MUNGKID – Aksi demonstrasi yang terjadi pada Jumat (29/8) ternyata ikut berimbas pada sektor pariwisata di Kabupaten Magelang. Meski situasi di wilayah ini relatif aman dan kondusif, sejumlah pengunjung memilih membatalkan atau menunda kunjungannya ke berbagai destinasi wisata.
Kepala Bagian Pemasaran dan Promosi Ketep Pass Magelang Edwar Alfian mengutarakan, akhir pekan lalu Ketep Pass merasakan dampak pembatalan kunjungan dari beberapa rombongan wisatawan. Tidak hanya di Ketep Pass, kondisi tersebut juga dirasakan oleh destinasi lain.
"Long weekend ini kami siapkan betul karena kemarin sempat agak terganggu soal aksi pekan lalu, jadinya Sabtu (30/8) ada beberapa rombongan yang membatalkan kunjungan," paparnya di MAJT An-Nuur Kabupaten Magelang, Jumat (5/9).
Meski begitu, kondisi mulai membaik pada Minggu (31/8). Tercatat lebih dari 1.000 orang berkunjung ke Ketep Pass setelah adanya kampanye Magelang Cinta Damai yang digalakkan oleh berbagai pihak. Beruntung, sosialisasi itu cukup memberikan efek positif kepada masyarakat.
Dampak pembatalan kunjungan juga dialami oleh Omah Mbudur, sebuah restoran di kawasan Borobudur. Pemilik Omah Mbudur Nuryanto menyebut, sedikitnya 200 pengunjung membatalkan agenda kunjungan karena alasan keamanan.
Baca Juga: Usai Mancing Tiga Sahabat Hanyut di Sungai, Satu Tak Kembali Terseret Arus Sungai Bogowonto
Menurutnya, sektor pariwisata cukup sensitif. Tidak hanya isu keamanan, lanjut dia, isu ketidaknyamanan saja bisa membuat wisatawan enggan datang. "Di Omah Mbudur, ada rombongan pelajar SMP 45 Jakarta yang rencananya akan life in mulai Sabtu (6/9). Karena kondisi ini, mereka menunda hingga bulan depan," ungkapnya.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Magelang Usep Syarifudin menambahkan, dampak lebih luas dirasakan dari sisi kunjungan wisatawan mancanegara. Travel warning yang dikeluarkan sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan Australia, membuat sektor pariwisata sedikit lesu.
Awal September ini, dia berharap pada tamu-tamu dari luar negeri karena masih musim liburan musim panas dari Eropa dan Amerika. "Tapi begitu ada demo, langsung ada travel warning dan beberapa pembatalan. Wisatawan domestik juga ikut menurun," jelas Usep.
Baca Juga: Terima Sampah Kota Jogja, Pemkab Gunungkidul Tunggu Revisi Perda, Masih dalam Tahap Penjajakan sambil Siapkan TPST Tanjungsari
Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengakui, informasi kerusuhan yang beredar di media sosial menimbulkan efek psikologis bagi wisatawan. Meski Kabupaten Magelang sendiri tidak mengalami kerusuhan.
Masyarakat melihat pemberitaan kerusuhan di beberapa daerah, lalu menunda kunjungan, padahal Magelang aman dan landai. "Bahkan acara besar seperti Borobudur Super Moon yang harusnya dibuka 6 September, diminta mundur satu bulan oleh penyelenggara dari Gianyar (Bali)," ungkapnya. (aya/pra)