Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lawan Ketergantungan Gadget, HAN 2025 di Borobudur Angkat Permainan Tradisional Anak

Naila Nihayah • Senin, 14 Juli 2025 | 16:10 WIB

 

 

Lepas Ketergantungan pada Gadget  Hari Anak Nasional Jadi Panggung Kebudayaan dan Refleksi Keluarga
Lepas Ketergantungan pada Gadget Hari Anak Nasional Jadi Panggung Kebudayaan dan Refleksi Keluarga

MUNGKID – Pemerintah menghadirkan pendekatan baru dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2025 dengan menggelar kegiatan bertajuk Doland Festival Borobudur di kawasan Marga Utama, kompleks Candi Borobudur, Sabtu (12/7). Lewat kegiatan itu, HAN menjadi penggung kebudayaan dan refleksi keluarga.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Arifah Choiri Fauzi mengutarakan, kegiatan ini merupakan pendekatan baru.

"Kami ingin anak-anak merasakan bahwa hari ini adalah milik mereka, di lingkungan tempat mereka tinggal," ujarnya usai membuka kegiatan.

Fokus perayaan tahun ini adalah permainan tradisional, lagu-lagu daerah, lagu nasional, hingga dongeng kepahlawanan lokal. "Ini sebagai upaya agar anak-anak lepas dari ketergantungan terhadap gadget," sambungnya.

Menurut dia, Doland Festival Borobudur bukan sekadar acara meriah. Di balik setiap permainan egrang, gobak sodor, atau lagu-lagu daerah yang dinyanyikan anak-anak, tersimpan misi besar. Yakni mengembalikan kebahagiaan anak lewat budaya, bukan layar ponsel.

Arifah pun menekankan pentingnya peran keluarga sebagai tempat pulang yang aman bagi anak-anak. Dia menyadari, banyak anak hari ini kehilangan ruang aman untuk berbicara dan mencurahkan isi hati.

 Baca Juga: Dari Piala Pertiwi, Pelatih Timnas Puteri Indonesia Kantongi Nama Calon Bintang Masa Depan 

Anak-anak, lanjut dia, seolah kehilangan tempat bercerita. "Mereka harus tahu bahwa orang tua, ayah dan bunda, adalah tempat mereka kembali," ucap Arifah yang juga berbicara sebagai seorang ibu.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno menyampaikan, peringatan HAN bukan hanya soal seremoni. Tetapi juga bentuk pengingat kolektif bahwa negara harus hadir untuk anak-anak. Baik dalam perlindungan maupun pemenuhan hak mereka.

Menurutnya, pendekatan pembangunan yang ramah anak bukan hanya soal taman bermain atau fasilitas kesehatan. Melainkan soal memberi ruang bagi anak untuk menyuarakan pendapatnya dan ikut membentuk masa depannya sendiri.

"Kami berkomitmen mendengarkan suara anak. Dalam setiap proses pembangunan daerah, kami libatkan mereka," ujarnya. (aya/pra)

Editor : Heru Pratomo
#Borobudur #permainan tradisional #Lepas #ketergantungan gadget #Hari Anak Nasional (HAN) #menteri pppa arifatul choiri fauzi #festival dolanan #jawa tengah