begitu, perlakuan yang diterima bukan menjadi satu penghalang.

Baca Juga: Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas hingga Dua Kilometer, BPPTKG Minta Masyarakat Waspada


Menurut Dwi, menghadapi ODGJ tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Dibutuhkan pendekatan khusus, terlebih ketika ODGJ itu kedapatan membawa senjata tajam. Dalam setiap proses penanganan, bapak dari anak empat itu tidak bekerja sendiri. Pria 45 tahun itu selalu berkolaborasi dengan tim yang terdiri dari unsur kepolisian, TNI, puskesmas dan pemerintah desa setempat. 


"Pasti ada dramanya. Awal-awal sering diajak berantem, dipukul juga sering. Kuncinya paham karakter orangnya," bebernya.


Kini, selain tetap aktif mendampingi masyarakat di bidang sosial, Dwi juga mendapat kepercayaan terlibat aktif dalam program Sekolah Rakyat. Dia dipercaya sebagai wali asuh Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 44 Kebumen. Di tengah beban tugas dan tantangan yang dihadapi, ia tetap melangkah di jalan sunyinya.

Baca Juga: Dituduh Mencuri di Pasar Muntilan, Seorang WNA Asal Iran Babak Belur Diamuk Massa


Jalan yang mungkin tidak menjanjikan kemewahan. Namun dari jalan itulah puluhan, bahkan ratusan orang yang sebelumnya terpinggirkan kini mendapat kesempatan kembali menemukan harapan baru. "Tidak pernah saya hitung berapa, mungkin jumlahnya sudah 100 orang lebih dapat penanganan," ungkapnya.

Baca Juga: Orang Tua Korban Daycare Little Aresha Desak Penambahan Tersangka, Polisi: 17 Orang Masih Berstatus Saksi Wajib Lapor 


Ke depan, Dwi memiliki mimpi lebih besar. Setelah 11 tahun berkecimpung dalam penanganan ODGJ, dia ingin membangun sebuah shelter atau rumah singgah bagi penyandang disabilitas mental dan ODGJ yang membutuhkan pendampingan.

Bahkan dia bercita-cita mendirikan yayasan yang fokus bergerak dalam penanganan disabilitas mental. (fid/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#SEPENUH HATI #ODGJ #evakuasi #Disabilitas