Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Maestro LK Bing, dari Coretan di Dinding Rumah ke Galeri Museum; Jejak Kota dalam Lukisan, Hidupkan Ruang Ingatan

Naila Nihayah • Selasa, 17 Maret 2026 | 22:20 WIB

ARTISTIK: Ratusan karya LK Bing ditampilkan di OHD Museum, 14 Maret-14 September 2026.
ARTISTIK: Ratusan karya LK Bing ditampilkan di OHD Museum, 14 Maret-14 September 2026.

Bangunan-bangunan kota lama, cahaya senja yang jatuh di fasad gedung kolonial, hingga jalan-jalan sunyi digambar dengan sapuan cat air. Dalam lukisan-lukisan LK Bing, kota bukan sekadar lanskap, melainkan ruang ingatan yang hidup. Kini, ratusan karya itu dipamerkan dalam pameran tunggal di OHD Museum, 14 Maret-14 September 2026.

LK Bing dikenal melalui goresan cat yang spontan, komposisi warna yang harmonis, serta atmosfer dramatis yang menjadi ciri khas karyanya. Latar belakangnya sebagai arsitek membentuk kepekaannya terhadap struktur, perspektif, dan ritme ruang, yang kemudian diterjemahkan ke dalam lukisan cityscape maupun komposisi abstrak.

Sejak kecil, LK Bing sudah terbiasa memegang pensil dan mencoret apa saja yang ada di sekitarnya. Dinding, pintu, hingga jendela rumah masa kecilnya di Kediri pernah menjadi 'kanvas' pertama bagi imajinasi seorang anak. Kebiasaan itu justru sering membuat ibunya marah.

"Dia mencoret satu rumah. Dinding, pintu, jendela. Mamanya marah, 'kamu ini mau jadi apa? Besarnya mau jadi pelukis jalanan?'," kenang istrinya, Lita Hardja di OHD Museum.

Ucapan itu terdengar seperti teguran biasa bagi seorang anak kecil yang gemar menggambar. Namun bagi Bing, coretan-coretan itu justru menjadi awal perjalanan panjangnya dalam dunia seni rupa. Ketertarikan Bing pada gambar tidak pernah berhenti hingga dewasa.

Ia memilih menekuni dunia arsitektur dan melanjutkan studi di Universitas Kristen Petra Surabaya, tempat di mana ia bertemu dengan Lita. Setelah lulus, keduanya menikah dan memiliki tiga anak perempuan. Di tengah kesibukan sebagai arsitek dan dosen, Bing tetap melukis hampir setiap hari.

Pada awal kariernya, lukisan Bing sering menjadi bagian dari proyek arsitektur yang ia kerjakan. Lukisan-lukisan itu menjadi elemen artistik untuk melengkapi interior rumah para kliennya. Dengan latar belakang arsitektur, Bing memiliki kepekaan yang kuat terhadap ruang dan perspektif.

Ia mampu menerjemahkan keinginan kliennya menjadi lukisan yang menyatu dengan desain interior rumah. Jika klien menginginkan suasana tertentu, misalnya pemandangan Lake Como di Italia atau lanskap kota tempat mereka pernah belajar di Eropa, Bing bisa menggambarkannya dari berbagai sudut pandang.

Kemampuan memadukan perspektif ruang, warna interior, dan cahaya membuat lukisan-lukisan Bing semakin diminati. Banyak klien yang awalnya datang untuk jasa desain rumah justru memesan lukisan darinya. Pesanan lukisan terus berdatangan hingga jadwalnya sering penuh.

Salah satu sumber inspirasi terbesar bagi Bing adalah kawasan kota lama Surabaya. Bangunan-bangunan kolonial di sekitar Pasar Pabean, Songoyudan, dan jalan-jalan tua lainnya sering ia datangi untuk dilukis secara langsung. Sebagai lulusan arsitektur, Bing sangat tertarik pada sejarah arsitektur bangunan-bangunan tersebut.

Ia kerap duduk di trotoar atau sudut jalan bersama komunitas Surabaya Urban Sketchers, menggambar bangunan-bangunan tua sambil mengamati perubahan cahaya di sekitarnya. "Dia sering bilang, ternyata benar kata mamanya. Dia jadi pelukis jalanan," ujar Lita sembari tersenyum.

Kegiatan melukis di ruang publik itu juga membawanya bertemu banyak seniman lain. Ia juga pernah melukis Gereja Blenduk di Kota Lama Semarang, salah satu bangunan bersejarah yang menarik perhatiannya.

Keseriusan Bing dalam melukis akhirnya mengantarkannya ke komunitas seni lukis cat air internasional. Ia bahkan terpilih menjadi brand ambassador untuk merek cat air kelas dunia, Daniel Smith, sebuah pencapaian yang hanya dimiliki kurang dari 100 seniman di seluruh dunia.

Di Indonesia sendiri hanya dua orang yang mendapatkan kepercayaan tersebut, satu di antaranya adalah Bing. Melalui peran itu, Bing kerap diundang ke berbagai negara untuk melukis sekaligus menjadi mentor bagi seniman cat air. Namun bagi Bing, perjalanan sebagai pelukis masih terasa belum selesai.

Pada 2022, Bing memiliki satu keinginan besar, yaitu bertemu dengan kolektor seni dan pendiri OHD Museum Magelang, dr Oei Hong Djien (OHD). Bagi Bing, OHD adalah sosok penting dalam dunia seni rupa Indonesia. Melalui bantuan seorang muridnya, akhirnya Bing mendapatkan kesempatan bertemu langsung dengan kolektor seni tersebut.

Percakapan panjang di rumah OHD memberi semangat baru bagi Bing. Lita menyebut, sepulang dari Magelang, semangatnya menjadi luar biasa. Bing sempat mengutarakan mimpinya kepada Lita bahwa dirinya ingin menjadi pelukis terkenal. Hampir setiap malam ia menghabiskan waktu di studio kecilnya yang hanya berjarak sekitar 300 meter dari rumah.

Namun perjalanan itu mendadak terhenti. Pada 2023, Bing mengalami kecelakaan serius yang menyebabkan cedera otak. Ia harus menjalani operasi dan sempat mengalami koma. Selama hampir dua tahun, keluarga berjuang mendampingi proses pengobatannya.

Ia bahkan sempat dibawa ke Singapura untuk menjalani perawatan intensif selama dua setengah bulan. Namun, dokter yang menanganinya hanya berkata bahwa kesadaran Bing hanya Tuhan yang tahu. Bing sempat kembali sadar, namun kondisinya terus naik turun.

Setelah bertahan selama 20 bulan setengah, Bing akhirnya meninggal dunia pada 30 April 2025. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Setelah kepergian suaminya, Lita memberanikan diri membersihkan studio tempat Bing biasa melukis.

Di sanalah ia menemukan sesuatu yang mengejutkan, ratusan karya lukisan yang belum pernah dipamerkan. Lita kemudian mencoba menghubungi kembali OHD. Dengan bantuan anaknya, ia mencari akun media sosial orang yang pernah mempertemukan Bing dengan sang kolektor.

Akhirnya pertemuan itu terjadi kembali. Lita datang membawa karya-karya suaminya untuk diperlihatkan. Reaksi OHD membuatnya terharu. "Beliau (OHD) bilang lukisan seperti ini sudah profesional," sebut Lita.

Kini karya-karya Bing akhirnya dipamerkan dalam sebuah pameran tunggal di OHD Museum Magelang bertajuk 'Cityscape-Mindscape'. Pameran yang dibuka pada 14 Maret 2026 ini menampilkan sekitar 210 karya Bing. Lukisan-lukisan itu terdiri atas karya cat air di atas kertas dan cat akrilik di atas kanvas, dengan karakter yang bergerak antara realisme dan abstraksi.

Kurator pameran, Kuss Indarto menjelaskan, perjalanan Bing sebagai seniman memang bermula dari dunia arsitektur. Semula lukisannya menjadi elemen yang memperkaya ruang-ruang yang ia rancang. Seiring waktu, Bing semakin serius menekuni seni lukis.

Ia sempat bereksperimen dengan lukisan abstrak menggunakan cat akrilik, sebelum akhirnya menemukan kebebasan ekspresi melalui cat air. Dari situlah muncul ciri khas karya Bing, yakni lanskap dan panorama kota.

Dalam banyak karyanya, Bing menaruh perhatian besar pada pencahayaan. Efek cahaya pagi atau senja memberi kesan dimensional pada bangunan dan ruang kota yang ia lukis.

Melalui teknik itu, lukisan Bing tidak sekadar menjadi gambar pemandangan, tetapi juga dokumentasi artistik tentang lanskap urban. "Lukisannya tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga bisa dibaca sebagai dokumentasi artistik kota," papar Kuss.

Kuss menilai, karya-karya Bing bukan sekadar pemandangan kota yang dipindahkan ke atas kertas. Di baliknya terdapat narasi dan cara pandang seorang arsitek yang memahami ruang. Kota-kota yang ia lukis bukan hanya lanskap fisik, tetapi juga lanskap batin. "Yang kita lihat bukan hanya cityscape, tetapi juga mindscape," imbuhnya.

Bagi OHD, keputusan memamerkan karya Bing justru sejalan dengan visi sebuah museum. Menurutnya, museum tidak hanya bertugas memamerkan karya seniman yang sudah terkenal. "Yang lebih penting adalah memperkenalkan seniman yang belum dikenal luas tetapi memiliki karya berkualitas," lontarnya.

Selain karya Bing, pameran ini juga menghadirkan 10 lukisan old masters dari koleksi pribadi OHD. Kehadiran karya-karya maestro itu dimaksudkan sebagai pengingat bagi generasi muda tentang perjalanan panjang seni rupa Indonesia. (aya/laz)

Editor : Herpri Kartun
#arsitektur #OHD Museum #Kolektor Seni #Pameran tunggal #interior rumah