Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pasang Kawat Berduri Jaga Area Sabana, Cara Pengelola Jalur Pendakian Gunung Sumbing Rawat Ekosistem

Naila Nihayah • Rabu, 5 November 2025 | 10:30 WIB

 

Pengelola jalur pendakian Gunung Sumbing memasang kawat berduri untuk mencegah kerusakan ekosistem.   
Pengelola jalur pendakian Gunung Sumbing memasang kawat berduri untuk mencegah kerusakan ekosistem.  

 

MUNGKID - Pengelola salah satu jalur pendakian Gunung Sumbing memasang pagar kawat berduri di sekitar area sabana untuk membatasi akses pendaki dan mencegah kerusakan ekosistem. Video yang memperlihatkan kondisi sabana itu pun viral di media sosial.

Kawat berduri itu dipasang di pos 3 jalur pendakian Gunung Sumbing. Tepatnya di Desa Lamuk, Kalikajar, Wonosobo. Selain pagar kawat berduri, pengelola juga memberi papan bertuliskan 'Maaf hanya hewan/monyet yang melintasi kawat pembatas'.

Ketua Forum Pengelola Gunung Sumbing (FPGS) Lilik Setyawan menjelaskan, pemasangan pagar kawat berduri itu dilakukan di sekitar pos 2 hingga 3 jalur Gajah Mungkur. Upaya ini bertujuan menjaga agar pendaki tidak melebar keluar jalur resmi dan menginjak vegetasi sabana yang rentan rusak.

Langkah ini dilakukan oleh Basecamp Pemuda Mandiri dan mendapat dukungan dari FPGS. Sebab sabana di jalur itu sangat menarik perhatian pendaki, terutama untuk berfoto. "Tapi kalau tidak dibatasi, nanti bisa rusak dan ekosistemnya terganggu. Jadi, pemasangan pembatas itu dilakukan supaya kawasan tetap terawat," ujarnya melalui sambungan telepon, Selasa (4/11).

Lilik mengatakan, pembatas itu semula hanya menggunakan tali biasa. Namun sejak dua bulan terakhir diganti kawat berduri agar lebih kuat dan efektif. Panjang kawat mencapai sekitar 100 meter, mengelilingi area sabana di sekitar Pos 3. Dia menyebut, area tersebut memang merupakan jalur baru yang dibuka oleh Basecamp Pemuda Mandiri.

"Sejak awal mereka sudah membuat pembatas, termasuk di area camp. Awalnya tali, lalu diganti kawat biar lebih jelas batasnya," kata pengelola Basecamp Butuh, Kaliangkrik, Magelang itu.

Lilik menambahkan, meski pemasangan kawat dilakukan oleh pengelola basecamp setempat, kebijakan itu sejalan dengan kesepakatan forum antarbasecamp yang mengelola jalur pendakian di Gunung Sumbing. Tujuannya untuk menjaga keseimbangan alam di setiap jalur pendakian.

Gunung Sumbing saat ini memiliki 15 jalur pendakian, dengan 12 basecamp aktif yang tersebar di wilayah Kabupaten Wonosobo, Temanggung, dan Magelang. Setiap jalur, kata dia, dikelola oleh komunitas pemuda atau kelompok pecinta alam setempat yang bernaung di bawah koordinasi FPGS.

 

Selain menjaga lingkungan, forum juga rutin memberikan imbauan kepada pendaki agar menaati aturan keselamatan dan etika pendakian. Lilik menekankan pentingnya kesiapan fisik dan perlengkapan sebelum naik gunung, mengingat kondisi cuaca di puncak sering tidak menentu.

FPGS juga mewajibkan setiap pendaki untuk tidak meninggalkan sampah di jalur pendakian. Pengelola basecamp biasanya mencatat jumlah logistik dan memastikan sampah dibawa turun dengan jumlah yang seimbang. "Setiap pendaki nanti harus melaporkan sampahnya setelah turun. Itu sudah menjadi kewajiban," tegas Lilik. (aya/pra)

Editor : Heru Pratomo
#Magelang #wonosobo #sabana #Gajah Mungkur #kawat berduri #Area #pendakian Gunung Sumbing #temanggung