MAGELANG - Masyarakat Kota Magelang diminta mengoptimalkan lahan perkarangan yang ada dengan menanami tanaman semusim, hortikultura, dan pangan. Upaya itu mendesak untuk dilakukan mengingat lahan pertanian di Kota Magelang sangat terbatas. Terlebih, setiap tahun hampir lima hektare lahan Kota Magelang mengalami alih fungsi dan pemanfaatannya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang Agus Dwi Windarto mengutarakan, untuk mendukung ketahanan pangan bisa diawali dari tingkat keluarga. Satu di antaranya dengan mengoptimalisasi lahan pekarangan. "Karena lahan baku sawah kita tinggal 148,8 hektare dan luas pekarangan kita masih ada sekitar 1.234 hektare," lontarnya di IKM Center, Senin (18/11).
Dia menilai, peningkatan fungsi lahan pertanian di Kota Magelang penting. Sebab, setiap tahun hampir lima hektare lahan Kota Magelang mengalami alih fungsi dan pemanfaatannya. Sehingga potensi yang bisa dilakukan adalah lahan pekarangan yang ada dioptimalisasi dengan pengelolaan integrasi pertanian terpadu.
Saat ini, lanjut Agus, pemkot tengah gencar melakukan program Kampung Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA). Dari program itu, masyarakat bisa menjaga ketahanan pangan di keluarganya dengan memanfaatkan lahan pekarangan yang dimiliki.
Dia menyebut, masyarakat bisa menanam tanaman semusim, hortikultura, dan pangan. Harapannya, dengan pemanfaatan lahan yang optimal, masyarakat bisa meningkatkan pendapatan. "Ini juga merupakan usaha mengurangi beban pengeluaran masyarakat terhadap kebutuhan pangan, misalnya sayuran," katanya.
Selain itu, dengan memanfaatkan lahan pekarangan itu, masyarakat bisa menjamin nilai gizi dan keamanan pangannya secara mandiri. Hal itu selaras dengan program food estate yang sedang gencar dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto. Program itu nantinya juga dapat membantu pemenuhan pangan bergizi seimbang dan aman bersama Badan Gizi Nasional.
Baca Juga: Pilkada 2024 Kian Dekat, Golkar Gunungkidul Pecat Ketua AMPI Nglipar, Diduga Kuat Membelot
Sementara itu, Pjs Wali Kota Magelang Ahmad Aziz berharap masyarakat lebih kreatif dan inovatif dalam menyiasati kendala keterbatasan lahan di wilayahnya. "Sawahnya hanya 1.148,8 hektare dan luas pekarangan sekitar 1.234 hektare. Itu (sawah) hanya mencukupi untuk 10-15 persen. Maka, yang perlu dilakukan adalah kolaborasi, sinergi, dan kerja sama dengan berbagai pihak," paparnya.
Kerja sama itu, lanjut Aziz, bisa dilakukan dengan kabupaten/kota yang dekat dengan Kota Magelang. Karena kabupaten/kota tersebut dapat memberikan bantuan dan menyuplai sumber pangan ke wilayahnya. Tanpa kerja sama itu, Kota Magelang dinilai tidak akan mampu untuk mewujudkan ketahanan pangan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jateng Dyah Lukisari menambahkan, meski memiliki keterbatasan lahan, indeks ketahanan pangan (IKP) di Kota Magelang cukup tinggi dengan perolehan nilai 91,41. Dengan nilai tersebut, Kota Magelang menduduki peringkat ke-12 se-Indonesia dengan IKP tinggi. Dia tidak menampik, peran kabupaten/kota di sekitarnya turut mendorong perolehan IKP tersebut. "Kenapa IKP-nya tinggi? Karena Kota Magelang sudah banyak membangun kerja sama dengan daerah sekitar untuk suplai bahan baku pangannya. Lalu, pemkot juga aktif menggelar gerakan pangan murah," ujarnya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo