MUNGKID – Kebakaran hebat melanda Borobudur Cultural Center (eks Hotel Manohara Borobudur) pada Sabtu (20/9/2025) dini hari. Beruntung, dalam peristiwa itu tidak ada korban jiwa. Namun, kerugian material diperkirakan mencapai Rp 3 miliar hingga Rp 4 miliar.
Kepala UPT Penanggulangan Kebakaran (Damkar) Kabupaten Magelang Edy Priyanta menjelaskan, sekitar pukul 00.26, tim keamanan hotel mendengar dua kali suara ledakan. Lalu, disusul munculnya api dan asap tebal yang diduga berasal dari kabel listrik yang terbakar.
Dalam hitungan menit, api cepat menjalar ke seluruh bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu. Lantas, regu piket menerima laporan sekitar pukul 00.28.
Tim bergegas meluncur dua menit kemudian. "Api berhasil dikuasai sekitar setengah jam, lalu dilakukan pendinginan hingga pukul 02.30," ujar Edy saat dimintai keterangan.
Untuk memadamkan api, Damkar menerjunkan 11 unit armada dari pos induk dan sejumlah pos bantuan.
Meski kondisi cukup menantang, petugas berhasil mencegah api merembet ke bangunan lain di kompleks hotel.
Dugaan sementara, penyebab kebakaran berasal dari korsleting listrik. Namun, Edy juga menyebut adanya ledakan tambahan saat proses pemadaman.
"Laporan dari petugas, sempat terdengar ledakan yang kemungkinan berasal dari tabung gas di area dapur. Tapi ledakan itu hanya sekali," katanya.
Meski tidak ada korban jiwa, ada petugas damkar yang mengalami luka ringan, seperti tangan sobek akibat terkena paku saat proses pemadaman. "Itu risiko pekerjaan, tapi syukurlah tidak ada korban," paparnya.
Dia menyebut, bangunan ruang meeting yang sebagian besar berbahan kayu membuat api lebih cepat membesar.
Adapun nilai kerugian ditaksir mencapai Rp 3 miliar hingga Rp 4 miliar, termasuk kerusakan bangunan, peralatan pertemuan, dan fasilitas pendukung.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari PT TWC selaku pengelola. Area bangunan yang terbakar, tampak diberi tanda garis polisi. Pengelola bersama pihak terkait masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait detail penyebab kebakaran. (aya)
Editor : Heru Pratomo