Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Supaya Sampah Kota Magelang Tak Lagi Ditumpuk, Model Pengelolaan Sampah di TPST Bojong Masih Dikaji

Naila Nihayah • Jumat, 30 Januari 2026 | 08:05 WIB

 

OVERLOAD: Sel aktif yang menampung sampah di TPSA Bayuurip sudah kritis.
OVERLOAD: Sel aktif yang menampung sampah di TPSA Bayuurip sudah kritis.
 

 

 

 

MAGELANG - Rencana pengelolaan sampah di kawasan Bojong belum masuk tahap pembangunan fisik. Pemkot Magelang masih melakukan kajian mendalam untuk menentukan model pengelolaan yang paling memungkinkan, baik dari sisi teknis maupun kemampuan pembiayaan daerah.

Wali Kota Magelang Damar Prasetyo menyebut, pengelolaan sampah di Bojong diarahkan pada sistem pengolahan tuntas di lokasi.

Namun konsep yang disiapkan bukan lagi sekadar menumpuk sampah, melainkan dipilah dan dimanfaatkan melalui teknologi pengolahan.

Dia mengatakan, konsep itu masih proses kajian yang mendalam karena menyangkut banyak hal, termasuk finansial.

"Tapi konsepnya jelas, sampah di sana harus selesai. Tidak menumpuk, tapi dipilah, dimanfaatkan, dan diselesaikan di tempat," ujarnya, Kamis (29/1).

Menurut Damar, kajian tersebut juga mempertimbangkan karakteristik sampah Kota Magelang yang volumenya relatif masih terkendali dibandingkan daerah lain. Saat ini, sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Banyuurip berkisar 70 ton per hari.

Dengan sistem pemilahan yang berjalan baik dari hulu ke hilir, residu yang benar-benar harus ditimbun diperkirakan hanya sekitar 25 persen. Jika dikelola dari rumah tangga sampai hilir, sisa sampah itu bisa dimanfaatkan kembali.

"Sampah organik bisa untuk pakan maggot, yang nonorganik bisa masuk skema daur ulang," lontarnya.

Damar menekankan, keberhasilan konsep tersebut sangat bergantung pada konsistensi pemilahan sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga. Dia mengakui, edukasi warga dan kedisiplinan petugas pengangkut sampah menjadi kunci agar sampah yang sudah dipilah tidak kembali tercampur.

"Saya selalu tekankan, jangan sampai warga sudah memilah kering dan basah, tapi diangkut lalu dicampur lagi. Itu tidak boleh," tegasnya.

Untuk mendukung hal tersebut, pemkot mulai mendistribusikan gerobak sampah terpilah dan menyediakan tempat sampah terpisah di ruang publik. Sampah yang sudah melalui bank sampah dan tidak bisa dimanfaatkan kembali, barulah dikirim ke TPSA sebagai residu.

Kepala UPT TPSA Banyuurip Dede Panca Permana mengutarakan, gunungan sampah di lokasi tersebut telah mencapai ketinggian sekitar 25 meter dan sudah melebihi kapasitas ideal. Volume sampah yang masuk sekitar 70 ton per hari.

Selain itu, pemkot juga menaruh harapan pada pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Regional di Bandongan, Kabupaten Magelang, yang ditargetkan rampung pada 2027. TPST regional itu nantinya akan menampung sampah dari kota dan Kabupaten Magelang. (aya/pra)

Editor : Heru Pratomo
#Magelang #dAMAR PRASETYONO #pemkot #Sampah #TPST Bojong #TPSA Banyuurip