Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Berawal dari Iseng Unggah Status WhatsApp, ASN di Magelang Sukses Bangun Bisnis Jus Premium 'Dee Jus Aja'

Naila Nihayah • Minggu, 26 April 2026 | 05:06 WIB
Kisah Desi Ria Listiowati: Dari Keinginan Hidup Sehat Jadi Bisnis ‘Dee Jus Aja’ yang Beromzet Ribuan Botol
Kisah Desi Ria Listiowati: Dari Keinginan Hidup Sehat Jadi Bisnis ‘Dee Jus Aja’ yang Beromzet Ribuan Botol

 

 

Usaha tak selalu berangkat dari rencana matang. Bagi warga Mertoyudan, Kabupaten Magelang Desi Ria Listiowati, bisnis minuman sehat yang kini dijalankan justru lahir dari kebiasaan pribadi, yakni minum jus setiap hari.

Semula, ia tidak berniat jualan karena hanya ingin hidup lebih sehat dengan mengonsumsi jus. Namun, sebuah unggahan sederhana di WhatsApp menjadi titik balik.

"Awalnya cuma bikin buat konsumsi sendiri. Tak posting di status, ternyata banyak yang tanya dan minta dibuatin," ujar dia saat ditemui di kediamannya, Jumat sore (24/4).

Baca Juga: AHY Kagum Transformasi Desa Mrican dari Kawasan Kumuh Jadi Hunian Sehat, Bakal Jadi Percontohan Nasional 

Dari situ, satu per satu pesanan datang. Tanpa nama brand, tanpa menu, bahkan tanpa kemasan yang layak jual. Ia meracik jus secara spontan, mencampur berbagai buah, lalu mencatat resep yang dirasa pas.

Perjalanan usaha ini dimulai pada Mei 2023, saat Desi memutuskan membeli mesin cold pressed juice atau alat pemeras jus tanpa air dan gula. Keputusan itu sempat membuatnya ragu. Namun setelah alat terbeli, ia justru 'dipaksa' pasar untuk mulai serius.

Nama Dee Jus Aja pun lahir secara spontan. Varian produknya dibuat sederhana, seperti Red, Orange, Green, hingga Yellow, mengikuti warna dominan buah. Bahkan kini sudah memiliki lebih dari 15 varian.

Namun, tantangan berikutnya muncul. Ia belum benar-benar mengetahui manfaat produknya sendiri. "Ada yang tanya, 'ini buat apa?', saya nggak bisa jawab. Akhirnya saya ikut kursus jus kesehatan," katanya.

Baca Juga: Pilur Serentak Mulai Akhir Mei, Pengaruh Trah Masih Kuat di 31 Kalurahan Wilayah Gunungkidul

Dari situ, ia mulai memahami kandungan buah, manfaat kesehatan, hingga bagaimana menyusun komposisi yang tepat. Tak berhenti di situ, ia juga belajar pemasaran. Mulai dari branding, desain kemasan, hingga strategi soft selling di media sosial.

"Diajari kalau jualan itu jangan cuma produk, tapi value. Orang beli karena manfaatnya," kata ASN Pemkot Magelang itu.

Berbeda dengan pelaku usaha lain, Desi menjalankan bisnisnya dari rumah tanpa toko fisik. Penjualan awal hanya mengandalkan WhatsApp, lalu merambah Instagram dan layanan pesan antar.
Perlahan, ia mulai berani tampil di ruang publik, seperti car free day (CFD) di kawasan Rindam.

Baca Juga: Transformasi Museum di Era Digital, Bantul Belajar dari Malang untuk Menarik Minat Generasi Muda


Di sana, ia menguji pasar secara langsung. Hasilnya cukup menjanjikan. Dalam satu hari Minggu, penjualan bisa mencapai sekitar 50 botol. Sementara Sabtu berkisar 30-40 botol.

Padahal, kata dia, harga produknya tergolong lebih tinggi dibanding jus biasa. "Kalau jus biasa mungkin Rp 10 ribu-Rp 15 ribu. Saya sekarang Rp 27 ribu, karena bahan bakunya memang beda dan naik," jelasnya.

Desi mengaku, sengaja menggunakan buah premium, seperti apel Fuji, jeruk Sunkist, hingga nanas honey. Bahkan, satu botol jus minimal menggunakan satu buah apel utuh.

Ia juga menjaga pasokan bahan dari berbagai daerah. Sayuran dari Kopeng, stroberi dari Bandung, hingga stok buah musiman yang disimpan beku.

Baca Juga: Konsumsi Pil Sapi, Anak di Bawah Umur Direhabilitasi di BNNK Bantul

Seiring meningkatnya permintaan, Desi mulai menata produksi. Dari yang awalnya sistem pre-order, kini ia berani menyediakan stok, terutama sejak masuk platform online delivery.

Dalam sehari, produksinya berkisar 50-70 botol, dengan total penjualan bulanan bisa mencapai sekitar 1.000 botol. Distribusinya pun tak hanya lokal. Pesanan datang dari luar kota seperti Jogja, Jakarta, hingga Surabaya, dikirim menggunakan cooler bag untuk menjaga kualitas.

Namun, di balik pertumbuhan itu, tantangan tetap ada, terutama pada bahan baku. "Tantangan terbesar itu kalau dapat buah jelek. Pernah satu kardus apel nggak bisa dipakai semua," lontarnya.

Bagi Desi, kunci bertahan bukan semata produk, melainkan kepercayaan pelanggan. Ia mengaku tak segan mengganti produk jika ada keluhan, bahkan lebih dari jumlah yang rusak. "Yang penting kepercayaan. Kalau itu hilang, usaha juga selesai," imbuh dia.

Baca Juga: Transformasi Museum di Era Digital, Bantul Belajar dari Malang untuk Menarik Minat Generasi Muda

Ia juga menyadari pentingnya personal branding. Dalam banyak unggahan, ia tidak sekadar menawarkan jus, tetapi menunjukkan gaya hidup sehat yang ingin dijual. "Kadang orang beli bukan cuma karena jusnya, tapi karena percaya sama yang jual," sebutnya.

Meski usahanya terus berkembang, Desi belum berani membuka toko fisik. Statusnya sebagai ASN membuatnya harus berhati-hati membagi waktu.
Ia sempat melakukan survei ke beberapa kota untuk melihat peluang membuka gerai.

Baca Juga: Pemkab Gunungkidul Tawarkan Investasi Garmen Rp 51,6 Miliar di Semin, Bidik Pasar Ekspor

Namun, untuk saat ini, ia memilih bertahan dengan sistem rumahan. "Pengen banget punya toko, tapi kalau belum bisa pegang sendiri, takutnya malah berantakan," paparnya.

Di tengah tren gaya hidup sehat yang terus tumbuh, peluang pasar masih terbuka lebar. Namun, bagi Desi, menjaga ritme usaha tetap stabil jauh lebih penting daripada ekspansi yang terburu-buru. (aya)

Editor : Heru Pratomo
#dee jus aja #Magelang #Minuman sehat #hidup sehat #ASN