Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Harga Beli Rp 25 Juta, Sapi Limousin Milik Kasidi Terjual Rp 90 Juta untuk Banmas

Naila Nihayah • Minggu, 10 Mei 2026 | 21:45 WIB
BERBOBOT: Sapi milik Kasidi diusulkan kembali untuk mengikuti program bantuan masyarakat (banmas) dari Presiden RI. (Dokumentasi Kasidi)
BERBOBOT: Sapi milik Kasidi diusulkan kembali untuk mengikuti program bantuan masyarakat (banmas) dari Presiden RI. (Dokumentasi Kasidi)

MAGELANG - Seekor sapi jenis limousin dengan bobot hampir satu ton dari Nambangan, Kota Magelang masuk dalam daftar usulan bantuan masyarakat (banmas) Presiden RI untuk Idul Adha 2026. Di balik itu, tersimpan proses seleksi berlapis sekaligus cerita ketelatenan peternak yang membesarkannya.

Pemilik sapi, Kasidi mengaku, pertama kali mengetahui peluang tersebut dari Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang yang datang menyampaikan adanya program banmas seperti tahun sebelumnya. Dari komunikasi awal itu, dia diminta menunjukkan sapi yang dinilai memenuhi kriteria. "Saya sampaikan ada sapi kira-kira satu ton. Lalu diminta foto, dikirim ke dinas, kemudian diteruskan ke provinsi," ujarnya Minggu (10/5).

Dari hasil pendataan awal, kata dia, bobot sapi diperkirakan mencapai lebih dari 900 kilogram (kg). Meski belum ditimbang resmi, angka itu dinilai memenuhi syarat minimal pengajuan hewan kurban banmas yang umumnya berukuran besar dan dalam kondisi prima.

Baca Juga: Buntut Kebocoran Gas Amonia di Pabrik Es Kalasan, Warga Diminta Tak Konsumsi Air Sumur

Dia menyebut, proses berikutnya tidak hanya administratif. Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jateng melakukan verifikasi lanjutan melalui pemantauan langsung. Termasuk menggunakan panggilan video untuk memastikan kondisi fisik sapi di lokasi kandang.

Kasidi menceritakan, dalam proses itu dia diminta memperlihatkan detail tubuh sapi. Mulai dari ukuran, kondisi kesehatan, hingga gerak hewan tersebut secara langsung. "Seperti video call, sapinya ditunjukkan dari berbagai sisi," katanya.

Tahap tersebut kemudian berlanjut pada penentuan harga. Setelah melalui proses komunikasi yang dimediasi, harga sapi disepakati sebesar Rp 90 juta. Nilai ini lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya, saat sapi miliknya yang lain dibeli seharga Rp 60 juta.

Baca Juga: Penanganan Kasus  Little Aresha Jogja Masih Berjalan, 88 Anak Sudah  Mendapatkan Daycare Pengganti, Sisanya Dirawat Sendiri di Rumah

Sapi milik Kasidi sendiri diperkirakan akan disalurkan di wilayah Kota Magelang, meski lokasi pastinya masih menunggu keputusan resmi. Di sisi lain, proses hingga sapi tersebut mencapai bobot hampir satu ton bukanlah hal instan.

Kasidi membeli sapi itu dari Pasar Muntilan sekitar sembilan hingga sepuluh bulan lalu dengan harga Rp 25 juta. Saat itu, usia sapi diperkirakan sekitar 17 bulan. Sejak dibeli, dia merawatnya secara intensif hingga kini berusia lebih dari dua tahun dan menjadi sapi terbesar di kandangnya.

Pakan yang diberikan tergolong sederhana dan mudah dijangkau. Seperti rumput, polar, katul, ampas tahu, serta tambahan kulit singkong dalam jumlah terbatas. Menurutnya, konsistensi pemberian pakan dan perhatian harian menjadi kunci pertumbuhan sapi.

"Yang penting telaten. Makannya dijaga, waktunya teratur," katanya.

Baca Juga: El Nino Aktif, BMKG Yogyakarta Ingatkan Ancaman Krisis Air hingga Kebakaran Hutan dan Lahan

Saat ini, Kasidi memelihara tiga ekor sapi jantan di kandangnya. Dia mengaku lebih memilih sapi jantan karena dinilai lebih mudah dibesarkan dibanding betina.

Kasidi bercerita, telah memulai usaha ini sejak era 1980-an. Ketika harga sapi masih ratusan ribu rupiah. Dari usaha kecil yang berkembang bertahap, dia kini mampu menghasilkan ternak dengan kualitas yang dilirik hingga tingkat nasional.

Menariknya, sapi yang diusulkan tahun ini diberi nama Bagong, nama yang menurut Kasidi memiliki makna tersendiri. Dia meyakini, nama tersebut identik dengan pertumbuhan yang besar dan kuat.

Terpilihnya kembali sapi dari kandangnya menjadi kandidat bantuan presiden menjadi pengalaman kedua bagi Kasidi. Sebelumnya, sapi miliknya juga telah dibeli dan disalurkan sebagai hewan kurban.

Meski demikian, dia mengaku tetap menunggu keputusan final dari pemerintah pusat. Penetapan resmi biasanya baru dilakukan menjelang hari pelaksanaan Idul Adha.

Sambil menunggu kepastian tersebut, dia tetap merawat sapinya seperti biasa, memastikan kondisi kesehatan tetap terjaga hingga waktu penyerahan tiba.

"Yang penting dirawat dengan baik. Kalau hasilnya seperti ini, ya alhamdulillah," lontarnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang Agus Dwi Windarto menjelaskan, sapi milik Kasidi telah melalui tahapan identifikasi dan pemeriksaan sesuai standar yang ditetapkan pemerintah pusat.

Baca Juga: Belasan Warga Karangsari Kulon Progo Keracunan, Diduga usai Menyantap Nasi Kenduri Acara Pernikahan

Kriteria tersebut, lanjut dia, mencakup jenis sapi unggulan, dalam hal ini limosin, berjenis kelamin jantan, tidak cacat, tidak dikebiri, serta berada dalam kondisi sehat. Selain itu, usia dan bobot juga menjadi faktor penting dalam penilaian.

"Usulan sudah kami kirim ke kementerian. Penetapan biasanya dilakukan mendekati Idul Adha secara serentak untuk seluruh daerah," jelasnya.

Dia menambahkan, seluruh kabupaten dan kota di Indonesia mengajukan kandidat serupa. Pemerintah pusat kemudian akan menentukan sapi terpilih yang akan disalurkan sebagai bantuan presiden di masing-masing daerah. (aya/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#bantuan masyarakat #banmas #Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang #idul adha #Kota Magelang