PURWOREJO - Sosok perempuan kini banyak yang menjadi penyangga perekonomian keluarga. Perempuan menjadi tulang punggung keluarga karena berbagai alasan. Misalnya karena suaminya telah berpulang lebih dahulu, bercerai, dan sebagainya.
Salah satu perempuan yang menjadi penyangga perekonomian keluarga adalah Daimatus Sa'adah, 38. Sejak menikah di 2014, dia menghidupi anak semata wayangnya bernama Ganesha Grisadharma seorang diri.
"Jadi single mom sebenarnya sejak 2024 karena baru cerai. Tapi dari dulu nggak pernah dinafkahi setelah nikah. Jadi bener-bener nyari uang sendiri," ujar wanita yang kerap disapa dengan sebutan Ima, Sabtu (21/12/2024).
Dia mengatakan, semenjak menikah suaminya sering kabur dan tidak pernah pulang. Padahal suaminya adalah dosen tetapi mengaku hanya mendapatkan gaji Rp 400 ribu. Untuk menghidupi anaknya, dia sempat mengajar menjadi guru honorer dengan gaji Rp 150 ribu per bulan.
Selain itu, dia mencari tambahan penghasilan lain dengan menjual handicraft berupa gantungan kunci yang dia jahit sendiri. "Aku jualan keliling dan online di Facebook sekitar 2014-2015," sebut wanita kelahiran Purworejo, 25 April 1986 itu.
Ima menyebut, dulu dia sering berjualan di car free day (CFD) Alun-Alun Purworejo. Terkadang juga jualan di acara wisuda kampus di UM Purworejo, juga di Jogjakarta seperti UNY, UII, Universitas Sanata Dharma, UPN, Atmajaya, dan sebagainya.
Dia rela berangkat berjualan dini hari dari rumahnya di Purworejo. Ia menaiki sepeda motor dengan membawa kerombong untuk meletakkan barang dagangan seperti bunga flanel dan bouquet bunga.
"Tidak ada keterlibatan suami sama sekali. Dikasih nafkah tapi cuma Rp 2 ribu, Rp 3 ribu, Rp 5 ribu, kadang gak dikasih," ucapnya sambil tertawa. Untuk biaya Ganes sampai sekarang berusia 10 tahun, Ima pakai uang pribadinya dari hasil dia banting tulang sendiri.
Padahal, saat anaknya masih kecil untuk membeli susu saja sulit. Bahkan pernah tidak bisa beli susu. "Anakku tak kasih air tajin (air yang keluar saat beras mendidih) selama dua minggu, karena kalau beras kan dikasih ibu. Pernah juga dikasih tetanggaku mi instan buat makan," tambahnya.
Menurutnya, anak adalah motivasinya untuk terus berjuang. Dia ingin terus melihat anaknya tumbuh dan mendidiknya menjadi anak yang bertanggung jawab untuk dirinya sendiri. Berkat kegigihannya, dia sekarang menjadi seorang perancang busana yang terkenal di Purworejo, bahkan luar Purworejo.
Berawal dari kesukaannya terhadap dunia fesyen, dia terus belajar secara otodidak untuk mendesain baju. Awal mencoba dia langsung menggarap kostum karnaval. Kemudian di 2017 mencoba membuat baju, gaun pesta, gaun pengantin, kebaya, dan sebagainya. Sampai akhirnya banyak pelanggan yang melirik karyanya, mulai dari Purworejo, Jogja, Bali, Jakarta, NTT, dan sebagainya.
Ima adalah seseorang yang haus ilmu. Setiap saat dia selalu upgrade kemampuannya. Karyanya juga sering dikutkan dalam ajang fashion show di kota-kota besar seperti Jogja hingga Jakarta. Terkait harga baju, dia patok mulai dari Rp 150 ribu sampai jutaan rupiah per baju tergantung kerumitannya.
Saat ini, dia memiliki butik atau store bernama Ima Color Handmade di Kelurahan Cangkreplor, Purworejo. "Buat single mom di luar sana harus semangat. Jangan menyerah, tetap menjadi wanita kuat. Percayalah, Allah selalu memampukan kita untuk berjuang demi anak anak kita," pesan wanita berparas ayu itu.
Sosok perempuan lain yaitu Sumarni Utamining, 47, warga Desa Ngentak, Ngombol Purworejo. Dia adalah sosok single mom atau wanita tunggal yang tangguh, mampu menghidupi ketiga anaknya seorang diri.
Wanita kelahiran Purworejo, 15 April 1977 itu berpisah dengan suaminya sejak 2018 lalu. Untuk menghidupi anak-anaknya, dia bekerja sebagai wartawan di wilayah Kabupaten Purworejo dan Kebumen. "Setiap hari saya motoran (untuk liputan) kurang lebih 15 km," sebut Marni.
Meski menjadi single parent, dia tetap gigih agar anak-anaknya mengenyam pendidikan tinggi. Berkat keuletannya, anak-anaknya berhasil mencicipi bangku kuliah. Anak pertama lulus dari Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang jurusan Film dan Televisi.
Kemudian, anak kedua kuliah di Fakultas Ekonomi Bisnis, Soegijapranata Catholic Univercity (SCU) atau Universitas Katholik Soegijapranata (Unika) Semarang. Sama dengan anak kedua, anak ketiganya juga sedang berkuliah di Universitas Muhammadiyah Purworejo jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.
Untuk menguliahkan tiga anak, tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Keterlibatan mantan suami untuk menafkahi anak-anaknya tidak begitu siginifikan, hanya kadang-kadang. Ketiga anaknya dia nafkahi sendiri.
"Alhamdulillah, anak-anak memiliki prestasi sehingga bisa kuliah gratis. Yang nomor 2 full beasiswa jalur prestasi olahraga (badminton), yang nomor 3 mendapat KIP lewat jalur aspirasi anggota DPR RI Bramantyo Suwondo (sepupu Agus Harimurti Yudhoyono)," ungkapnya.
Menurutnya, menjadi seorang ibu tunggal bukanlah hal mudah. Namun berkat semangat dari keluarga dan orang-orang terdekat, bisa membangkitkannya saat terpuruk.
"Jadi perempuan harus tetap berdaya. Jangan pernah menyerah dengan keadaan. Berdoa, berusaha, dan berjuang. Tuhan pasti akan membantu lewat jalan yang kadang tidak pernah kita sangka," pesannya. (han/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita