KEBUMEN - Keberadaan Kampung Sapi Peranakan Ongole (PO) di Desa Sitiadi, Kecamatan Puring tampaknya belum mendapat ruang di hati pemerintah daerah. Terbukti, pengelolaan wahana edukasi peternakan tersebut justru jalan di tempat alias tak ada progres menjanjikan.
Kepala Desa Sitiadi Hadi Waluyo mengatakan, sejauh ini belum ada dukungan konkret dari pemerintah daerah untuk pengembangan sentra edukasi sapi PO tersebut. Dia menyebut sudah bertahun-tahun tempat tersebut dibiarkan tak berfungsi optimal.
Kondisi ini membawa keperihatinan tersendiri bagi pemerintah desa maupun warga. "Karena bangunan masih milik pemkab, kami mohon untuk segera dilakukan perbaikan," ungkapnya saat ditemui Radar Jogja, Senin (1/6).
Bagi Hadi, cukup disayangkan jika lokasi tersebut hanya dibiarkan terbengkelai begitu saja. Padahal warga sudah lama berharap tempat edukasi tersebut membawa dampak positif terhadap perekonomian.
Pemdes, kata Hadi, sejatinya siap menanggung seluruh biaya perawatan maupun pengelolaan jika aset milik pemerintah daerah tersebut diserahkan kepada desa. "Kami sudah beberapa kali mengajukan permohonan agar bangunan tersebut diserahkan ke desa, tapi belum ada respon," ucapnya.
Seperti diketahui, kompleks Kampung Sapi PO telah diresmikan pada 19 Oktober 2017. Dalam prasati tertulis pejabat yang meresmikan kala itu Mohammad Yahya Fuad, selaku bupati. Keberadaan tempat tersebut digagas dengan mengusung konsep eduwisata peternakan sapi jenis PO secara terintegarasi.
Baca Juga: Lawan Elitisme dan Fragmentasi, BEM UGM Resmi Berubah Nama Jadi Sema
Wahana edukasi peternakan ini diketahui menempati area lahan seluas 1,5 hektare. Sejumlah fasilitas dan sarana pendukung juga telah tersedia di lokasi tersebut. Seperti bangunan kandang penggemukan dan pembibitan, rumah pengemasan kompos, area parkir, musala hingga pendopo. Selain itu juga terdapat mini teater, gedung kantor dan gapura serta wahana anak.
Di lokasi, tidak terlihat adanya aktivitas berkaitan dengan edukasi tentang sapi PO. Hanya terlihat sejumlah peternak sedang merawat sapi di dalam kandang. Kondisi di sekitar lokasi justru terlihat kumuh dengan ditumbuhi rumput liar. Sejumlah bangunan juga tampak kotor, bahkan sebagian mengalami kerusakan.
Anggota Kelompok Tani Ternak Rukun Maju Makmur Ratijo, 68, menyimpulkan, pemerintah daerah telah gagal dalam mengelola pusat edukasi sapi PO di desanya. Dia tak menampik, periode awal setelah peresmian, tempat tersebut memang sempat ramai dikunjungi masyarakat.
Namun, berjalannya waktu justru semakin ditinggalkan masyarakat karena tidak diperhatikan pemerintah daerah. "Waktu itu, paling tidak tiga bisa datang ke sini. Sekarang boro-boro," sebutnya.
Menurutnya, komitmen pemerintah daerah untuk perbaikan bangunan dan tata kelola Kampung Sapi PO hanya sekadar isapan jempol belaka. Terbukti sudah bertahun-tahun dia bersama rekan peternak lain menunggu dukungan pemerintah, namun tak kunjung terealisasi. "Dibilang mati, sekarang masih ada sapi punya warga. Dibilang hidup, tapi sepi. Coba dipikirkan lagi," ujarnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo