MAGELANG - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) turun ke SDN Banyurojo 2 untuk meninjau jalannya program makan bergizi gratis (MBG).
Program ini dinilai mengandung aspek kesehatan dan edukasi karakter.
Widya Prada Ahli Madya pada Direktorat SD, Kemendikdasmen Minhajul Ngabidin menilai, para siswa memang perlu mendapat dukungan penguatan kesehatan. Satu di antaranya dengan pemenuhan gizi seimbang.
Hanya saja, dia mengakui, program ini belum berjalan sepenuhnya di sekolah seluruh Indonesia. Karena bergulir secara bertahap.
Namun, Kemendikdasmen serta Badan Gizi Nasional (BGN) bersama kementerian terkait terus berupaya agar program itu dapat menyentuh semua siswa.
Selama tiga pekan ini, dia melihat, program MBG berjalan baik.
"Pelaksanaannya mulai 6 Januari kemarin dan belum (menyasar) semua sekolah, baru sebagian kecil. Kami dari Kemendikdasmen terus melakukan pemantauan dan pendampingan," bebernya di sela tinjauan, Kamis (23/1/2025).
Pemantauan dan pendampingan itu dilakukan supaya pelaksanaan MBG di sekolah dapat terlaksana dengan baik dan lancar.
Serta tujuan dari program tersebut bisa terealisasikan. Yakni siswa terpenuhi gizinya dan mendapat edukasi. Baik edukasi soal kesehatan maupun nilai atau karakter.
Minhajul menuturkan, aspek kesehatan itu terdapat pada makanan dan minuman yang kaya akan gizi.
Namun, dia menegaskan, makan bergizi tidak hanya sekadar menghadirkan sepiring makanan.
"Tapi, lebih dari itu. Tujuannya adalah untuk memberikan edukasi kepada anak-anak," kata dia.
Selain itu, program MBG ini diharapkan dapat memberi pengaruh baik terhadap nilai atau karakter siswa.
"Kami berharap, anak-anak terbiasa cuci tangan, berdoa sebelum makan, kemudian bertanggungjawab agar tidak menyisakan makanan," imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Magelang M Rauuf Oktavian Nur menyebut, tidak ada kendala berarti saat pelaksanaan mauoun pendistribusian MBG.
"Mungkin dari internal kami karena belum terbiasa dengan ritme pengerjaan dan pendistribusian makanan. Tapi sekarang sudah bisa ditangani," sebutnya. (aya)
Editor : Winda Atika Ira Puspita