MUNGKID - Kondisi struktur bangunan Candi Mendut cukup mengkhawatirkan setelah tim rehabilitasi menemukan kerenggangan nat antarbatu atap mencapai hingga 10 sentimeter. Temuan itu menjadi salah satu alasan utama dilakukannya pembongkaran total bagian atap dan mendorong kelanjutan program rehabilitasi candi pada tahun ini.
Koordinator Kegiatan Rehabilitasi Candi Mendut pada Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X Eri Budiantoro mengutarakan, tingkat kerenggangan tersebut jauh melampaui ambang batas toleransi struktur bangunan cagar budaya. Sebab secara teknis, koefisien renggang hitungannya milimeter.
"Tapi saat pembongkaran, kami menemukan nat-nat batu di bagian atap sudah ada yang renggang sampai 10 sentimeter," kata Eri di gedung DPRD Kabupaten Magelang, Rabu (7/1).
Menurutnya, kondisi tersebut sangat berbahaya bagi keberlangsungan struktur candi. Jika tidak segera ditangani, risiko keruntuhan menjadi sangat tinggi. Bahkan, dia memperkirakan, ketika tidak segera ditangani, dalam jangka waktu maksimal lima tahun ke depan candi tersebut bisa runtuh.
Saat ini, progres rehabilitasi masih berada pada tahap pembongkaran. Fokus utama diarahkan pada bagian atap yang dinilai paling kritis akibat perenggangan nat dan melemahnya ikatan antarbatu. Eri menjelaskan, rencana rehabilitasi sebenarnya telah disusun sejak awal dan ditargetkan berlanjut pada 2026.
Namun, pelaksanaannya sempat tertahan akibat perubahan regulasi dan reorganisasi kelembagaan di tingkat pusat. "Kami masih menunggu kepastian anggaran, apakah lewat BPK atau lewat Museum dan Cagar Budaya (MCB). Itu masih menunggu keputusan dari pusat," jelasnya.
Baca Juga: Tingkatkan PAD Pariwisata, Dispar Bantul akan Optimalisasi Media Sosial untuk Ajang Promosi
Ketidakpastian sumber anggaran membuat jadwal pelaksanaan belum bisa dipastikan. Meski demikian, Eri memastikan, program rehabilitasi akan berjalan di tahun ini dan tidak dihentikan.
"Niatnya kemarin secepat-cepatnya setelah Lebaran bisa mulai. Tapi awal tahun ini ada perubahan, anggarannya jadi belum jelas dari mana, sehingga kami tidak berani memastikan waktu mulai," lontarnya.
Dalam tahap lanjutan nanti, pekerjaan tidak hanya sebatas pembongkaran. Tim juga akan melanjutkan pembongkaran sebagian sungkup yang belum selesai, kemudian melakukan pemasangan kembali struktur candi secara bertahap.
Salah satu target utama rehabilitasi adalah rekonstruksi atap utama berbentuk stupa. Selama ini, bagian tersebut belum terpasang secara utuh sehingga berpotensi menyebabkan kebocoran dan melemahkan struktur bangunan. "Dengan begitu, candi tidak akan bocor lagi dan secara struktur akan jauh lebih kuat, sehingga bisa bertahan lebih lama," ujar Eri.
Rekonstruksi stupa tersebut dimungkinkan setelah tim melakukan serangkaian penelitian selama proses pembongkaran. Batu-batu yang sebelumnya menumpuk dan dikelilingi pagar pengaman telah melalui proses identifikasi, penyusunan, dan penyetelan ulang.
"Yang dulu hanya berupa tumpukan batu sekarang sudah bersih. Kita cari, kita stel, dan akhirnya ketemu susunannya. Dari situ bisa kita rekonstruksi lagi," sambungnya.
Dengan rekonstruksi tersebut, ketinggian candi juga akan mengalami perubahan. Saat ini tinggi bangunan candi sekitar 29 meter. Setelah stupa utama terpasang, ketinggian diperkirakan bertambah sekitar 3 hingga 4 meter. Sehingga nantinya tinggi Candi Mendut menjadi sekitar 33 meter.
"Nanti semua akan kita kembalikan lagi seperti semula, tapi dengan perkuatan yang sesuai kaidah pemugaran. Tujuannya agar bangunan tetap autentik, tetapi secara struktur jauh lebih aman," tuturnya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo