KEBUMEN - Pedagang di sentra kuliner Kapal Mendoan mengeluhkan sepinya pembeli. Kondisi ini yang membuat sebagian pedagang angkat kaki meninggalkan kios. Mereka memilih pergi ketimbang menanggung rugi jika terus dipaksakan untuk tetap buka.
Salah satu pedagang Priscilia Ismawati, 42, mengatakan, sudah banyak pedagang enggan buka kios karena pengahasilan yang didapatkan tidak pasti. Hal ini memaksa sebagian pedagang beralih usaha lain demi mendapatkan penghasilan. "Misal dipaksakan capek sendiri. Sepi banget. Paling pas ada tontonan tertentu baru ramai," ungkapnya saat ditemui Radar Jogja Rabu (4/6).
Priscilia mengatakan, sepinya pembeli dirasakan terutama bagi pedagang yang berada di kios lantai dua Kapal Mendoan. Dia pun meminta dinas terkait mencari solusi agar pendapatan pedagang stabil. "Cuma bisa sabar aja. Yang beli ada, tapi ya itu bisa dihitung jari," bebernya.
Dia juga meminta, agar Satpol PP tegas terhadap pedagang kaki lima liar yang berada di luar area kuliner Kapal Mendoan. Sebab jika terus dibiarkan, potensi pembeli datang akan sulit karena sebagian memilih untuk beli di PKL.
Di lain sisi penertiban PKL juga dinilai akan menambah kenyamanan bersama. "Satpol PP mestinya tegas, sudah sering ditertibkan tapi ngeyel balik lagi," ungkapnya.
Kepala Disperindag KUKM Kebumen Haryono Wahyudi mengatakan, pihaknya akan mengoptimalisasi keberadaan kios di sentra kuliner Kapal Mendoan. Diakui hingga hari ini, masih terdapat 36 kios kosong tanpa penghuni, terutama kios yang berada di bagian atas sisi utara. "Rencana memang akan kami buka lagi pendaftarannya. Sekitar bulan depan," jelasnya.
Saat ini, kata Haryono, Disperindag KUKM sedang melakukan kajian agar pedagang di Kapal Mendoan mendapat untung selama berjualan. Kajian juga memperhatikan ketepatan konsep segmen usaha yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar. "Misalnya apakah bagian atas khusus kuliner atau apa. Ada masukan juga buat jualan kopi, kopi apa yang cocok. Ini yang lagi dikaji," ucap Haryono. (fid/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita