MUNGKID – Di sebuah sudut Dusun Gedongan Kulon, Bondowoso, Mertoyudan, sebuah rumah kecil berdinding gebyok dan berlantai tanah menjadi saksi bisu perjuangan hidup Muhammad Aris Supriyanto. Sejak lahir pada 1993, rumah itu tak pernah mengalami renovasi.
Namun kini, kondisinya berubah total, berkat program bedah rumah yang digagas oleh Polresta Magelang dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-79. "Bagi saya, ini seperti mimpi. Saya tidak pernah membayangkan rumah ini akan direnovasi," ujar Aris dengan suara bergetar, Kamis (26/6).
Selama ini, Aris tinggal bersama ibu, istri, dan anaknya. Rumah mereka hanya sepetak, tanpa lantai semen apalagi keramik. Namun bagi Aris, rumah itu adalah tempat berlindung paling berharga. Dia hanya bisa pasrah dengan keadaan.
Hingga akhirnya rumah Aris terpilih sebagai penerima manfaat bedah rumah dari Polresta Magelang. Menurut Aris, prosesnya berlangsung cepat. Mulanya, dia didatangi oleh personel polisi. Dia pun sempat bingung, tapi setelah dijelaskan, dia bersyukur dan terharu.
Bagi Aris dan keluarga, rumah yang baru akan direnovasi bukan sekadar bangunan. Itu adalah awal dari babak baru dalam hidup mereka. Lebih nyaman, lebih layak, dan penuh harapan.
Harapannya sederhana, bisa hidup lebih baik dan memberi masa depan yang lebih cerah untuk keluarga dan anaknya. "Saya bekerja serabutan, penghasilan tidak menentu, dan untuk makan sehari-hari saja sudah bersyukur," lontarnya.
Kapolresta Magelang Kombes Pol Herbin Garbawiyata Jaya Sianipar menjelaskan, program bedah rumah ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-79. Sebanyak 19 rumah yang tersebar di berbagai kecamatan, direnovasi. Selain itu, sumur bor juga dibangun di Dusun Ngaran II, Borobudur, untuk membantu pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat.
Dia mengatakan, kegiatan ini bukan hanya soal pembangunan fisik. Ini adalah upaya membangun harapan dan memperkuat peran Polri sebagai mitra masyarakat. "Kami ingin menunjukkan bahwa Polri hadir tidak hanya sebagai penegak hukum, tapi juga pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat," paparnya.
Dengan anggaran Rp 20 juta per rumah, program ini menjadi bukti sinergi antara Polri, pemerintah daerah, Baznas, dan elemen masyarakat lainnya. Herbin menekankan, sasaran penerima bantuan adalah warga dalam kategori miskin ekstrem berdasarkan data pemerintah dan Baznas.
Menurutnya, kemiskinan merupakan persoalan kompleks. Untuk mengatasinya, praktis membutuhkan kolaborasi. "Program ini adalah bukti dari upaya kolektif untuk menciptakan perubahan nyata," ujarnya.
Sekretaris Daerah Kabupaten Magelang Adi Waryanto turut mengapresiasi program ini. Dia menegaskan, peringatan Hari Bhayangkara bukan hanya dirayakan melalui upacara. Tetapi juga melalui aksi nyata yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Dia menilai, program ini bukan hanya pembangunan rumah, tapi pembangunan keluarga. "Kami berharap dari rumah yang layak ini, akan lahir anak-anak sehat, keluarga yang harmonis, dan masyarakat yang lebih sejahtera," kata Adi.
Adi juga menekankan pentingnya merawat hasil bantuan dengan penuh rasa syukur. Menurutnya, rumah yang direnovasi ini bukan hanya simbol perubahan fisik, tetapi juga awal dari kehidupan yang lebih baik.
Program ini, lanjut dia, juga menjadi contoh betapa pentingnya sinergi lintas sektor. "Kepolisian tidak hanya menjaga keamanan, tapi ikut serta dalam mengentaskan kemiskinan," bebernya. (aya)
Editor : Herpri Kartun