MUNGKID – Ogoh-ogoh Garuda Wisnu Kencana kreasi pemuda RT 03 Dusun Karangtengah Selatan Desa Ngadiharjo, Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang bukan ogoh-ogoh biasa. Karena terbuat dari limbah sisa bahan membuat sandal upanat.
"Bahannya dari limbah spon ati (spon eva) sisa pembuatan sendal upanat," kata Ketua Pemuda Dusun Karangtengah Selatan, Iwan Widiatmoko, Selasa (12/8). Tinggi ogoh ogoh mencapai tiga meter lebih dengan kerangka penopang dari bambu dan kayu.
Saat ini keberadaan sandal upanat menjadi alas kaki wajib bagi wisatawan yang naik Candi Borobudur. Desain sandal upanat terinspirasi dari relief Karmawibhangga panel 150, Candi Borobudur.
Sandal upanat terbuat dari kombinasi daun pandan, batok kelapa, dan spon ati eva yang dirancang untuk mengurangi kerusakan batuan candi akibat gesekan alas kaki.
Pembuatan sandal upanat di wilayah Borobudur melibatkan warga lokal yang memproduksi sekitar 1.200 pasang sandal setiap hari. Ide menggunakan spon limbah sandal upanat, menurut Iwan, muncul dari banyaknya perajin di wilayah Candi Borobudur. Bahan daur ulang itu dikumpulkan secara bertahap tidak dibeli.
Ditambahkan Iwan, awalnya mengumpulkan bahan spon sempat kesulitan, karena baru pertama kali. Biasanya, menurut perajin, sisa spon hanya dibakar atau dibuang."Namun atas bantuan teman akhirnya bisa kita kumpulkan," jelas Iwan.
Ketua Badan Usaha Milik Bersama (Bumdesma) Kecamatan Borobudur, Nuryanto mengapresiasi kreativitas warga Dusun Karangtengah Selatan Desa Ngadiharjo, dengan pemanfaatan limbah spon sandal upanat.
Menurutnya, kegiatan pembuatan ogoh ogoh itu sangat bermanfaat dalam keberlangsungan usaha sandal upanat di wilayah Borobudur. Karena mengurangi limbah menjadi barang seni bernilai tinggi.
"Kami sebelumnya sudah biasa memanfaatkannya (spon ati eva) ke dalam cetakan stupa, arca sebagai urat agar hasilnya semakin kuat," kata Nuryanto.
Menurutnya, jika wacana pemerintah menaikan angka kunjungan wisatawan naik ke Candi Borobudur menjadi 10 ribu diberlakukan, maka limbah dari sandal upanat melimpah. Hal itu tentu menjadi peluang baru bagi perajin dan seniman untuk lebih kreatif memanfaatkannya.
Selain itu, imbuhnya, karakter spon ati yang lentur, ringan dan awet sangat mudah dibuat berbagi kreasi yang indah. "Spon sangat sesuai dan hasilnya juga sempurna bagus untuk dilihat mata," ungkap Nuryanto yang juga perajin aneka suvenir Borobudur. (uma/pra)
Editor : Heru Pratomo