Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menko Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar Sebut Pesantren Jadi Pilar Baru Percepatan Pengentasan Kemiskinan

Naila Nihayah • Selasa, 24 Juni 2025 | 04:27 WIB

 

 

PAPARAN: Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat RI Muhaimin Iskandar saat menghadiri Halaqah Kiai Dan Alim Ulama Nusantara di Ponpes API Tegalrejo Magelang Senin
PAPARAN: Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat RI Muhaimin Iskandar saat menghadiri Halaqah Kiai Dan Alim Ulama Nusantara di Ponpes API Tegalrejo Magelang Senin

MUNGKID - Pemerintah menempatkan pesantren sebagai mitra strategis dalam program percepatan pengentasan kemiskinan nasional. Hal itu disampaikan oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pemberdayaan Masyarakat RI Muhaimin Iskandar saat menghadiri halaqah di Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang Senin (23/6).

Dia menilai, pesantren mempunyai pengalaman paling panjang dalam memutus rantai kemiskinan. Halaqah ini, kata dia, menjadi titik awal bagi pemerintah untuk mensistematisasi peran pesantren dalam skema nasional.

Selama ini, peran pesantren dalam ekonomi rakyat dan kesejahteraan sosial berjalan secara organik dan sporadis. Namun ke depan, pendekatan ini akan diperkuat melalui sinergi antar-lembaga. Termasuk dengan Baznas, lembaga sosial, perusahaan swasta, dan kementerian/lembaga terkait.

Pemerintah, lanjut Muhaimin, ingin mempercepat dan memodernisasi metodologi penanggulangan kemiskinan berbasis pesantren. Supaya lebih efektif dan tepat sasaran. "Ini juga bentuk rasa terima kasih pemerintah atas kontribusi pesantren selama ini," katanya.

Terlebih, kata dia, pesantren selama ini menjadi ruang sosial yang menopang pendidikan bagi kalangan tidak mampu. Dalam konteks ini, menurut Muhaimin, standar garis kemiskinan versi BPS atau World Bank bukan yang utama. "Standar apapun boleh, yang penting penanganannya cepat," imbuhnya.

Dia juga menekankan perlunya manajemen dan tata kelola baru dalam agenda pengentasan kemiskinan. Salah satunya adalah pelibatan masyarakat sipil dan lembaga keagamaan. Termasuk menjadikan pesantren sebagai simpul kolaborasi dan solusi berbasis komunitas.

Pengasuh Ponpes API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori menyebut, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan. Tetapi juga motor ekonomi kerakyatan. Seperti di Tegalrejo, 15 ribu santri yang bermukim ikut menggerakkan ekosistem lokal. Dari pasar, koperasi, hingga sektor jasa dan logistik.

Dia menyebut, banyak santri berasal dari kalangan tidak mampu. "Tapi lewat pesantren, mereka tak hanya belajar agama, tapi juga belajar hidup mandiri," kata Gus Yusuf, sapaan akrabnya.

Gus Yusuf menambahkan, pemerintah mulai membuka ruang kolaborasi yang lebih besar, termasuk menggandeng perusahaan teknologi global seperti Huawei dalam program pesantren berbasis inovasi. "Pak Muhaimin ingin memfasilitasi pesantren agar kolaborasi dengan program pemerintah dan swasta bisa maksimal," sambungnya.

Bagi Gus Yusuf, pesantren merupakan 'mutiara yang belum digosok'. Potensi spiritual, sosial, dan ekonominya sangat besar, tetapi belum seluruhnya terorganisasi dalam sistem pembangunan nasional.

Halaqah ini, menurutnya, adalah upaya awal untuk mengangkat potensi itu ke permukaan. "Kami ingin pesantren tidak hanya dikenal sebagai tempat ibadah dan ilmu, tapi juga sebagai agen perubahan sosial dan ekonomi," ucapnya. (aya/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#pesantren #pondok pesantren #EKONOMI KERAKYATAN #Percepatan #pemerintah #Menteri Koordinator #kemiskinan #Pendidikan #Menko Bidang Pemberdayaan Masyarakat #pengentasan kemiskinan #Ponpes API tegalrejo #Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang #mitra strategis #muhaimin iskandar #program #masyarakat