MUNGKID - Duta Besar (Dubes) Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone berkunjung ke Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan, Kabupaten Magelang, Sabtu (6/6). Kunjungan tersebut menjadi upaya untuk memperkuat kerja sama Indonesia dan Prancis di bidang sains dan penelitian. Khususnya vulkanologi dan mitigasi bencana geologi.
Saat tiba, Fabien beserta rombongan sempat melihat keindahan Gunung Merapi. Mereka sempat mengabadikan momen tersebut dengan berfoto dengan latar belakang gagahnya Gunung Merapi. Selain itu, mereka juga sempat masuk ke dalam bunker atau tempat persembunyian saat terjadi erupsi.
Fabien mengutarakan, hubungan bilateral antara Prancis dan Indonesia telah lama terjalin erat dalam riset kebumian, termasuk pengamatan gunung api. Kehadirannya di Gunung Merapi untuk melihat langsung implementasi kerja sama tersebut di lapangan.
Baca Juga: Hasil Penjangkauan Siswa Sekolah Rakyat, Jenjang SD Minim Peminat Gegara Sistem Boarding School
"Kami memiliki kerja sama yang sudah berlangsung lama dalam bidang vulkanologi dan penting bagi kami untuk melihat langsung kolaborasi ini," ujarnya usai kunjungan.
Dia menambahkan, kunjungan ini juga merupakan tindak lanjut dari kesepakatan strategis antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam kunjungan kenegaraan sebelumnya. Dalam pertemuan itu, kedua negara sepakat memperkuat kemitraan di sektor pendidikan, penelitian, dan mobilitas ilmiah sebagai prioritas kerja sama bilateral.
Di hadapan lanskap Gunung Merapi yang tampak jelas dari Pos Babadan, Fabien mengaku kagum terhadap salah satu gunung api paling aktif di dunia tersebut. Terlebih, kata dia, Merapi sangat terkenal di seluruh dunia.
Baca Juga: Hasil Penjangkauan Siswa Sekolah Rakyat, Jenjang SD Minim Peminat Gegara Sistem Boarding School
"Ini lokasi yang indah dan sangat mengesankan. Saya sangat senang bisa berada di sini," bebernya.
Dalam kesempatan itu, dia juga meninjau bunker perlindungan yang berada di kawasan tersebut sebagai bagian dari sistem mitigasi bencana. Menurutnya, fasilitas tersebut menjadi salah satu bentuk kesiapsiagaan menghadapi aktivitas vulkanik.
Sementara itu, CEO Institut de Recherche pour le Développement (IRD) Valérie Verdier menegaskan, kerja sama dengan Indonesia. Khususnya dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), akan terus diperkuat.
Dia mengatakan, IRD dan mitra di Indonesia telah menjalin kolaborasi sejak lama. Termasuk investasi dalam peralatan pemantauan dan pemodelan aktivitas Merapi sejak 2010.
Baca Juga: TPS3R dan Bank Sampah Didorong Mengolah Limbah Sisa MBG
"Fokusnya tidak hanya pada penelitian, tetapi juga bagaimana hasil riset ini dapat memberikan informasi yang lebih baik kepada masyarakat dan meningkatkan perlindungan terhadap risiko bencana," jelasnya.
Valérie menyebut, ketertarikan ilmuwan Prancis terhadap gunung api tidak lepas dari sejarah panjang vulkanologi di negara tersebut, serta keberadaan gunung api di wilayah Prancis. Indonesia, dengan jumlah gunung api aktif yang besar, menjadi laboratorium alam yang sangat penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan global.
"Kami belajar banyak dari Indonesia, dan kolaborasi ini memberikan manfaat besar bagi kedua pihak dalam memahami dinamika gunung api," sambungnya.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati menyebut, kerja sama Indonesia-Prancis di bidang kebencanaan geologi telah berlangsung selama sekitar 50 tahun. Kunjungan Dubes Prancis ke Merapi menjadi bagian dari peringatan sekaligus penguatan kemitraan tersebut.
Baca Juga: TPS3R dan Bank Sampah Didorong Mengolah Limbah Sisa MBG
"Sejak lama kita bekerja sama dalam pengembangan ilmu gunung api dan kebencanaan geologi. Ini momentum penting untuk memperkuat kolaborasi yang sudah ada," bebernya.
Merapi dipilih sebagai lokasi kunjungan karena karakteristiknya yang aktif dan mudah diakses dibandingkan gunung api lain di Indonesia. Selain itu, Merapi juga memiliki sistem pemantauan yang lengkap serta data historis yang sangat kaya.
Menurut Rita, kolaborasi ini memiliki nilai strategis dalam mempercepat proses pengambilan keputusan saat terjadi aktivitas vulkanik. Indonesia memiliki keunggulan dari sisi data dan laboratorium alam, sementara Prancis dikenal memiliki banyak ahli vulkanologi.
"Tantangannya adalah bagaimana mengolah data tersebut menjadi informasi yang cepat dan akurat untuk keselamatan masyarakat. Di sinilah kerja sama ini menjadi penting," jelasnya.
Dia menambahkan, transfer pengetahuan dari hasil riset ilmiah ke dalam aplikasi operasional menjadi kunci dalam sistem mitigasi bencana. Dengan dukungan teknologi dan keahlian dari kedua negara, diharapkan respons terhadap potensi bencana dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. (aya)
Editor : Heru Pratomo