MUNGKID - Ancaman bencana hidrometeorologi masih membayangi Kabupaten Magelang pada awal 2026. Dalam kurun waktu sepekan, sebanyak 30 kejadian tanah longsor tercatat terjadi di berbagai wilayah. Delapan kecamatan bahkan masuk dalam kategori rawan longsor, seiring masih tingginya intensitas hujan pada puncak musim penghujan.
"Karena itu kami meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dalam beberapa hari ke depan," ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Edi Wasono, Senin (19/1).
Dia menjelaskan, meski frekuensi kejadian cukup tinggi, BPBD Kabupaten Magelang belum menetapkan status tanggap darurat bencana. Sebab kondisi di lapangan masih dinilai dapat ditangani dan belum berdampak signifikan terhadap perekonomian daerah maupun fasilitas umum vital.
Namun demikian, Edi menegaskan, potensi bencana hidrometeorologi masih tinggi. Berdasarkan informasi dari BMKG, puncak potensi hujan deras yang berisiko memicu longsor dan banjir diperkirakan berlangsung pada Januari hingga Februari 2026.
Selain ancaman hidrometeorologi, BPBD juga terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Merapi yang saat ini berada pada status siaga.
"Untuk ancaman dari Gunung Merapi, saat ini yang perlu diwaspadai adalah awan panas guguran yang berpotensi menimbulkan abu vulkanik," katanya.
Berdasarkan hasil pemetaan BPBD Kabupaten Magelang, terdapat delapan kecamatan yang masuk dalam daftar wilayah rawan tanah longsor. Kecamatan tersebut meliputi Borobudur, Salaman, Kajoran, Windusari, Kaliangkrik, Tegalrejo, Pakis, dan Ngablak.
Masyarakat yang tinggal di wilayah rawan diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan, terutama saat hujan turun dengan intensitas tinggi dan durasi lama. Warga juga diminta aktif memantau informasi cuaca dan kebencanaan dari BMKG serta BPBD setempat.
Kondisi tanah yang labil akibat curah hujan tinggi, jata dia, dapat memicu longsor susulan. "Kami berharap masyarakat tetap waspada dan segera melapor jika muncul tanda-tanda pergerakan tanah," ungkapnya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo