MAGELANG - Sebagian orang mungkin hanya mengenal batik berasal dari Lasem, Solo, atau Pekalongan. Namun ada sejumlah daerah yang juga memiliki produk batik yang tidak kalah mengesankan. Termasuk di Kota Magelang. Di kota ini, ada produsen batik khas Magelang yang kerap diburu konsumen, yakni batik Iwing.
Batik menjadi produk UMKM yang masih eksis hingga sekarang. Apalagi batik merupakan produk unggulan Indonesia yang diakui sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009 silam. Bahkan, motifnya kini lebih bervariasi, mengikuti selera pasar dan perkembangan zaman.
Hanya saja masih jarang orang-orang yang mengenakan batik sebagai pakaian sehari-hari. Karena mereka cenderung memakainya pada hari-hari tertentu saja. Apalagi bagi generasi Z yang nampaknya mulai tidak melirik batik.
Itu menjadi pekerjaan rumah bagi pemilik Iwing Batik Magelang, Iwing Sulistiyawati agar terus berinovasi mengembangkan produknya. Supaya diminati oleh berbagai kalangan. Ia berupaya membuat batik sesuai arus perkembangan zaman.
Dia bercerita, sudah menggeluti usaha produksi batik sejak 2013. Usaha itu bermula dari adanya pelatihan membatik yang diselenggarakan Pemprov Jawa Tengah pada 2012 di Kelurahan Wates, Kota Magelang.
Sebetulnya saat itu ia belum begitu tertarik dengan dunia membatik. "Dulu hanya ditawari untuk ikut pelatihan membatik pada program kelas vokasi. Tapi setelah pelatihan itu, kami diminta buat proposal dan diserahkan ke DPPKUM Kota Magelang," ujarnya Senin (7/10/2024).
Lantas, dia kerap mendapat pelatihan. Baik dari DPPKUM maupun disnaker. Lambat laun Iwing semakin tertantang untuk terjun sebagai produsen batik di Kota Magelang karena menjadi bagian dari seni. Kala itu, modal awalnya diperoleh dari Disnaker Kota Magelang dengan membuat tiga helai kain batik dan dijual.
Memori awal saat menjual tiga helai kain batik itu, masih melekat di ingatannya. Saat itu, dia membuat batik tulis dengan motif parang dan berhasil dijual dengan harga Rp 300 ribu. Dari hasil penjualan itu, Iwing memanfaatkan untuk membeli perlengkapan membatik lainnya.
Setahun berikutnya, ia mendapat bantuan dana hibah dari Disdikbud Kota Magelang sebagai satu rangkaian dari program desa vokasi yang telah berjalan sebelumnya. Waktu itu, dia mendapat hibah Rp 10 juta. Uang itu diberikan dengan syarat harus dibelikan bahan-bahan membatik.
Ketertarikan Iwing dengan apa yang ada di sekitarnya, membuat dia tak gentar untuk mengangkat potensi tersebut dengan media kain batik. Seperti tempat-tempat dan nama jalan di Magelang. Contohnya, motif cempaka, sepeda, tugu aniem, water toren, Pangeran Diponegoro, tangga nada, dan lainnya.
Bahkan, motif-motif tersebut cenderung belum ada yang membuatnya. Itulah yang menjadi satu pembeda produk batiknya dengan perajin lain. "Mungkin banyak yang belum ngangkat (jadi motif batik). Seperti tugu aniem," lontarnya.
Produknya berupa batik cap dan tulia. Selain kain batik, dia juga membuat sejumlah produk lain seperti kerajinan dari kain perca batik, totebag, topi, blangkon, dan lain-lain. Supaya sisa kain batik yang tidak terpakai, dapat disulap menjadi pundi-pundi rupiah.
Dalam satu tahun, Iwing memiliki target untuk membuat tiga motif baru. Agar produk batiknya tidak monoton itu-itu saja dan berbeda dengan lainnya. "Sebenarnya sama saja. Hanya motif dan warna yang beda. Saya bikin (perpaduan) warna yang beda dengan lainnya. Pakai pewarna sintetis," akunya.
Dalam prosesnya, Iwing dibantu enam orang. Dalam satu hari, dia bisa membuat 10-15 lembar kain batik cap. Namun untuk batik tulis, tidak menentu. Tergantung tingkat kerumitan motif. Selain itu, dia juga memiliki penjahit untuk membuat baju.
Dalam satu bulan, ada sekitar 150-an lembar kain batik yang terjual. Namun jumlah itu tidak menentu. Bahkan, kadang 50-an lembar. Tergantung pesanan. Produk batiknya sudah dipasarkan hampir ke seluruh daerah di Indonesia. Mulai Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Papua.
Namun, ia perlu menyusun strategi agar batiknya dapat menggaet perhatian generasi Z. Pertama, Iwing melakukan inovasi pada motif batiknya supaya lebih modern. Ia pun memiliki motif sepeda, tangga nada, hingga peta. Menurutnya, motif-motif itu bisa menyesuaikan selera generasi Z.
Dia menyebut, sudah banyak motif batik miliknya yang terdaftar dalam Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Dengan begitu, motif batik Iwing tidak bisa digunakan atau ditiru oleh sembarang orang. Seperti batik dengan motif kopi, Magelang sejuta bunga, gelatik Magelang, cempaka, dan lainnya.
Menurutnya, dengan motif-motif itu bisa lebih diakui karena sudah terdaftar dalam HKI. Satu lembar kain batik cap biasanya dihargai mulai Rp 160 ribu. Untuk batik tulis mulai dari Rp 250 ribu per lembar.
Selain menerima pesanan di rumah, dia kerap menitipkan sejumlah produk batiknya di IKM Center, Hotel Wisata, hingga ruang pamer milik Dekranasda Jawa Tengah. Dia juga biasa menerima pesanan dari website dan Instagram miliknya.
Selama ini, Pemkot Magelang melalui DPPKUM selalu mendukung para pelaku UMKM, tak terkecuali dirinya. Iwing pun merasakan perbedaan setelah mendapat pembinaan oleh DPPKUM. "Kami di-support apa saja. Entah dari pelatihan, peralatan usaha, hingga strategi pemasaran. Bahkan kami pernah diajak studi banding ke daerah lain," bebernya. (aya/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita