MUNGKID - Persiapan keberangkatan calon jemaah haji (CJH) Kabupaten Magelang tahun 2026 hampir rampung. Hingga pertengahan April, kesiapan administrasi dan dokumen perjalanan tercatat telah mencapai sekitar 90 persen.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Magelang Taufik Husen Ansori menyebut, seluruh dokumen utama seperti paspor dan visa telah siap. "Secara keseluruhan sudah 90 persen siap, termasuk calon jemaah cadangan. Kami masih menunggu untuk kopernya," ujar dia di kantornya, Selasa (21/4).
Tahun ini, total CJH asal Kabupaten Magelang mencapai 1.423 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 561 merupakan laki-laki, sedangkan 772 lainnya perempuan. Mereka dibagi dalam lima kelompok terbang (kloter), yakni kloter 16, 17, 18, serta kloter 80 dan 81.
Namun demikian, kata dia, tidak semua jemaah berangkat dalam satu gelombang besar. Sejumlah kecil jemaah telah lebih dulu tergabung dalam kloter awal bersama daerah lain. "Untuk kloter awal, ada yang bergabung dengan Kabupaten Kebumen, seperti kloter 11 pada 5 Mei, kloter 13 pada 7 Mei, dan kloter 15," jelasnya.
Baca Juga: Mahasiswa UAJY Tembus Final Global YDTC Hadirkan Solusi Banjir Berbasis AI
Sementara itu, gelombang utama jemaah Magelang dijadwalkan berangkat mulai 11 Mei untuk kloter 16. Disusul kloter 17 pada 12 Mei, dan kloter 18 pada 13 Mei.
Taufik mengatakan, penyelenggaraan haji tahun ini juga mencatat sejarah baru. Untuk kali pertama, CJH wilayah Kedu, termasuk Kabupaten Magelang, diberangkatkan melalui Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo.
Meski demikian, keterbatasan kapasitas membuat pemberangkatan masih dibagi ke dua embarkasi, yakni Embarkasi Jogja dan Solo. Untuk kloter 80 dan 81 berangkat melalui Embarkasi Solo karena kapasitas di YIA belum mencukupi.
Kondisi ini, lanjut dia, berdampak pada pola pelayanan jemaah sebelum keberangkatan. Jika di Solo jemaah menginap di asrama haji, di Jogja mereka akan ditempatkan di hotel. "Karena belum ada asrama haji, jemaah menginap di hotel yang dekat dengan bandara YIA," bebernya.
Ke depan, pemerintah membuka peluang seluruh jemaah diberangkatkan melalui YIA. "Kalau kapasitas sudah mencukupi, kemungkinan tahun depan bisa full dari Embarkasi Jogja," sambung dia.
Baca Juga: Kolaborasi Tim Dosen FTB dan FISIP UAJY Wujudkan Program Living Lab Melalui Hibah Bestari Saintek
Di antara ribuan jemaah tersebut, CJH tertua tercatat berusia 92 tahun atas nama Suryono. Sementara itu, CJH termuda adalah Kyra Talita Sakhi, yang baru berusia 13 tahun 7 bulan.
Taufik menjelaskan, keberangkatan Kyra merupakan hasil pelimpahan porsi dari ayahnya yang telah meninggal dunia. Kyra akan berangkat bersama ibunya untuk menunaikan ibadah haji. "Pelimpahan porsi bisa diberikan kepada anak kandung atau saudara. Dalam kasus ini, dialihkan ke anak," jelasnya.
Dia menambahkan, perubahan regulasi terbaru kini memungkinkan keberangkatan jemaah dengan usia minimal 13 tahun. Berbeda dengan aturan sebelumnya yang menetapkan batas minimal 18 tahun.
Baca Juga: Hati-hati Memilih Warna Pakaian, Dampak Kenakan Baju Hitam Setiap Hari!
Selain jemaah utama, kata Taufik, ada sekitar 40 calon jemaah cadangan telah disiapkan. Mereka memiliki dokumen lengkap dan telah memenuhi syarat kesehatan (istitaah), sehingga siap diberangkatkan sewaktu-waktu jika ada jemaah utama yang berhalangan.
Sistem ini menjadi bagian penting dalam memastikan kuota tetap terpenuhi. "Cadangan ini memang disiapkan untuk mengantisipasi jika ada yang sakit, mengundurkan diri, atau tidak memenuhi syarat saat mendekati keberangkatan," terangnya. (aya)
Editor : Iwa Ikhwanudin