KEBUMEN - Satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) memastikan menu pada program makan bergizi gratis (MBG) telah sesuai standar pemenuhan gizi. Pemilihan menu yang disajikan juga memperhatikan berbagai aspek. Seperti kesehatan dan keamanan pangan.
Kepala SPPG Yayasan Saka Tunggal Bersinar 1 Novia Syalaba menyampaikan, pelaksanaan program MBG sejatinya bukan soal kenyang. Tapi poin pentingnya ialah pemenuhan kandungan gizi dalam setiap menu.
Dia menegaskan, pelaksanaan MBG telah melalui rangkaian proses sesuai standar kualitas yang ditetapkan. Mulai sarana dan prasarana, proses masak, distribusi, hingga cara penyajian menu. "Tidak dilihat besarnya barang, tapi pakai penghitungan angka kecukupan gizi," ucap Novia Rabu (12/3).
Di dapur SPPG, lanjutnya, juga terdapat ahli gizi yang bertugas memastikan angka kecukupan gizi (AKG) dalam setiap pemorsian. SPPG, lanjut, Novia, juga berkoordinasi dengan dinas kesehatan daerah dalam penentuan menu yang mencukupi kebutuhan gizi.
"Sudah dihitung secara detail, termasuk menggunakan bahan potensial di Kebumen," jelasnya.
Dia membeberkan, anggaran yang tersedia dari Badan Gizi Nasional (BGN) senilai Rp 15 ribu per paket. Dari anggaran tersebut kemudian dialokasikan untuk berbagai kebutuhan. Meliputi biaya bahan baku mentah, biaya operasional hingga biaya sewa bangunan dan kendaraan.
Dalam mencukupi bahan baku, SPPG juga memprioritaskan barang dari suplier lokal. "Mitra sebagai penyedia untuk sewa bangunan dan peralatan. Sedangkan yayasan sebagai tempat turunnya bantuan pemerintah untuk program," jelasnya.
Novia menyebut, realisasi program MBG hingga sampai ke penerima melalui proses panjang. Di mulai dari perencanaan bahan makanan. Selain kecukupan gizi, menu yang dipilih memperhatikan variasi serasi, harmonis dan menyesuaikan selera masyarakat.
Tim penyusun menu akan meneliti bahan yang berpedoman pada standar spesifikasi yang ditentukan. Setelah itu, bahan makanan diolah oleh juru masak sesuai prosedur ditentukan. "Menu dibuat lamgsung oleh tim penyusun, yaitu ahli gizi dan juru masak," jelas Novia.
Sementara itu, Wakil Bupati Kebumen Zaeni Miftah meminta agar pihak sekolah tak ragu menyampaikan keluhan jika terdapat temuan menu makanan tidak sesuai standar. Keluhan yang disampaikan cukup penting untuk menjadi evaluasi dalam pelaksanaan MBG. "Sampaikan saja kalau ada makanan basi, kurang matang dan sebagainya. Supaya MBG ini semakin baik," ucapnya. (fid/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita