MUNGKID - Namanya jemunak. Kudapan tradisional khas Desa Gunungpring ini hanya ada saat Ramadan. Teksturnya kenyal dan rasanya manis legit. Warga sekitar pun kerap berburu jemunak sebagai kuliner berbuka puasa. Lantaran tidak menimbulkan efek kenyang berlebih.
Di Desa Gunungpring, ada sejumlah warga yang memproduksi jemunak. Mereka rerata meneruskan resep leluhur yang telah diwariskan hingga berganti generasi. Sehingga mereka tetap mempertahankan cita rasa dan kekhasan masing-masing produsen.
Penganan itu berbahan dasar dari singkong dan beras ketan. Lalu ada tambahan gula merah cair sehingga memiliki rasa manis.
Selain itu, ada juga tambahan kelapa parut dan dibungkus dengan daun pisang. Tidak heran jika kudapan itu terasa lebih gurih.
Pembuat jemunak di Dusun Karaharjan Kasmurah mengutarakan, jemunak hanya diproduksi saat Ramadan dan merupakan kudapan khas dari Gunungpring. Biasanya digunakan sebagai pelengkap berbuka puasa.
"Tahun ini, kami buat jemunak di hari ketiga Ramadan sampai nanti H-3 Lebaran selesai," bebernya saat ditemui Jumat (7/3/2025).
Saat hari biasa, Kasmurah membuat dan menjual aneka jajanan seperti nagasari, lumpia, martabak, dan lain-lain.
Lantaran ingin fokus membuat jemunak, dia menghentikan sementara pembuatan jajanan tersebut. Kecuali lumpia dan martabak.
Dia menyebut, jemunak sudah ada sejak dirinya belum dilahirkan. Menjadi warisan turun-temurun.
Kala itu, dia masih membantu orang tuanya yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Konon katanya, jemunak berasal dari akronim 'ketemu kepenak'.
Aktivitas membuat jemunak ini dimulai sejak pukul 06.00 dengan mengupas singkong dan dicuci bersih. Kemudian diparut kasar.
Di sela waktu itu, dia juga mengukus beras ketan hingga setengah matang. Dua bahan baku ini dicampur dan dikukus hingga matang.
Setelah itu, barulah ditumbuk hingga halus. Proses penumbukan itu dilakukan oleh sang keponakan.
Pukul 11.00, setelah adonan siap, biasanya Kasmurah dibantu sang kakak, Poningsih, mulai membungkus adonan itu dengan parutan kelapa dan gula merah cair yang dikemas dalam plastik.
Setiap hari, dia bisa menghabiskan 15 kilogram singkong yang diperoleh dari petani di sekitarnya dan 5 kg beras ketan.
Dua bahan baku itu bisa menghasilkan sekitar 700 bungkus jemunak. Harganya pun cukup terjangkau, Rp 3 ribu per bungkus.
"Tapi kalau ada pesanan, buatnya 20 kg," lontarnya.
Sementara itu, seorang pembeli dari Mertoyudan Eko Susanto mengaku, kerap mampir untuk membeli jemunak.
Menurutnya, jemunak memiliki tekstur yang kenyal, legit, dan gurih karena ada perpaduan gula merah cair serta parutan kelapa.
Biasanya, dia membeli beberapa bungkus jemunak sebagai takjil saat berbuka puasa. "Rasanya enak, legit, tapi ada gurihnya dari parutan kelapa. Setiap tahun selalu beli," akunya. (aya/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita