PURWOREJO - Pemerintah Desa (Pemdes) Krandegan, Bayan, Purworejo kembali menciptakan inovasi baru yang mempermudah warganya khususnya dalam bidang pertanian. Inovasi yang dimaksud yaitu gerobak pompa air tenaga surya.
Kepala Desa (Kades) Krandegan Dwinanto menyebutkan, gerobak pompa air tenaga surya tersebut didesain bisa mobile atau berpindah-pindah. Sebab, desa tersebut sebenarnya sudah memiliki pompa tenaga surya tetapi ada daerah-daerah tertentu yang tidak bisa terjangkau.
Misalnya, sawah yang letaknya tinggi sehingga tidak bisa terjangkau aliran air. "Makanya kami berpikir untuk membuat pompa yang bisa dipindah-pindah. Jadi pas butuh ke sana dibawa ke sana, butuh ke sini dibawa ke sini," ujarnya Rabu (15/1/2025).
Baca Juga: Jayus Hariono Resmi Bergabung dengan PSS Sleman, Datang sebagai Pemain Pinjaman dari Arema FC
Selain itu, perangkat tersebut diciptakan sebagai sarana edukasi bagi para pelajar bahwa tenaga energi matahari bisa digunakan untuk menggerakkan pompa air. "Jadi sebagai sarana edukasi, juga sebagai perangkat untuk penunjang irigasi," imbuhnya.
Di sisi lain, alat tersebut juga implementasi dari program unggulan pemerintah yaitu ketahanan pangan, kemandirian energi, energi bersih dan terbarukan (tidak menimbulkan polusi) serta digitalisasi. "Jadi perpaduan empat itu, kebetulan ke empat hal itu merupakan prioritas penggunaan dana desa (DD)," kata Dwinanto.
Saat ini gerobak tersebut baru prototype dan sudah diuji coba. Ke depan jika berhasil akan dikembangkan lagi dan diperbanyak. Pompa air tenaga surya tersebut dilengkapi dengan internet of things. Satu gerobak pompa air itu memiliki daya 1.100 watt. "Jika panas maksimal, bisa menghasilkan debit air sekitar 20 kubik per jam," jelasnya.
Baca Juga: Sekarang Semuanya Teras Malioboro, Tak Ada Lagi TM 1 dan TM 2
Cara pengoperasiannya, seperti mengoperasikan pompa air biasa yaitu hanya on-off. Masyarakat yang sawahnya tidak teraliri dari irigasi utama dan membutuh perangkat tersebut bisa pinjam ke desa. "Karena tidak ada biaya listrik atau BBM, nantinya jika ada yang pinjam hanya dikenakan infak seikhlasnya untuk perawatan kalau suatu saat ada kerusakan," beber dia.
Dwinanto menyampaikan, tahun ini pihaknya berencana akan menambah pompa tenaga surya lagi sebayak tujuh unit menggunakan DD baik berupa gerobak atau tidak. Untuk membuat satu gerobak panel surya itu, membutuhkan biaya sekitar Rp 17 juta sampai Rp 20 juta. Dia berharap, hal tersebut dapat terlaksana sehingga dapat memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat sekitar.
Baca Juga: Terimbas Pembangunan Tol Jogja-Solo, GKR Mangkubumi Pimpin Prosesi Pemindahan Makam Mbah Celeng
Diketahui, sebelum membuat pompa air tenaga surya mobile, Desa Krandegan juga telah memiliki panel surya permanen yang dipasang di lahan terbuka di atas tanah bengkok milik desa untuk sistem irigasi sawah di wilayahnya. Pemanfaatan tersebut sudah dilakukan sejak 2022 lalu. Dari teknologi itu, pemdes bisa menghemat biaya sebanyak 50 persen.
Dwi menyampaikan, sejak 2013 pengairan sawah di desanya menggunakan mesin diesel berbahan solar untuk mengambil air dari Sungai Dulang. "Sehari semalam bisa menghabiskan biaya Rp 400 ribu. Setelah adanya panel surya hanya Rp 200 ribu karena menggunakan diesel saat malam saja," katanya.
Untuk menutup biaya pembelian solar, Pemdes Krandegan menggandeng pihak ketiga. Sehingga, para petani di desa tersebut bisa mendapatkan pengairan sawah tanpa dipungut biaya atau gratis. Akhirnya, di 2022 tercetus ide pemanfaatan tenaga surya atau matahari untuk menjalankan sistem irigasi agar lebih menghemat biaya.
Gagasan pembuatan panel surya tersebut mendapatkan dukungan dan bantuan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng). Pun, pada 2022 diberi dana Rp 400 juta lebih untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) tersebut. PLTS tersebut terdiri dari 57 solar cell dengan daya 19 ribu watt, mampu menghasilkan debit air sebanyak 77 liter per detik atau 270 kubik per jam untuk mengairi sekitar 50 hektare sawah yang ada di Desa Krandegan. (han)
Editor : Sevtia Eka Novarita