Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jangan Lewatkan! Festival Bhumi Atsanti 2024 di Magelang Gandeng Ratusan Seniman, Ada dari Papua: Suguhkan Ragam Kesenian, Ini Rinciannya

Naila Nihayah • Kamis, 5 September 2024 | 19:02 WIB

 

PAPARAN: Ketua Yayasan Atsanti Foundation (kedua dari kiri) bersama Ketua Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe dan lainnya saat menjelaskan soal agenda Festival Bumi Atsanti, Rabu sore (4/9/2024).
PAPARAN: Ketua Yayasan Atsanti Foundation (kedua dari kiri) bersama Ketua Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe dan lainnya saat menjelaskan soal agenda Festival Bumi Atsanti, Rabu sore (4/9/2024).

MUNGKID - Festival Bhumi Atsanti (FBA) #3 tahun 2024 menghadirkan ratusan seniman penampil dari 18 kelompok kesenian.

Bertajuk Hayuning Roso, festival ini akan menyajikan bentuk-bentuk kesenian serta kebudayaan yang lebih beragam dibanding dua ajang sebelumnya.

Dalam dua kali penyelenggaraan sebelumnya, FBA banyak menampilkan pentas seni pertunjukan.

Sementara tahun ini, masyarakat bisa menikmati aneka sajian lain seperti happening art, live painting, hingga performance art dengan melibatkan seniman pelukis dan perupa di Magelang. 

Pentas tersebut akan ditampilkan selama 6-8 September. Nantinya akan dilakukan ‘jammin’, kolaborasi sejumlah seniman lintas daerah.

FBA juga akan disemarakkan dengan acara bazar yang tahun ini akan diikuti oleh 18 tenan dari para pelaku usaha di Magelang dan Yogyakarta.

Ketua pelaksana FBA 2024 Luisa Gita menuturkan, festival ini melibatkan 350 seniman dari 18 kelompok kesenian dari berbagai kota. Seperti Magelang, Yogyakarta, Cirebon, Bandung, hingga Papua.

Selain sebagai bentuk inovasi, ragam kesenian yang ditampilkan juga mengikuti antusiasme dan keinginan dari banyak seniman.

"Ide untuk menampilkan lebih banyak ragam kesenian kali ini, sengaja dilakukan untuk memberi kesempatan bagi banyak seniman dalam berbagai bidang kesenian, bisa ikut terlibat dan menampilkan karya mereka kepada publik," katanya, Rabu (4/9/2024) sore.

Tema yang diangkat kali ini mengandung makna keindahan atau kecantikan rasa yang didasari dari arti daripada seni dan budaya itu sendiri yang dilandasi oleh adanya rasa.

Semua tampilan dalam FBA ini, merupakan bagian dari upaya mempercantik rasa atau perasaan yang diwujudkan dengan pentas-pentas kesenian.

Ketua Yayasan Atma Nusvantara Jati (Atsanti Foundation) MF Nilo Wardhani menjelaskan, tema Hayuning Roso sengaja dipilih menyesuaikan dengan isu lingkungan.

Termasuk menggerakkan kepedulian terhadap lingkungan dan bumi serta sejalan dengan filosofi Jawa Memayu Hayuning Bawana.

"Lewat kegiatan berkesenian, pentas seni dan budaya, kami ingin menggugah siapa pun. Terutama generasi muda untuk lebih peka dengan isu-isu lingkungan hidup dan cara untuk berperilaku, lebih bersahabat dengan alam," ujarnya.

'Misi' itu kemudian diwujudkan dengan sengaja memilih dan melibatkan sejumlah pelaku seni. Yang memanfaatkan bahan-bahan alam atau barang bekas untuk berkesenian. Seperti halnya pentas musik blekothek dari SD Kanisius Kenalan Borobudur.

Menurutnya, pentas tersebut dirasa menarik karena objek dari pentas tersebut merupakan anak-anak SD.

"Musik yang dimainkan juga menggunakan barang bekas, seperti galon, kaleng, kayu, dan bambu," jelasnya.

Selain itu, pentas dari kelompok seniman dari Kamoro juga tak kalah unik. Karena pentas tersebut menampilkan para seniman dari Papua yang nantinya akan menari, memahat, dan membuat noken atau tas tradisional yang terbuat dari serat kayu.

Pendamping Pembelajaran Agraria dan IT di SD Kanisius Kenalan Fransiscus Xaverius Fri Harna menjelaskan, musik blekothek nantinya akan ditampilkan oleh anak-anak kelas 4, 5, dan 6.

Musik perkusi blekothek ini pertama kali dikenal dan dimainkan pada 2014 silam.

Dia menilai, pentas blekothek itu tergolong unik karena memanfaatkan barang bekas. Bahkan, kelompok musik tersebut sudah memenuhi permintaan 30 kali pentas.

"Kami juga sudah beberapa kali tampil di Yogyakarta," terangnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe Herman Kiripi menuturkan, kelompok seniman Kamoro sudah sering melakukan pentas di berbagai daerah. Termasuk ke mancanegara, seperti Swiss dan Brazil.

Sebelum tampil, kelompok seniman Kamoro biasanya terlebih dahulu melakukan ritual memanggil nenek moyang agar turut mendukung penampilan mereka.

"Jika ingin melihat ritual kami, maka penonton diharapkan dapat datang lebih awal sebelum kami pentas," tambahnya. (aya)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Seniman #Magelang #seniman dari Papua #Festival Bhumi Atsanti #barang bekas #Filosofi Jawa #Mungkid #Memayu Hayuning Bawana #pentas seni budaya