Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pendaki Asal Kota Magelang Ditemukan Meninggal di Jalur Punggungan Gunung Malang, Kedalaman Sekitar 50 Meter

Naila Nihayah • Rabu, 14 Januari 2026 | 15:46 WIB
Lokasi ditemukannya jasad Ali di jalur Punggungan Gunung Malang, Rabu (14/1/2026).
Lokasi ditemukannya jasad Ali di jalur Punggungan Gunung Malang, Rabu (14/1/2026).

MAGELANG — Setelah 17 hari pencarian intensif, Syafiq Ridhan Ali Razan, 18 pendaki asal Kota Magelang yang dilaporkan hilang saat mendaki Gunung Slamet, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Jasad korban ditemukan di jalur Punggungan Gunung Malang pada Rabu (15/1/2026).

Kepastian penemuan Ali disampaikan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Kota Magelang Catur Budi Fajar Sumarmo. Dia menerima laporan langsung dari tim SAR tahap kedua yang melakukan penyisiran di kawasan puncak.

"Sekitar pukul 10.30, kami mendapat informasi dari tim SAR di puncak bahwa Ali sudah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia," kata Catur saat konferensi pers di kantor Setda Kota Magelang, Rabu (15/1/2026).

Ali, yang merupakan siswa SMAN 5 Magelang, diketahui memulai pendakian bersama rekannya, Himawan Haidar Bahran, pada Sabtu (27/12/2025) melalui Basecamp Dipajaya, Pulosari, Pemalang. Keduanya berencana melakukan pendakian tektok atau naik-turun dalam satu hari dan dijadwalkan turun pada Minggu (28/12/2025) sore.

Namun hingga hari yang ditentukan, keduanya tidak kunjung turun. Proses pencarian kemudian dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk relawan mandiri, tim SAR, BPBD, serta dukungan Pemkot Magelang.

Pada Selasa (30/12/2025) sore, Himawan ditemukan lebih dulu oleh pendaki lain di sekitar Pos 5 Gunung Slamet dalam kondisi lemah. Seluruh upaya dilakukan untuk melakukan penyisiran di berbagai titik. Hingga akhirnya pencarian itu membuahkan hasil.

Catur menyebut, jasad Ali ditemukan di jalur Punggungan Gunung Malang. Tepatnya di lereng puncak sisi selatan, di antara jalur Gunung Malang dan Baturraden. "Korban ditemukan di lereng puncak dengan perkiraan kedalaman sekitar 50 meter dari punggungan," jelas Catur.

Proses evakuasi jenazah berlangsung cukup panjang dan penuh tantangan. Tim SAR memperkirakan waktu evakuasi dari titik penemuan menuju basecamp memerlukan waktu hampir 15 jam, mengingat kondisi medan yang ekstrem serta lokasi korban yang berada di tebing kawah.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Kota Magelang saat menyampaikan informasi penemuan jasad Ali yang sebelumnya hilang di Gunung Slamet, Rabu (14/1/2026). 
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Kota Magelang saat menyampaikan informasi penemuan jasad Ali yang sebelumnya hilang di Gunung Slamet, Rabu (14/1/2026). 

Sekitar pukul 13.30, pemkot sudah dapat menjalin komunikasi dengan tim evakuasi di lapangan. Pemkot kemudian langsung berkoordinasi dengan Pemkab Pemalang untuk penanganan jenazah.

Catur menjelaslan, jenazah akan dibawa ke rumah sakit di Pemalang untuk disucikan, kemudian diberangkatkan ke Kota Magelang. "Kami sudah mengirimkan tim dari BPBD dan PMI untuk pengawalan hingga rumah duka," terangnya.

Setibanya di Kota Magelang, jenazah rencananya akan disalatkan di masjid sekitar rumah duka dan dimakamkan di Sambunglor, Secang, Kabupaten Magelang, berdekatan dengan makam nenek korban. Keluarga juga diberi kesempatan untuk membuka peti agar ibu korban dapat melihat putranya untuk terakhir kali.

Baca Juga: Ada Siklon 91W, Cuaca Buruk Intai Yogyakarta Selama Momen Libur Long Weekend Isra Mi'raj

Untuk diketahui, Ali merupakan anak ketiga dari pasangan Dhani Rusman dan Utari Juanita. Pemkot Magelang juga memastikan pendampingan psikologis bagi keluarga korban, termasuk koordinasi dengan pihak sekolah. "Kami sejak awal melakukan pendampingan, termasuk kepada orang tua Ali dan juga keluarga Himawan," imbuhnya.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Magelang Candra Wijatmiko Adi menyebut, sejak laporan hilangnya Ali, BPBD Kota Magelang secara aktif mengirim personel untuk membantu pencarian. "Sejak 30 Desember, kami mengirim personel, awalnya lima orang dan kemudian bertambah hingga total 11 personel," katanya.

BPBD pun terus berkoordinasi dengan dengan relawan di lapangan untuk mengetahui informasi pencarian. Dia menegaskan, kejadian ini menjadi pengingat pentingnya kesiapan dan kepatuhan terhadap prosedur pendakian.

Candra menambahkan, BPBD berencana melakukan pembinaan kepada sekolah dan masyarakat terkait keselamatan kegiatan pendakian gunung. "Siapapun yang naik gunung harus betul-betul memahami risiko dan memiliki kualifikasi yang memadai. SOP pendakian harus dipatuhi," tegasnya. (aya)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#pendaki gunung #Magelang #ditemukan meninggal #Asal #Gunung Malang #jalur punggungan