MAGELANG - Suasana haru dan bangga menyelimuti GKU dr HR Suparsono, Universitas Tidar (Untidar) saat ratusan mahasiswa resmi menyandang gelar akademik, Sabtu (13/12). Dalam prosesi Wisuda Periode ke-72 Tahun 2025 tersebut, Untidar meluluskan 425 wisudawan dari jenjang Sarjana dan Ahli Madya yang berasal dari 18 program studi dan lima fakultas.
Di antara ratusan wisudawan, nama Dias Rizki mencuri perhatian. Mahasiswa program studi S1 Pendidikan Biologi ini dinobatkan sebagai wisudawan terbaik setelah lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,87 dan masa studi 3 tahun 9 bulan 10 hari.
Baca Juga: Latih Anggota Jaga Komunikasi Radio, Orari DIY Gelar Lomba Lacak Sinyal untuk Skenario Bencana
Prestasi tersebut terasa istimewa karena diraih melalui perjalanan panjang yang penuh keterbatasan. Dias merupakan putra sulung dari keluarga sederhana di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Ayahnya bekerja sebagai penjual sate keliling dan tidak menamatkan pendidikan dasar. Sementara ibunya, lulusan SMP, harus bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di Taiwan sejak Dias duduk di bangku SMA. "Wisuda ini bukan hanya tentang saya, tetapi tentang perjuangan orang tua saya," ucap Dias dengan suara bergetar.
Ia menyebut kedua orang tuanya sebagai sumber utama nilai perjuangan, ketulusan, dan keteguhan hidup. Ibunya bahkan pulang dari Taiwan dengan mengambil cuti khusus demi menyaksikan langsung momen wisuda putra sulungnya.
Ketika Dias tidak lolos program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), biaya pendidikannya tetap diupayakan sang ibu dari luar negeri. Untuk meringankan beban keluarga, sejak semester tiga Dias bekerja sebagai penjaga warung pecel lele hingga menjadi pengajar di sejumlah bimbingan belajar.
Hampir setiap hari, ia membagi waktu antara kuliah dan mengajar biologi untuk siswa SMP dan SMA. Bahkan, ia pernah seharian berkuliah, tetapi tetap mengupayakan untuk mengajar di dua tempat sampai malam.
"Capek, tapi saya senang karena bisa mandiri," tuturnya.
Menjelang kelulusan, Dias kembali mendapat kesempatan berharga. Ia lolos program beasiswa wirausaha dari TJSL PT Pegadaian bekerja sama dengan Young Entrepreneur Academy (YEA).
Selama enam bulan, ia mengikuti pelatihan intensif di Bandung dan Cimahi, sekaligus mengembangkan usaha kuliner bersama rekan-rekannya. Kini, Dias telah membuka outlet bakso dengan inovasi kuah keju, dan berencana mengembangkan usaha tersebut ke kota lain setelah masa pelatihan berakhir.
Baca Juga: Profesional, M. Fahri Tinggalkan Dulu Keluarga di Aceh untuk Berbagung Kembali ke PSS Sleman
Meski mulai menapaki dunia bisnis, minat Dias pada dunia pendidikan tetap terjaga. Ia aktif dalam penelitian dan publikasi ilmiah bersama dosen, serta berencana melanjutkan studi ke jenjang Pendidikan Profesi Guru (PPG) atau S2 setelah usahanya stabil.
Selain Dias, wisuda kali ini juga mencatat capaian akademik lain yang tak kalah membanggakan. Asti Giri Anjani, mahasiswi program studi S1 Hukum, tercatat sebagai wisudawan dengan masa studi tercepat, yakni 3 tahun 6 bulan 22 hari.
Mahasiswi asal Wonogiri itu mengaku tidak menyangka akan menyelesaikan studi lebih cepat dari sebagian besar teman seangkatannya. Namun, ia menyadari capaian itu merupakan hasil dari perencanaan dan konsistensi yang telah ia bangun sejak awal kuliah. "Tujuan utama saya lulus cepat adalah meringankan beban orang tua," ujar Asti.
Meski aktif berorganisasi, ia tetap menjaga fokus akademik dan disiplin dalam menyusun skripsi. Bahkan, ia kerap memanfaatkan waktu-waktu tak terduga untuk menulis, mulai dari ruang tunggu hingga perjalanan pulang.
Skripsi Asti mengangkat tema tinjauan yuridis terhadap tindak pidana residivis anak sebagai perantara, yang lahir dari keprihatinannya terhadap praktik pemanfaatan anak dalam kasus narkotika. "Banyak anak yang sebenarnya korban, tapi akhirnya ditetapkan sebagai residivis. Padahal mereka juga memiliki hak atas perlindungan hukum," ungkapnya.
Meski lulus lebih cepat, Asti menegaskan, keberhasilannya tak lepas dari dukungan dosen dan teman-teman seperjuangan. Ia pun berharap kisahnya dapat memotivasi mahasiswa lain untuk percaya pada proses dan konsistensi.
Rektor Untidar Prof Sugiyarto menyebut, para lulusan datang dari berbagai latar belakang daerah dan budaya. Perbedaan itu, kata dia, menjadi cerminan semakin luasnya kepercayaan masyarakat terhadap Untidar sebagai perguruan tinggi negeri di kawasan Magelang.
"Ini menunjukkan bahwa Untidar telah dikenal secara nasional, sekaligus menjadi bukti nyata keberagaman lintas budaya yang patut kita banggakan," paparnya.
Dia menegaskan, keberagaman itu bukan sekadar statistik, melainkan modal sosial yang harus dimanfaatkan para lulusan sebagai jejaring kolaborasi lintas disiplin dan budaya. Selaras dengan visi Untidar sebagai universitas unggul berbudaya, dia berharap, para wisudawan tetap menjunjung nilai-nilai budaya TIDAR atau tangguh, integratif, dedikatif, aktif, dan responsif, dalam perjalanan karier dan kehidupan bermasyarakat.
"Lulusan Untidar tidak hanya dituntut unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki integritas, etika, serta kemampuan menjaga dan mengembangkan budaya bangsa," tegasnya.
Prosesi wisuda ke-72 Untidar pun, lanjut dia, menjadi lebih dari sekadar seremoni akademik. Di balik toga dan ijazah, tersimpan kisah kerja keras, pengorbanan keluarga, serta harapan akan masa depan yang lebih baik, bagi para lulusan maupun masyarakat yang kelak mereka layani. (aya)
Editor : Sevtia Eka Novarita