KEBUMEN - Dari kejauhan suara teriakan merdeka terdengar dari halaman rumah Teguh Kuatno. Rumahnya di Gang Rambutan, Desa Pejagoan seketika ramai para penyandang disabilitas. Mereka berkumpul untuk ikut lomba peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-80 Republik Indonesia.
Keterbatasan fisik tak mengurangi semangat penyandang disabilitas memperingati kemerdekaan bangsa. Mereka yang tergabung dalam Sahabat Disabilitas Kebumen (SDK) berbaur untuk mengikuti delapan jenis lomba.
Baca Juga: JNE Resmi Jadi Mitra Logistik Konser Dewa 19 Feat. Allstars 2.0 di stadion Gelora Bung Karno
Sorak sorai terdengar menggema di tengah kegiatan lomba. Sesekali gelak tawa pecah ketika para penyandang disabilitas itu bergantian mengikuti lomba. Gelaran lomba yang baru pertama digelar ini juga mengundang perhatian masyarakat yang melintas. "Hari ini kami senang sekali, semua terlihat ceria. Ada delapan lomba yang disiapkan," kata Ketua SDK Teguh Kuatno kepada Radar Jogja, Senin (18/8).
Suasana hangat terasa saat mereka beradu ketangkasan lewat lomba berkelompok. Satu dengan yang lain tampak saling bantu demi berebut hadiah. Kemeriahan semakin lengkap ketika panitia berbagi doorpize yang telah disiapkan.
Di lokasi, penyandang disabilitas daksa dan netra terlihat begitu bersemangat. Masing-masing ambil bagian demi kemeriahan momentum agustusan. "Kendala fisik bukan penghambat. Ini bentuk ekspresi kami kepada bangsa," jelasnya.
Bagi mereka, perayaan HUT RI bukan sekadar agenda rutin tahunan, namun juga sebagai ruang kebersamaan untuk bisa saling menguatkan. Mereka juga ingin mengirim sinyal kepada masyarakat luas, bahwa penyandang disabilitas punya hak sama. Mereka ingin berdiri sejajar tanpa ada diskriminasi. "Kami tidak ingin dikucilkan. Semangat nasionalisme kami sama dengan masyarakat lain," ucapnya.
Baca Juga: Kisah Susmiati, Perempuan Penjaga Pantai yang Kibarkan Merah Putih di Tengah Laut Baron Gunungkidul
Mereka menganggap peringatan hari kemerdekaan ini menjadi ajang menumbuhkan semangat. Bukan sebagai titik keterpurukan karena tidak mampu mengikuti kemeriahan layaknya masyarakat dengan kondisi fisik normal. Pertemuan itu juga dimanfaatkan untuk membangun ikatan emosional antar penyandang disabilitas. "Tentu sekarang kita bisa kumpul, silaturahmi. Saling tertawa lepas. Momen yang cukup langka," ungkap seorang disabilitas Apri Kuncoro. (fid)
Editor : Sevtia Eka Novarita