PURWOREJO - Para pedagang di Pasar Baledono, Purworejo tak mau menjadi kambing hitam pasca mencuat kasus pengurangan takaran MinyaKita. Mereka menyatakan persoalan tersebut bukan urusan pedagang, melainkan urusan antara pemerintah dan aparat penegak hukum.
Seorang pedagang Salamah, 38, mengaku sudah hampir sepekan ini mendapat banyak keluhan dari pelanggan usai muncul polemik MinyaKita. Menurutnya, kepercayaan publik menurun gegara produk minyak goreng kemasan yang digagas pemerintah tersebut justru tak sesuai takaran.
"Komplain pasti ada. Tapi saya jawab, pedagang taunya cuma kulakan. Soal ukuran ya pabrik," ungkapnya, Kamis (13/3).
Ia mengatakan, munculnya kasus MinyaKita belakangan ini otomatis membawa dampak negatif di tingkat pedagang. Tak sedikit pelanggan yang beralih dari MinyaKita ke produk kemasan lain. Bahkan sebagian justru memilih menggunakan minyak curah. "Mungkin merasa dibohongi ya. Saya penjual, terserah pembeli mau pakai apa tidak," jelasnya.
Salaman mengungkapkan, sebelum polemik muncul penjualan MinyaKita cukup diminati karena tergolong murah. Namun hal itu kini berbanding terbalik usai Menteri Pertanian Amran Sulaiman menemukan kecurangan ukuran saat inspeksi mendadak.
Pedagang lain, Dwi Astuti, 42, menyatakan, soal ukuran minyak sejatinya bukan menjadi wewenang pedagang. Sebagai pedagang ia mengaku tak mengetahui pasti persoalan tersebut, karena kebutuhan minyak diambil langsung dari suplier. "Sini taunya jualan, mana bisa kurangi takaran. Itu posisinya kan sudah di segel," ucapnya.
Menurutnya, selisih takaran minyak memang sudah tidak bisa diberi toleransi. Ia pun mengaku ikut dirugikan atas mencuatnya kasus pengurangan takaran MinyaKita. Selain ukuran, ia juga mengeluhkan harga pasaran MinyaKita yang dibanderol lebih tinggi dari ketentuan. "Jualnya sudah Rp 15 ribu ke atas. Adanya begitu," katanya.
Dwi mengaku was-was stok MinyaKita yang tersedia di gudang miliknya tak laku dijual. Utamanya pasca produk minyak tersebut menjadi bahan pembicaraan publik.
Atas persoalan ini ia meminta agar pemerintah tidak tinggal diam dan mengusut tuntas persoalan yang terjadi. "Jujur saja, dari sehari laku 5 dus. Sekarang bisa laku sudah untung. Kebanyakan pilih merk swasta, mahal sedikit tarakaran pas, kualitasnya bagus," terangnya. (fid)
Editor : Heru Pratomo