KEBUMEN - Di balik kesibukan sebagai aparatur sipil negara (ASN), Arie Setyarini terus menjaga denyut nadi seni budaya daerah agar tetap menyala. Tuntutan dan tanggung jawab kerja bukan jadi penghalang produktif di bidang seni tari. Bahkan di usia kepala lima saat ini, ia baru saja menyelesaikan karya tarinya yang ke 18.
Bagi Arie, berkesenian bukanlah aktivitas sampingan. Ia tak canggung menghidupi seni budaya di tengah tuntutan profesi sebagai ASN. Justru ia memandang seni sebagai sesuatu yang harus terus diperjuangkan dan dirawat bersama. Ia khawatir jika seni budaya tak dijaga, nilai lokal perlahan bakal terkikis zaman.
Perempuan yang bekerja di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kebumen ini bukan seniman biasa. Ia hadir bukan sekadar pelaku atau pegiat seni, tetapi juga pencipta. Di tangan Arie Setyarini, seni tari tidak melulu bicara seni pertunjukan. Namun mampu menjelma menjadi cerita, identitas serta harapan masyarakat agar tetap dikenal dan diingat melalui kekuatan budaya.
Per hari ini ia telah menelurkan 18 karya seni tari dengan muatan budaya lokal. Mayoritas karyanya tidak lepas dari konteks Kebumen. "Tarian yang saya buat tidak semata karya artistik, tapi ada pesan budaya sekaligus potensi daerah," ujarnya saat ditemui Radar Jogja, Jumat (30/1).
Salah satu karya terbarunya adalah Tari Nira Moyang. Sebuah tarian yang terinspirasi dari aktivitas produksi gula semut di wilayah pesisir selatan Kebumen. Ia memilih tema itu karena gula semut kini dikenal sebagai potensi unggulan di Kebumen. Komoditas itu faktanya memiliki nilai ekonomi tinggi dan berhasil menembus pasar ekspor. "Gula khas Kebumen itu sudah go international. Mestinya warga bangga," terangnya.
Melalui Tari Nira Moyang, ia berhasil mengemas proses tradisional produksi gula semut ke dalam gerak tari yang begitu dinamis dan komunikatif. Setiap gerakan merepresentasikan kerja keras masyarakat, kearifan lokal, serta harmoni antara manusia dan alam.
Tarian ini sengaja diciptakan sebagai media promosi budaya agar masyatakat luas dapat mengenal potensi Kebumen. "Seni tari itu bisa buat pintu masuk promosi daerah. Dan, kemarin Tarian Nira Moyang sudah tampil pas parade HUT Jawa Tengah," katanya.
Dari segi prestasi, perempuan kelahiran 2 Januari 1974 itu telah berhasil mengumpulkan 13 jenis penghargaan serta kejuaraan dari tingkat regional, nasional hingga internasional. Di tingkat nasional ia pernah menerima penghargaan sebagai pencipta tari Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta pada tahun 2022 dan 2023. Ia juga meraih Piagam As Performance KBRI Indonesia-Rusia di Moscow, Rusia pada tahun 2019.
Secara pengalaman, alumni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tahun 1997 ini telah matang berorganisasi. Ia tercatat menghabiskan waktu di berbagai organisasi, khususnya menyangkut bidang seni dan budaya. Di antaranya, sebagai penasihat Dewan Kebudayaan Daerah Kebumen. Ia juga ditunjuk sebagai sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kebumen, lalu di Brajabumi Kebumen masuk dalam bagian pengurus bidang hubungan masyarakat. (laz)