Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pameran 'Timelaps' Lintas Negara di Borobudur: Menyulam Sejarah, Seni, dan Budaya

Naila Nihayah • Rabu, 2 Juli 2025 | 20:31 WIB
MENARIK: Karya-karya milik seniman Belanda dan Indonesia mengisi ruang kosong di Limanjawi Art House, Borobudur, Rabu (2/7/2025).
MENARIK: Karya-karya milik seniman Belanda dan Indonesia mengisi ruang kosong di Limanjawi Art House, Borobudur, Rabu (2/7/2025).

MUNGKID – Candi Borobudur bukan hanya monumen batu megah warisan dunia, melainkan juga ruang hidup bagi dialog lintas zaman dan budaya.

Semangat inilah yang diusung dalam pameran seni bertajuk 'Timelaps' yang digelar di Limanjawi Art House, Borobudur, mulai 4-17 Juli 2025.

Pameran ini mempertemukan seniman dari Indonesia dan Belanda dalam satu ruang.

Mereka tidak hanya memamerkan karya, tetapi juga merayakan sejarah, merawat ingatan, dan merajut diplomasi budaya dua bangsa.

Pemilik Limanjawi Art House Umar Chusaeni mengatakan, kolaborasi ini berangkat dari satu titik sejarah penting.

Yakni pemugaran Candi Borobudur tahap pertama pada 1907–1911 yang dipimpin oleh insinyur Belanda, Theodoor van Erp.

Menurutnya, Borobudur tidak akan semegah sekarang bila tidak melalui proses restorasi awal yang dilakukan Van Erp.

"Ini catatan sejarah yang tidak boleh dilupakan," kata Umar di Limanjawi Art House, Rabu (2/7/2025).

Pameran ini, kata dia, menjadi bentuk penghormatan dan juga pernyataan bahwa seni bisa menjadi jembatan lintas bangsa dalam menjaga warisan budaya dunia.

Timelaps menampilkan 55 karya seni hasil eksplorasi 24 seniman.

Sembilan seniman dari Belanda dan 15 dari Indonesia.

Karya-karya tersebut lahir dari interpretasi personal para seniman terhadap Borobudur, baik melalui kunjungan langsung maupun riset mendalam.

Ada lukisan, instalasi, fotografi, hingga karya media campuran.

Seluruhnya membawa napas Borobudur dalam sudut pandang yang berbeda.

"ni bukan sekadar pameran seni rupa, melainkan peristiwa budaya," paparnya.

Seluruh seniman yang terlibat, lanjut Umar, ingin menyampaikan bahwa Borobudur bukan sekadar objek wisata, tapi warisan budaya dunia yang harus dilestarikan lewat seni dan kolaborasi.

Uniknya, pameran ini juga menghadirkan kontribusi istimewa dari cucu van Erp, Guus van Erp.

Meski tidak hadir secara fisik, tapi dia menulis catatan tentang hubungan kakeknya dengan Borobudur sebagai bagian dari dokumentasi pameran.

Ini menjadikan Timelaps sebagai peristiwa yang menyentuh sisi personal, historis, dan spiritual.

Staf Museum dan Cagar Budaya (MCB) Warisan Dunia Borobudur Hari Setyawan mengapresiasi penyelenggaraan Timelaps sebagai bagian dari diplomasi budaya antara Indonesia dan Belanda.

Baginya, peristiwa ini memiliki makna ganda.

Yakni penghormatan atas sejarah pemugaran candi dan bentuk kesinambungan hubungan dua negara dalam konteks pelestarian warisan dunia.

Menurut dia, van Erp bukan hanya insinyur, tapi juga seniman.

Van Erp melihat Borobudur dengan mata estetika dan tekad pelestarian.

"Maka ketika kini seniman Belanda dan Indonesia berkumpul dan memamerkan karya di bawah inspirasi yang sama, ini bukan kebetulan, tapi semacam kesinambungan yang indah," katanya.

Hari menambahkan, pada usia 114 tahun sejak restorasi awal Van Erp, pameran ini juga menjadi momentum refleksi.

Bagaimana masyarakat kini memaknai dan merawat Borobudur, serta bagaimana seni dapat menjadi media penyadaran akan pentingnya pelestarian.

Seniman asal Belanda Marianne Vanderbosch menuturkan, gagasan awal pameran ini tercetus pada Oktober 2024.

Saat ia dan rekan-rekannya menyusun rencana untuk kembali menghidupkan narasi Borobudur dalam wujud seni kontemporer.

Dia memandang, Borobudur merupakan warisan dunia yang sangat istimewa.

Dia merasa perlu mengenalkan ke dunia bahwa tempat ini bukan hanya indah.

"Tapi punya nilai sejarah dan spiritual yang dalam," ungkap Marianne.

Marianne pun berharap, karya-karya dalam pameran ini bisa menggugah kesadaran global tentang pentingnya pelestarian dan penghargaan terhadap warisan budaya.

Lebih dari sekadar kegiatan artistik, Timelaps menjadi simbol semangat kolaborasi, penghormatan terhadap sejarah, dan harapan akan lahirnya gerakan seni budaya baru di kawasan Borobudur. (aya)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Borobudur #Warisan Dunia Borobudur #timelapse #Van Erp #Theodoor van Erp #limanjawi art house #Museum dan Cagar Budaya #Hari Setyawan #diplomasi budaya #Umar Chusaeni #pameran seni #Guus van Erp