MAGELANG - Niat warga Magelang berinisial E sebetulnya baik. Ia iba dan tidak tega melihat belasan kucing liar yang telantar di tepi jalan. Karena itu, E selalu membawa pulang kucing yang ditemuinya. Padahal, kondisi perekonomiannya tidak stabil. Sementara wanita berusia 51 tahun itu harus merawat dan memberi makan kucing-kucing tersebut.
E tinggal seorang diri. Berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lain. Aktivitas memungut kucing itu sudah dilakukan sejak tiga tahun yang lalu. Meski tempat tinggalnya berpindah-pindah pun, ia tetap membawa kucing-kucing tersebut. Sebab E sudah menganggap kucing itu sebagai anak yang akan dibesarkan dengan sepenuh hati.
Hanya saja, ia tidak berpikir ulang saat memungut kucing-kucing itu. Ia lebih mengedepankan rasa iba ketimbang kondisi perekonomiannya yang tidak stabil. Terlebih, ia juga harus memenuhi kebutuhannya sendiri. Uang yang diperoleh dari hasil kerja sebagai penjual lumpia, harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Antara membeli bahan lumpia dan membeli pakan kucing.
Lambat laun, E kewalahan. Perekonomiannya semakin tak menentu dan membuat satu per satu kucingnya mati. Padahal saat itu, ia memberi kesempatan kepada warga jika ada yang ingin mengadopsinya. "Saya rescue dari jalanan sejak tinggal di Perum Depkes, Kramat Utara sekitar tiga tahun lalu. Jumlahnya sampai 50 ekor kucing. Akhirnya (mati) sisa 40-an, kok kewalahan," katanya saat ditemui, Rabu (30/10).
Dari jumlah kucing yang tersisa itu, ada sekitar 20-an ekor yang mati juga. Satu tahun mengontrak di Perum Depkes, ia memutuskan untuk pindah ke Dusun Kelontong, Jambewangi, Secang, Kabupaten Magelang. Saat pindah, ia membawa sisa kucing yang masih hidup. E masih berkeliling menjajakan lumpia dari satu daerah ke daerah lain.
Di Dusun Kelontong, ia hanya bertahan satu tahun. E kembali mencari kontrakan di daerah lain dengan harga yang lebih murah. Lantas, ia pindah ke daerah Banaran, Secang sembari membawa kucing-kucing tersebut. Di sana, ia tidak lagi berjualan lumpia dan hanya tinggal selama tiga bulan. Karena sudah jatuh tempo dan pemilik rumah hendak merenovasinya.
E terpaksa mencari kontrakan lain. Beruntung, ada warga Kampung Kluyon, Kramat Utara yang memiliki warung kecil dan dikontrakkan. Bangunan bekas warung itu memiliki ukuran kurang lebih 3 x 3 meter persegi dengan uang sewa Rp 250 ribu sebulan. Mau tidak mau, ia memutuskan untuk tinggal di sana bersama belasan kucing miliknya.
E pun sadar diri karena tidak bisa merawat kucing-kucing itu dengan maksimal. Dia ikut serta saat JAAN hendak membawa kucingnya ke dokter hewan untuk mendapat perawatan medis. Sebab kondisi belasan kucing itu tampak memprihatinkan. Setelah dilakukan perawatan di dokter hewan selama kurang lebih 8 hari, tagihannya membengkak dan diputuskan untuk rawat jalan.
Padahal, JAAN juga perlu membayar tempat sementara untuk menampung belasan kucing itu. Termasuk makanan, kandang, hingga perawatan medis lebih lanjut. Saat ini, 17 ekor kucing itu tinggal di sebuah kontrakan di daerah Cacaban, Kota Magelang. Masing-masing kucing ditempatkan dalam kandang yang berbeda.
Mereka rerata termasuk kucing lokal. Dari jumlah itu, kucing jantan ada lima ekor dan sisanya betina. Bahkan, mereka memiliki nama seperti Mili, Manis, Milo, Mokacino, Cocil, Ciki, Blue, Oyen, dan lainnya.
E lega, kucing-kucingnya bisa diselamatkan dan kini mendapat perlakuan yang baik dari JAAN. Karena E tidak memiliki tempat tinggal, aktivis JAAN mempersilakannya untuk tinggal bersama kucing-kucing itu. "Rencananya saya mau pulang ke rumah orang tua di Jogja dengan membawa dua kucing. Belum tahu (kapan pulang ke Jogja)," ujar dia.
Aktivis JAAN Mustika mengutarakan, saat proses evakuasi, mereka sempat kebingungan untuk mengangkut kucing-kucing tersebut. Akhirnya, mereka menyewa mobil pick up dan membawanya ke dokter hewan. Namun, setelah mendapat perawatan selama beberapa hari, kucing-kucing itu dibawa pulang. Sebab tagihannya tinggi.
Untuk itu, JAAN membutuhkan bantuan atau donasi untuk menolong kucing tersebut. Selain itu, dia juga mempersilakan apabila ada orang yang bersedia mengadopsinya. Dengan syarat, kucing itu dirawat sebaik mungkin dan tidak memperjualbelikannya. "Ini kontrakannya sementara satu bulan dulu. Jadi, kami juga harus memikirkan perpanjangan kontraknya. Harapannya bisa menggalang dana," paparnya. (pra)
Editor : Heru Pratomo