MUNGKID - Ribuan warga memadati sepanjang jalan dari Artos Mall menuju Pura Wira Bhuana Sabtu (14/3) sore. Iring-iringan ogoh-ogoh yang diarak perlahan oleh puluhan peserta itu menarik perhatian warga di sepanjang jalan. Arak-arakan yang menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi kembali digelar setelah sempat vakum selama tiga tahun.
Penasihat Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Magelang I Gede Suwarti menjelaskan, kegiatan kirab budaya ini merupakan upaya untuk melestarikan sekaligus memperkenalkan budaya Hindu. "Khususnya tradisi masyarakat Bali yang tinggal di Magelang," bebernya usai kirab budaya.
Dalam wujudnya, tubuh ogoh-ogoh digambarkan penuh dengan ornamen emas dan permata sebagai simbol kehidupan glamor yang dapat menjerumuskan manusia dalam sifat tamak. Di tangan kanannya, sosok tersebut memegang seekor babi yang melambangkan eksploitasi sumber daya secara berlebihan demi kepentingan pribadi.
I Gede mengatakan, ogoh-ogoh yang ditampilkan dalam kirab budaya tersebut justru menggambarkan sifat yang bertentangan dengan nilai yang ingin diajarkan dalam konsep Catur Netra. "Dalam ajaran tersebut, kata catur berarti empat, sedangkan netra berarti mata atau penglihatan," katanya.
Konsep ini, kata dia, mengajarkan manusia untuk melihat kehidupan dari empat arah atau sudut pandang yang berbeda dengan sikap positif. "Catur Netra mengajarkan kita untuk melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang dengan sikap yang baik dan positif," sambungnya.