KEBUMEN - Penutupan Jembatan Karanganyar memaksa sopir angkutan kota (angkot) mengubah kebiasaan dalam melayani penumpang. Mereka memberlakukan sistem estafet, di mana penumpang harus berganti kendaraan di titik tertentu sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir.
Ketua Paguyuban Sopir Angkutan Lawet Jaya Ari Sugiharto mengatakan, penutupan jalan akibat pembangunan Jembatan Kaangayar bukan menjadi alasan bagi para sopir untuk mencari nafkah.
Mereka harus mencari cara demi tetap melayani penumpang. Salah satunya dengan pemberlakuan sistem estafet penumpang. "Istilahnya estafet. Nanti berhenti dulu di mana, nyambung angkot lain di seberang jembatan," jelas Ari kepada Radar Jogja, Jumat (17/4).
Baca Juga: Ada Tambahan 1.000, PSS Sleman Dapat Kuota 8.000 saat Jamu Persiku Kudus di MagIS
Dalam praktiknya, kata dia, penumpang dari arah Kebumen akan diturunkan di dekat penutupan jembatan, tepatnya depan Pusaka Indah. Setelah itu penumpang berjalan kaki melalui jembatan darurat. Lalu, melanjutkan perjalanan menggunakan angkot yang sudah menanti di seberang jembatan.
Penyesuaian layanan penumpang ini juga berlaku dari arah Gombong menuju Kebumen. "Penumpang sudah paham kok. Kami juga tidak mau terus-terusan estafet penumpang," ungkapnya.
Ari menjelaskan, penyesuaian layanan penumpang ini terpaksa dilakukan agar operasional sopir tetap berjalan meski akses utama terhambat.
Baca Juga: Demung di FIB UGM Dimaling, Pelaku Diduga Sama dengan Pencuri di ISI Surakarta dan ISI Yogyakarta
Dia berharap pembangunan Jembatan Karanganyar dapat selesai tepat waktu, sehingga aktivitas transportasi umum dapat berjalan seperi biasa. "Kondisinya seperti itu, tidak ada pilihan lain," jelasnya.
Ari telah meminta dengan tegas agar para sopir tidak nekat melintas jembatan darurat selama pembangunan Jembatan Karanganyar berlangsung.
Dia khawatir jembatan tersebut akan ambles karena tidak diracang untuk menahan beban kendaraan di luar motor dan mobil pribadi. "Taruhlah yang narik 25 angkot, misal empat kali PP berarti 200 kali lewat. Bisa ambles itu jembatan," tandasnya.
Baca Juga: Sleman Fans Geruduk Latihan di Lapangan Pakembinangun, M. Kanu Minta Maaf ke Suporter
Salah satu sopir, Slamet Rojikin, 49, mengatakan, penutupan Jembatan Karanganyar otomatis memberikan dampak bagi sopir. Tidak sedikit penumpang sempat mengeluhkan karena dinilai kurang praktis dengan sistem estafet.
Selain itu penutupan jalan juga berdampak dari sisi pendapatan. "Repot, baru angkatan sudah berheti. Kasihan juga penumpangnya, harus nyambung," katanya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo