Ada Pompa Irigasi Berbasis Tenaga Surya, Petani Desa Krandegan Tak Lagi Ketir-Ketir saat Musim Kemarau

Muhammad Hafied • Dipublikasikan Kamis, 21 Mei 2026 | 21:12 WIB

 

Petani Desa Krandegan, Kecamatan Bayan menunjukkan hasil pemanfaatan pompa air berbasis tenaga surya untuk mengairi lahan pertanian. (M Hafied/Radar Jogja)
Petani Desa Krandegan, Kecamatan Bayan menunjukkan hasil pemanfaatan pompa air berbasis tenaga surya untuk mengairi lahan pertanian. (M Hafied/Radar Jogja)

 

 

 

 

 

PURWOREJO – Kepala Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Purworejo Dwinanto tak bisa menyembunyikan kegembiraanya saat kali pertama melihat air mengalir dari perangkat pompa irigasi berbasis tenaga surya. Teknologi ramah lingkungan ini membuat petani setempat tak lagi ketir-ketir ketika musim kemarau datang.

Di Desa Krandegan, perangkat pompa tenaga surya terpusat di Padukuhan Bojong Wetan. Di seberang jalan desa terlihat berjejer panel atau papan khusus untuk menampung sinar matahari.

 Kemudian dialirkan sebagai sumber energi utama untuk menggerakkan mesin pompa air. Teknologi terbarukan ini diimplementasikan atas kolaborasi antara pemerintah desa, pihak swasta dari Singapura dan perguruan tinggi.

Baca Juga: Realisasi Belanja Negara di Gunungkidul Capai 40 Persen, KPPN Wonosari Sebut Penerimaan Pajak Tumbuh Positif

"Totalnya 40 ribu watt. Terbaru, sudah dipasang pompa kekuatan 15 PK," sebutnya, saat peresmian pompa tenaga surya, Kamis (21/5).

Dahulu, musim kemarau selalu menjadi momok menakutkan bagi kalangan petani. Mereka khawatir hasil produksi pertanian kurang optimal karena pasokan air irigasi tak stabil. Namun, hadirinya sistem irigasi berbasis tenaga surya tersebut, para petani mulai merasa lega. "Dulu, kami itu tercatat desa merah, sekarang jadi desa mandiri di Purworejo," ucapnya.

Hadirnya pompa tenaga surya membawa keberkahan tersendiri bagi petani. Mereka tetap dapat mengolah lahan secara mandiri tanpa kesulitan pasokan air.

Baca Juga: Realisasi Belanja Negara di Gunungkidul Capai 40 Persen, KPPN Wonosari Sebut Penerimaan Pajak Tumbuh Positif

 Selain mampu mengalirkan air dengan mudah, keberadaan teknologi di sektor pertanian tersebut terbukti mampu menekan biaya operasional karena memanfaatkan energi matahari. "Dulu, sempat pakai pompa biasa. Pemakaian solar habis Rp 500 ribu buat sehari semalam. Sekarang gratis," bebernya.

Sejak terpasang pompa tenaga surya lima tahun lalu, Desa Krandegan mengalami surplus padi. Tercatat dari total lahan seluas 70 hektare, panen yang dihasilkan mencapai 420 ton atau rerata enam ton dalam satu hektare.

Dia optimis produktivitas pertanian akan terus meningkat meski memasuki puncak musim kemarau. "Ketika dirupiahkan, nilai plus yang didapatkan sekitar Rp 5 miliar," kata Dwinanto.

Wakil Bupati Purworejo Dion Agasi Setyabudi menaruh perhatian lebih atas terobosan yang dilakukan Pemerintah Desa Krandegan.

Baca Juga: Catat! Peringati Gempa Bantul 2006, Dispusip Hadirkan Pameran Arsip Kebencanaan, Ini Waktunya

 Dia menyatakan, pemerintah daerah akan terus mendorong melalui intervensi aggaran dan kebijakan agar pemanfaatan tenaga surya di sektor pertanian dapat lebih dioptimalkan. Dion juga mengajak desa lain melakukan terobosan yang sama karena teknologi tersebut mengusung konsep ramah lingkungan.

Bagi dia, pompa irigasi tenaga surya dapat menjadi solusi di tengah fluktuasi harga minyak bumi. Lebih dari itu, teknologi energi terbarukan ini juga selaras dengan program ketahanan pangan dan peningkatan produksi pertanian di tengah perubahan cuaca ekstrem.

 "Kami senang, desa ini dalam sekali dayung dapat banyak hal," ungkapnya. (fid/pra)

Editor : Heru Pratomo
pompa irigasi Krandegan Dion Agasi Setiabudi Petani Purworejo