KEBUMEN - Harga komoditas cabai atau lombok di Kebumen mengalami penurunan signifikan. Kondisi ini dirasakan tak lama berselang setelah musim libur akhir tahun berakhir.
Petani Cabai asal Desa Setrojenar, Kecamatan Buluspesantren Paryanto, 41, menyatakan, tren harga cabai cenderung turun sejak masa libur natal dan tahun baru (nataru) selesai.
Dia menyebut, penurunan harga tidak lepas karena pasokan barang kembali normal, termasuk daya beli masyarakat ikut stabil pascaperayaan nataru.
"Turun tajam. Cabai rawit tadinya tembus Rp 50 ribu, sekarang paling sekilo Rp 40 ribu," ungkapnya kepada Radar Jogja, Kamis (8/1).
Di pasaran, harga lombok rawit merah sekarang berkisar Rp 37 ribu-Rp 40 ribu per kilogram. Padahal sebelum masa libur nataru berakhir, harganya mencapai Rp 55 ribu-Rp 58 ribu.
Sedangkan harga cabai merah keriting kini Rp 35 ribu dari sebelumnya tembus Rp 45 ribu per kilogram. Harga cabai teropong pada musim libur lalu mencapai Rp 47 ribu, sekarang dijual Rp 37 ribu per kilogram.
Lebih lanjut, Paryanto menyatakan meski kini harga cenderung turun, petani bersyukur karena harga cabai sempat pada posisi puncak. Saat ini, kata dia, sebagian petani di wilayah pesisir selatan Kebumen akan persiapan memasuki musim tanam cabai.
"Kemarin pas panen, harganya pas dan sesuai harapan petani. Untungnya itu," ujarnya.
Salah satu pedagang Pasar Tumenggungan Pujiati mengatakan, selain cabai harga sejumlah jenis bumbu dapur cenderung stabil.
Kondisi ini terpengaruh terhadap permintaan masyarakat yang kembali normal setelah melewati musim libur panjang akhir tahun. "Ya, harga mulai turun. Pembeli yang datang juga normal," katanya.
Dia memprediksi, fluktuasi harga di Pasar Tumenggungan akan kembali terjadi ketika memasuki ramadan pada bulan depan.
Puncaknya, kenaikan harga komoditas diprediksi akan berlangsung menjelang lebaran pada Maret 2026 mendatang. "Kalau masuk puasa, biasanya ada selisih harga. Paling naik nanti pas mau lebaran," sebutnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo