KEBUMEN - Nelayan di Pantai Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kebumen dalam dua bulan terakhir merayakan panen lobster dan bawal putih. Hasil tangkapan laut itu cukup dinanti para nelayan karena masuk dalam komoditas dengan nilai jual tinggi.
Petugas Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Karangduwur Satiman, 52, mengatakan, saat ini nelayan sibuk melaut seiring musim panen lobster dan bawal putih. Kedua jenis tangkapan tersebut paling banyak dicari mengingat harganya jauh lebih mahal ketimbang jenis ikan lain. "Kemarin pas lelang, bahkan ada yang dapat sampai satu kuintal. Tinggal dikali, misal harga minim sekarang sekilo Rp 150 ribu," ungkapnya saat ditemui Radar Jogja, Senin (14/7).
Disebutkan, harga bawal putih sekarang berkisar antara Rp 150 ribu hingga Rp 400 ribu per kilogram, tergantung kualitas dan ukuran. Sedangkan harga lobster bisa mencapai Rp 250 ribu per ekor. Tingginya harga komoditas ini menurutnya menjadi faktor nelayan bersemangat melaut.
Satiman menyatakan, hasil tangkapan laut sejauh ini sulit diprediksi. Namun nelayan diuntungkan ketika datang musim komoditas tertentu dengan harga jual tinggi. Dia berharap, cuaca di perairan laut selatan tetap stabil sehingga tidak mengganggu aktivitas nelayan dalam melaut. Kendati begitu para nelayan juga waspada terhadap kemungkinan terjadinya gelombang tinggi. "Kalau pas bagus, berangkat sore, jam 9 sudah mentas (mendarat)," katanya.
Salah satu tengkulak ikan di TPI Karangduwur Saimun, 46, mengatakan, hasil tangkap pada musim panen bawal dan lobster memang cukup menjanjikan. Jika beruntung sekali melaut para nelayan dapat mengangkut sedikitnya 30 kilogram lobster. "Sekarang pas lagi musim, sebelumnya satu kapal bisa bawa paling banyak 10 kilogram," katanya.
Saimun menerangkan, bawal putih dan lobster termasuk komoditas ekspor, sehingga harga jual cukup tinggi. Adapun hasil tangkapan nelayan di TPI Karangduwur dikirim ke berbagai wilayah. Terutama kota besar di area Jabodetabek. "Habis dari TPI langsung kirim ke perusahaan. Sudah ada yang siap tampung. Ada juga buat restoran," bebernya. (fid)
Editor : Sevtia Eka Novarita