Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pengamat Ekonomi Sebut Emas hingga Surat Utang Negara Jadi Instrumen Pelindung Nilai Paling Rasional

Naila Nihayah • Minggu, 8 Februari 2026 | 20:35 WIB

 

Dosen Fakultas Ekonomi, Untidar Afif Musthafa
Dosen Fakultas Ekonomi, Untidar Afif Musthafa

MAGELANG - Ketidakstabilan ekonomi global praktis memicu kekhawatiran terhadap nilai tukar rupiah. Di tengah gejolak pasar dan arus dana asing yang fluktuatif, publik masih meraba-raba terkait instrumen yang paling efektif melindungi nilai aset. Mulai dari emas, saham, hingga Surat Utang Negara (SUN).


Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Tidar (Untidar) Magelang Afif Musthafa menilai, kondisi ekonomi saat ini memang tidak dalam situasi ideal. Dia menyebut, ketidakpastian global, isu utang luar negeri Amerika Serikat, hingga tensi geopolitik sebagai faktor yang memperlemah stabilitas pasar.


"Ekonomi itu paling senang dalam kondisi stabil. Kalau tidak stabil, investor cenderung mencari aset safe haven," ujarnya saat ditemui Radar Jogja, Jumat (6/2).


Pelemahan rupiah, menurut Afif, tidak semata dipicu sentimen global, tetapi juga dinamika di pasar modal domestik. Satu di antaranya terkait kebijakan indeks global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menjadi acuan investor institusi besar dunia.


Dia menyebut, ketika dana asing keluar dari pasar saham Indonesia, dampaknya bukan hanya pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat anjlok, tetapi juga terhadap permintaan rupiah. Data menunjukkan sekitar 40 persen kepemilikan di pasar modal domestik berasal dari investor asing.


Dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai ribuan triliun rupiah, arus keluar dana dalam jumlah besar secara otomatis menekan nilai tukar. Dalam kondisi seperti ini, investor global cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk emas. "Ketika investor luar negeri menarik dananya, rupiah ikut tertekan karena permintaan terhadap mata uang menurun," jelasnya.


Dia menyebut, emas dalam beberapa tahun terakhir mengalami reli harga signifikan dan mencetak all-time high (ATH). Ketidakpastian politik dan ekonomi global membuat logam mulia menjadi pilihan masyarakat awam.


Namun, dia mengingatkan, kenaikan emas bukan tanpa risiko. Harga emas tetap bergerak mengikuti pola teknikal dan bisa mengalami koreksi tajam. Masyarakat yang membeli saat harga berada di puncak tanpa memahami pola pergerakan, berpotensi mengalami kerugian jangka pendek.


Selain emas, Afif menilai Surat Berharga Negara (SBN) Ritel, termasuk Sukuk Ritel sebagai instrumen yang relatif paling aman dalam konteks perlindungan nilai. Instrumen ini menawarkan kupon tetap, memiliki jatuh tempo jelas, serta potensi capital gain.


Berbeda dengan emas yang hanya mengandalkan kenaikan harga, SBN memberikan imbal hasil rutin. "Kalau dibandingkan, menurut saya SUN justru lebih aman selain emas. Karena ada kupon dan ada kepastian jatuh tempo," ujarnya.


Dari sisi makro, pembelian obligasi oleh investor asing juga berpotensi menopang rupiah karena meningkatkan permintaan terhadap mata uang domestik. Meski demikian, literasi dan akses masih menjadi kendala.


Transaksi SBN dilakukan melalui rekening dana nasabah (RDN) di sekuritas, yang dinilai lebih kompleks dibandingkan perbankan konvensional. Hal ini, kata dia, membuat instrumen tersebut belum populer di kalangan masyarakat luas.


Saat disinggung investor dengan profil risiko lebih rendah, Afif menyarankan, deposito dan reksa dana pasar uang (RDPU) menjadi alternatif. Deposito menawarkan imbal hasil sekitar empat persen, sementara surat utang negara dapat mencapai kisaran enam persen.


Reksa dana, menurut Afif, juga relatif stabil karena dikelola manajer investasi dan memiliki diversifikasi aset. Namun dia mengingatkan, setiap instrumen tetap memiliki risiko, meski tingkat fluktuasinya berbeda.


Sementara itu, saham dan kripto dinilai kurang cocok bagi investor pemula dalam situasi ekonomi penuh gejolak. Volatilitas tinggi serta sensitivitas terhadap sentimen global membuat instrumen ini membutuhkan pemahaman teknikal dan fundamental yang kuat.


"Saham itu volatil. Kalau tidak memahami kondisi perusahaan dan global, sebaiknya dihindari dulu," lontarnya.


Bahkan, Afif menilai, kripto disebut memiliki risiko lebih tinggi. Karena sepenuhnya bergantung pada analisis teknikal tanpa fundamental ekonomi yang jelas.


Afif menekankan, kesalahan paling umum masyarakat saat menghadapi ketidakpastian ekonomi adalah panik. Informasi yang beredar di media sosial maupun pernyataan publik yang tidak terukur kerap memicu keputusan investasi impulsif.


Menurutnya, perlindungan nilai bukan hanya soal memilih instrumen. Tetapi memahami karakteristik masing-masing aset dan menyesuaikannya dengan kebutuhan serta literasi keuangan. "Mulai saja dari yang paling dipahami. Bisa dari SUN dulu. Jangan ikut-ikutan karena pompom," tegasnya.


Afif menambahkan, perlindungan nilai biasanya baru benar-benar dipertimbangkan ketika nilai aset sudah besar. Namun di tengah ketidakstabilan global saat ini, pemahaman dasar mengenai diversifikasi menjadi relevan bagi semua lapisan masyarakat. (aya/laz)

Editor : Herpri Kartun
#emas #Untidar #Surat Utang Negara #ihsg #ANTM #MSCI #saham