MUNGKID — Puluhan pedagang di kawasan Candi Mendut, menggelar doa bersama pada Jumat (19/12) sore. Kegiatan ini menjadi ungkapan harapan sekaligus ikhtiar batin para pedagang yang telah berbulan-bulan merasakan dampak sepinya kunjungan wisata. Utamanya sejak proses pemugaran candi dimulai pertengahan tahun ini.
Doa bersama digelar sederhana di kawasan candi dan diikuti pedagang kios suvenir, kuliner, hingga jasa pendukung pariwisata. Suasana khidmat terasa ketika para pedagang memanjatkan doa agar kondisi pariwisata di Candi Mendut kembali pulih seperti sebelum pemugaran.
Ketua Pedagang Candi Mendut, Zulfiati mengatakan, kegiatan doa bersama ini bukan kali pertama dilakukan. Menurutnya, kegiatan serupa pernah digelar saat pandemi Covid-19, ketika aktivitas wisata lumpuh total.
"Sekarang kami lakukan lagi, memohon kepada Allah supaya wisatawan kembali datang dan kondisi bisa ramai seperti sedia kala," ujar Zulfiati usai doa bersama, Jumat sore (19/12).
Penurunan jumlah pengunjung mulai dirasakan sejak Juli 2025, bertepatan dengan dimulainya pemugaran Candi Mendut. Sejak saat itu, arus wisatawan menurun drastis, berdampak langsung pada pendapatan pedagang.
"Sejak Juli, benar-benar sepi. Pernah dalam satu hari hanya empat orang yang masuk ke candi. Itu sangat jauh dibanding kondisi normal," keluhnya.
Zulfiati menjelaskan, saat kondisi ramai, pedagang setidaknya masih bisa memperoleh pendapatan minimal sekitar Rp 100 ribu per hari, bahkan bisa meningkat pada hari-hari besar atau musim liburan. Namun selama masa pemugaran, banyak kios nyaris tidak mendapat pemasukan sama sekali.
"Sekarang itu bisa dibilang tidak ada tamu. Banyak pedagang akhirnya memilih tutup sementara. Yang masih buka ya tinggal kuliner dan beberapa yang jual suvenir," ucapnya.
Di sisi lain, pedagang menyambut rencana pembukaan kembali sebagian area Candi Mendut yang dijadwalkan mulai Sabtu (20/12). Pembukaan ini merupakan hasil fasilitasi pengelola kawasan, yang diharapkan dapat memicu kembalinya kunjungan wisata.
Pedagang lain, Untung menyebut, selama masa pemugaran, akses pengunjung sangat terbatas. Area depan candi ditutup sehingga wisatawan tidak bisa naik hingga mendekati bangunan utama, membuat minat kunjungan semakin menurun.
"Selama ini pengunjung hanya sampai halaman, tidak bisa naik. Jadi orang merasa cukup lihat dari luar," lontarnya.
Menurut dia, dengan dibukanya kembali sebagian akses hingga relung candi, wisatawan setidaknya bisa melihat arca dan sebagian relief, meski belum bisa mengelilingi seluruh bangunan.
"Walaupun baru sekitar 50 persen, tapi sudah bisa naik dan melihat patung. Itu sudah lebih menarik," sambungnya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo