RADAR JOGJA - Target pemasangan kembali chattra Candi Borobudur pada September atau sebelum berakhirnya masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dinilai terlalu mepet. Masih harus menyusun studi teknis dan DED.
Asdep Koordinasi Memperteguh Kebhinekaan, Kemenko Polhukam Temmanengnga menyebut, ada kendala terkait rencana pemasangan chattra. Yakni soal studi teknis dan DED yang belum dilengkapi sebagai salah satu persyaratan izin untuk melakukan rekonstruksi pemasangan chattra.
Rencananya, chattra tersebut akan dipasang pada pertengahan September ini atau sebelum masa kepemimpinan Presiden Jokowi selesai. Dia tidak menampik, waktu yang tersedia memang cukup mepet. Namun, dia optimistis, chattra itu dapat segera dipasang kembali di stupa induk Candi Borobudur tepat waktu.
Baca Juga: Aziz-Mansyur Terima Rekomendasi dari Partai Hanura untuk Maju di Pilkada Kota Magelang, Partai Lain Beri Sinyal Mendukung
"Kami akan akselerasi bagaimana bisa memparalelkan studi teknis dan DED tersebut, termasuk rekonstruksinya," kata dia Kamis sore (8/8).
Kepala Sangha Theravada Indonesia Bante Sri Pannavaro Mahathera mendukung penuh pemasangan chattra tersebut. Dia menyebut, chattra itu semula memang sudah ada dan terpasang di stupa induk candi. Kemudian, diturunkan kembali.
Lantas, lanjut dia, tercetus ide untuk memasang kembali chattra pada 2014. Lalu, pada 2016, umat Buddha mulai menulis usulan tersebut kepada pengelola TWC. "Itu pertama kali dokumen tertulis permohonan nenaikkan chattra. Dasarnya, kami ingin mengembalikan chattra yang lama, bukan membuat yang baru," ucapnya.
Terlebih, BRIN sudah meneliti segala kemungkinan yang terjadi jika catra tersebut dipasang. Termasuk memberikan tiga alternatif rencana pemasangan chattra tersebut. Namun, umat Buddha rata-rata menyetujui alternatif kedua.