Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jelang Imlek, Hiolo Raksasa Seberat 3,5 Ton Terbesar di Asia Tenggara Dibersihkan dari Sisa Dupa

Naila Nihayah • Sabtu, 14 Februari 2026 | 03:30 WIB

 

 

Di dalam Kelenteng Hok An Kiong Muntilan terdapat tempat abu terbesar se-Asia Tenggara.   
Di dalam Kelenteng Hok An Kiong Muntilan terdapat tempat abu terbesar se-Asia Tenggara.  

MUNGKID - Menjelang Tahun Baru Imlek 2577, suasana di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hok An Kiong Muntilan tampak berbeda. Sejumlah umat bergotong royong membersihkan abu dari hiolo atau tempat pembakaran dupa raksasa yang menjadi ikon kelenteng tersebut.

Pembersihan dilakukan setahun sekali, bertepatan dengan momen ketika para dewa diyakini 'naik' ke langit.

Seksi ritual di TITD Hok An Kiong Muntilan Budiono menjelaskan, setiap hari sepanjang tahun umat menancapkan dupa sebagai bagian dari sembahyang rutin.

Sisa batang bambu dan abu yang menumpuk di dalam hiolo harus dibersihkan agar tidak mengganggu pemasangan dupa berikutnya.

"Ini dibersihkan setahun sekali, saat Toa Pekong sudah naik. Biasanya dari bulan 12 tanggal 24 sampai setelah Imlek tanggal 4," ujar Budiono di TITD Hok An Kiong Muntilan, Jumat (13/2).

Dalam kepercayaan Tionghoa, kata dia, periode tersebut menjadi waktu ketika para dewa kembali ke langit untuk melaporkan perjalanan setahun umat manusia.

Momentum inilah yang dimanfaatkan untuk membersihkan altar dan perlengkapan ibadah, termasuk hiolo utama di halaman kelenteng.

Hiolo yang dibersihkan bukanlah hiolo biasa. Benda berbahan logam itu disebut-sebut sebagai salah satu yang terbesar di Indonesia, bahkan diklaim terbesar di Asia Tenggara.

Beratnya mencapai 3,5 ton dalam kondisi kosong, dengan diameter sekitar 178 sentimeter dan tinggi ornamen naga juga sekitar 178 sentimeter.

Ornamen naga yang melilit hiolo memiliki makna filosofis mendalam. Dalam budaya Tionghoa, naga dan phoenix merupakan makhluk simbolis tertinggi yang melambangkan kekuatan, kebesaran, dan kemuliaan.

Baca Juga: Info Ala Honda Istimewa, Kenali Manfaat Ganti Minyak Rem Motor

Sejak era kekaisaran Tiongkok, naga menjadi simbol kedaulatan dan legitimasi kekuasaan. "Untuk umat Tionghoa, naga itu makhluk tertinggi. Kaisar-kaisar dulu simbolnya naga semua," terangnya.

Hiolo tersebut merupakan sumbangan sejumlah umat dari Solo pada 2002. Pengerjaannya dilakukan sepenuhnya di Tiongkok berdasarkan desain dan foto yang dikirim dari Muntilan.

Proses pembersihan hiolo biasanya memakan waktu satu hingga dua hari, tergantung jumlah relawan yang membantu.

Abu dan sisa dupa diangkat, dibersihkan, lalu ditata kembali agar siap digunakan saat para dewa 'turun' kembali setelah perayaan Imlek.

Budiono menambahkan, tahun ini, perayaan Imlek dan rangkaian Cap Go Meh bertepatan dengan bulan Ramadan. Pengurus kelenteng pun melakukan penyesuaian sebagai bentuk penghormatan antarumat beragama.

Untuk perayaan Cap Go Meh, kegiatan difokuskan pada sembahyang tanpa pertunjukan meriah seperti Liong Samsi. Meski tanpa kemeriahan atraksi budaya, esensi perayaan tetap terjaga. (aya/pra)

Editor : Heru Pratomo
#jelang imlek #Hiolo #asia tenggara #dupa #TITD hong san kiong #abu #muntilan